Kasus Covid-19 Banyuwangi Membludak, Ratusan Positif dan Seorang Nakes Meninggal

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Penyebaran Covid-19 di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur kembali merebak. Data dari Satgas setempat, saat ini ada sekitar 377 warga positif tertular virus Corona. Dalam waktu dekat ini ada 3 kasus kematian. Setelah sebelumnya klaster hajatan menelan korban, kini seorang tenaga kesehatan (nakes) dari klaster pukesmas juga meninggal dunia.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi mendata setidaknya ada 12 klaster aktif yang terdeteksi. Paling terbaru, dilaporkan telah muncul klaster pengemasan atau pembuatan peti buah dengan 48 warga yang terinfeksi.
Advertisement
Belasan klaster tersebut diantaranya; klaster hajatan Desa Wringinpitu, klaster hajatan Desa Sumbersari, klaster ziarah Desa Watukebo, klaster Walisongo Desa Blimbingsari, klaster keluarga di Kelurahan Kebalenan, klaster keluarga Desa Sumberjo dan Genteng, klaster Ponpes Desa Watukebo.
Selanjutnya, klaster Pukesmas Kecamatan Licin, klaster Pukesmas Desa Tegaldlimo dan Kedungwungu, klaster Puskesmas di Kecamatan Licin dan terakhir klaster pembuatan peti buah di Desa Glagahagung.
Satu Nakes Meninggal
Seorang wanita pejuang Covid-19 yang bertugas sebagai tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Licin, meninggal dunia. Sebelum meninggal, wanita berusia 39 tahun tersebut sempat menjalani perawatan secara intensif. Namun Ia tidak dapat tertolong karena kondisi yang semakin memburuk.
"Satu perawat perempuan dari Puskesmas meninggal dunia. Meninggalnya kemarin dan sudah dimakamkan dengan protokol kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono, Jumat (25/6/2021).
Menurut dr Rio, sejak dirujuk ke RSUD Blambangan, kondisi nakes tersebut sudah kritis karena mengalami penurunan saturasi oksigen. Ia pun harus dirawat di ICU Covid-19 untuk mendapatkan perawatan khusus. Hingga akhirnya virus sudah merambah ke bagian paru-paru dan kondisinya semakin memburuk.
Berdasarkan data Covid-19 Satgas setempat, pada bulan Juni 2021 ini dilaporkan ada sekitar 18 nakes yang terkonfirmasi positif. Keseluruhannya merupakan petugas yang melakukan tracing kepada masyarakat yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien Covid-19.
Bermula dari klaster hajatan, penularan Covid-19 pun merembet kepada petugas Puskesmas. Setidaknya ada 3 klaster Puskesmas di Banyuwangi yang masih aktif.
Klaster Pembuatan Peti Buah
Setelah sebelumnya klaster hajatan, kini muncul klaster baru di Banyuwangi. Jumlah yang dilaporkan pun cukup mengejutkan, setelah dilakukan tracing didapati ada sebanyak 48 warga terkonfirmasi positif.
Dinas Kesehatan pun menekankan, faktor kerumunan dan abainya masyarakat menggunakan masker menjadi pemicu utama penularan Covid-19. Seperti diketahui, setelah sejumlah izin kegiatan dilonggarkan, masyarakat dengan seenaknya sendiri menggelar kegiatan secara besar-besaran. Bahkan, tak jarang dari mereka yang menggelar kegiatan tanpa melalui proses evaluasi dari Satgas Kecamatan.
"Faktor kerumunan ini semakin menguatkan proses penularan. Sebab itu kami akan mengevaluasi lagi," katanya.
Saat ini, Satgas Kabupaten sedang gencar melakukan tracing dari masing-masing klaster. Hal ini terus dilakukan hingga tidak ada lagi temuan penambahan jumlah penularan Covid-19 di Banyuwangi.
Wajib 3M Meski Sudah Divaksin
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi mengingatkan, bahwa Covid-19 masih bisa menginfeksi masyarakat meskipun sudah mendapatkan vaksinasi. Namun demikian, risiko penularan ini dapat dikecilkan apabila masyarakat bersedia tetap menerapkan protokol 3M. Mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak aman atau menghindari kerumunan.
Bukti nyata, sebanyak 18 tenaga kesehatan yang tertular Covid-19 sebelumnya telah mendapatkan vaksinasi hingga genap 2 dosis. Menjadi petugas penanganan Covid-19 mengharuskan para nakes ini harus berani berkecimpung dengan para pasien. Meski sebagian berstatus positif tanpa menunjukkan gejala klinis, namun salah satu diantaranya telah meninggal dunia.
"Intinya adalah taat 3M dan vaksinasi. Kalau hanya salah satu saja masih kurang. Vaksinasi untuk menciptakan kekebalan sehingga menghambat penularan, protokol 3M untuk pencegahan penularan," jelas dr Rio.
Kapan Banyuwangi Terbebas Covid-19?
Data vaksinasi Covid-19 di Banyuwangi sudah menjangkau lebih dari 243 ribu masyarakat. Jumlah tersebut tergolong kecil jika dibandingkan dengan target seluruh populasi penduduk Banyuwangi yang mencapai 1,3 juta.
Dinas Kesehatan menyebutkan, jika vaksinasi sudah mencapai lebih dari 70 persen populasi maka memungkinkan akan terbentuk kekebalan secara masif (herd immunity). Tentunya, untuk memiliki herd immunity tersebut harus diimbangi dengan disiplin diri menerapkan protokol 3M.
"Nanti jika 70 persen populasi sudah divaksin, Insya Allah akan terbentuk herd immunity, kekebalan bersama. Memungkinkan saat itu sudah tidak ada lagi penularan," ujar dr Rio.
Oleh sebab itu, Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat Banyuwangi agar senantiasa menerapkan standar pencegahan penularan Covid-19. Hingga Covid-19 sudah musnah, masyarakat diminta untuk tetap memakai masker dan menjaga jarak dimanapun berada.
Dilansir dari portal informasi Covid-19 Pemkab Banyuwangi, sejauh ini ada total sebanyak 7.042 kasus Covid-19 dengan tingkat kesembuhan 5.956. Sebanyak 377 orang saat ini masih menjalani perawatan atau isolasi mandiri. Sejak wabah virus ini diumumkan, di Banyuwangi terdapat kasus kematian sejumlah 709 orang.
"Jangan malas terus disiplin diri. Pakai masker jaga jarak dan hindari kerumunan. Mohon kiranya masyarakat tidak mengabaikan protokol kesehatan ini. Demi keselamatan diri kita sendiri," kata dr Rio saat dikonfirmasi soal membludaknya kasus Covid-19 di Banyuwangi saat ini. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |
Publisher | : Sofyan Saqi Futaki |