Peristiwa Nasional

Fenomena Suara Dentuman di Indonesia pada Awal 2021

Rabu, 03 Februari 2021 - 12:59 | 126.19k
Ilustrasi. Suara dentuman. (FOTO: Twitter/HumasBMKG)
Ilustrasi. Suara dentuman. (FOTO: Twitter/HumasBMKG)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sepanjang awal tahun 2021, fenomena suara dentuman telah terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Masyarakat melaporkan adanya suara dentuman yang terdengar di Lampung, Banten, Sukabumi, Surabaya, Bali, Majene, dan terbaru di Malang.

Sebelumnya, pada 11 Mei 2020, suara dentuman misterius terdengar oleh warga di sejumlah daerah di Jawa Tengah, mulai dari wilayah Pantura seperti Pati, hingga karesidenan Surakarta seperti Solo, Sragen, dan Boyolali.

Advertisement

Berikut catatan dari sejumlah daerah yang mendengar suara dentuman di sepanjang tahun 2021. 

Suara Dentuman di Bali

Fenomena suara dentuman misterius di Bali terdengar pada Minggu (24/1/2021) siang sekitar pukul 11.00 WITA. Menurut warga yang mendengar, dentuman mengeluarkan bunyi cukup keras sebanyak satu kali. Suara misterius itu menjadi viral di media sosial, dan menjadi pembahasan di warganet.

Merespons kejadian itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut dalam rilisnya, Senin (25/1/2021) bahwa ada kemungkinan kejadian benda jatuh antariksa.

Kejadian yang dimaksud oleh LAPAN, yang terjadi pada 24 Januari 2021 sekitar pukul 11.00 WITA. Dimana warga Buleleng, Bali, melaporkan adanya jejak cahaya di langit serta terdengar suara dentuman. 

Sementara Stasiun BMKG di Singaraja, Bali,  mendeteksi anomali getaran selama sekitar 20 detik mulai pukul 10.27 WITA. "Getaran tersebut memiliki intensitas sekitar 1,1 magnitudo," demikian dikutip dari kumparan.com.

Pandangan terhadap informasi suara dentuman di Buleleng, Bali juga disampaikan astronom yang juga peneliti madya LAPAN, Rhorom Priyatikanto. Ia mengatakan sistem pemantauan orbit.sains.lapan.go.id tidak menunjukkan adanya benda artifisial atau sampah antariksa yang diperkirakan melintas rendah atau jatuh di wilayah Indonesia.

Dentuman di Majene

Suara dentuman kembali terdengar di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat pada Selasa (26/1/2021). Warga di Desa Maliaya, Kecamatan Malunda, Majene melaporkan suara dentuman yang diduga berasal dari dasar laut.

Warga mendengar suara dentuman sebanyak dua kali. Pertama pada sekitar pukul 09.00 WITA. Kedua, terdengar pada sekitar pukul 18.00 WITA. Suara dentuman itu sempat membuat warga panik, dan mengungsi ke tempat lebih tinggi.

"Iya, memang betul itu ada suara dentuman kayak suara ban pecah dan suara gemuruh dari dalam tanah. Jadi warga pada panik dan lari ke atas gunung mengungsi," kata Masri, Kepala Desa Maliaya, dikutip kumparan.

Dentuman di Lampung

Selang dua hari dari kejadian di Majene, muncul suara dentuman di wilayah Lampung. Warga di Tanggamus, Lampung Utaram, dan Pringsewu mendengar suara dentuman pada Kamis (28/1/2021) sekitar pukul 22.00 WIB.

Gempa-Bumi---Adhitya.jpgIlustrasi. Alat pendeteksi gempa. (FOTO: dok. TIMES Indonesia)

Pihak BMKG merespons dengan menyatakan bahwa suara dentuman bukan disebabkan oleh aktivitas kegempaan.  

"Terkait suara dentuman dan getaran di wilayah Tanggamus, Lampung Utara, Pringsewu bahwa jam 10-an tadi, alat kami tidak mencatat adanya gempa bumi di wilayah Lampung maupun awan-awan hujan di sekitar lokasi tersebut," demikian BMKG Lampung menyampaikan melalui akun Instagram @infobmkglampung. 

Dentuman di Surabaya

Pada Sabtu (30/1/2021) suara dentuman terdengar di Surabaya, Jawa Timur. Dentuman sebanyak tiga kali terdengar oleh warga di pusat kota dan bagian utara.

Kali ini diketahui dentuman berasal dari acara penerimaan taruna-taruni AAL (Akademi Angkatan Laut). "Benar. Itu suara dentuman dari tradisi tahunan penyambutan penerimaan taruna-taruni AAL," ujar Kabag Ops Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Kompol Eko Nur Wahyudion.

Dentuman di Sukabumi

Masih di waktu yang sama, Sabtu (30/1/2021) terdengar suara dentuman di wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Suara dentuman yang terjadi malam hari sekitar pukul 19.00 WIB itu, disertai gemuruh. Warga merasakan getaran sebanyak dua kali.

Menanggapi informasi tentang dentuman itu, BMKG menyatakan pihaknya menangkap tanda terkait fenomena tersebut. 

Menurut keterangan Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG (Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika) Daryono, beberapa sensor seismik milik BMKG menunjukkan adanya anomali gelombang seismik saat muncul suara dentuman itu. 

"Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya anomali gelombang seismik saat warga melaporkan adanya suara gemuruh yang disertai bunyi dentuman," kata Daryono.

Ia menjelaskan, anomali seismik itu terlihat sebagai gelombang frekuensi rendah (low frekuensi). Dari sensor yang ditangkap, bentuk gelombang suara dentuman (waveform) seismiknya mirip rekaman saat longsoran atau gerakan tanah terjadi.

Daryono menambahkan,fenomena gerakan tanah kerap menimbulkan suara gemuruh bahkan dentuman yang dapat didengar.

Namun, kejadian suara dentuman itu masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Termasuk untuk mencari lokasi asal suara. 

Dentuman di Malang

Kejadian terbaru, suara dentuman berkali-kali muncul di Malang, Jawa Timur pada Selasa (2/2/2021) malam sekitar pukul 23.00 WIB hingga Rabu (3/2/2021) dini hari. Dentuman semakin mengecil frekuensi suaranya menjelang subuh.

Pihak BMKG memastikan tidak ada aktivitas kegempaan yang mengarah kepada terjadi suara dentuman misterius yang terjadi di Malang.

Gunung-Raung-6.jpgIlustrasi. Gunung erupsi. (FOTO: dok TIMES Indonesia)

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Mamuri, menjelaskan, dari catatan sensor BMKG di wilayah Malang, Tretes, dan Gedangan tidak menunjukkan peningkatan aktivitas gempa pada rentang waktu pukul 24.00 WIB hingga 03.00 WIB.

"Demikian pula dari data aktivitas sambaran petir juga tidak menunjukkan anomali peningkatan," katanya, Rabu (3/2/2021).

Masih dari BMKG, menurut laporan dari Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, tidak ada anomali seismik.

"Untuk teman-teman di Malang yang melaporkan pada pukul 00.50 WIB – 1.18 WIB dan pukul 03.00 WIB – 03.22 WIB mendengar suara dentuman misterius, ini catatan sensor BMKG di Pandaan (MLJI) tidak mencatat anomali seismik," cuitnya di akun twitter @DaryonoBMKG.

Ia menyatakan sumber suara dentuman bisa berasal dari banyak hal. Bisa shockwave meteorit, shockwave gunung api, shockwave pesawat supersonik, bahan peledak, longsoran tanah skala luas, gempa sangat dangkal, dan thunderstorm.

Sementara menurut pihak BPBD Kota Malang, suara dentuman yang terpantau itu tidak termasuk ciri-ciri letusan gunung.

"Kalau ini suaranya dem dem dem. Kayak suara meriam, dentuman gitu. Bukan karakter letusan gunung. Beda kalau letusan gunung ada gemuruhnya. Ini frekuensinya terus menerus. Sampai subuh tadi," ujar Operator Pusdalops BPBD Kota Malang, Mokhamad Aziz Wijaya.

Pihak berwenang mengimbau kepada masyarakat untuk tenang dan tidak panik merespons fenomena suara dentuman yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia pada awal tahun 2021 ini. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES