Lawan Hoaks Vaksin Covid-19, Warga di Bondowoso Gunakan Pendekatan Agama

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Semenjak pemerintah menggelar vaksinasi, banyak hoaks yang dihembuskan terkait vaksin Covid-19. Mulai isu tentang vaksin yang mematikan, konspirasi dan sebagainya. Hal itu membuat warga menolak divaksin. Kondisi ini yang sedang dilawan oleh sejumlah warga di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, melalui pendekatan agama.
Upaya melawan hoaks ini diinisiasi oleh sejumlah warga yang tergabung dalam Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama di Kampung Haji, Desa Bataan, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.
Advertisement
Bersama tokoh masyarakat setempat, pengurus Anak Ranting NU melibatkan ulama, Satgas dan Dinas Kesehatan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya vaksinasi Covid-19.
Sementara untuk lebih memantapkan perlawanan terhadap hoaks. Pengurus NU setempat bersama sejumlah warga juga melakukan gerakan vaksinasi Covid-19 secara mandiri, Kamis (19/8/2021).
Panitia pelaksana awalnya menargetkan 50 sasaran. Justru yang datang lebih dari 200 orang. Tetapi karena ketersediaan vaksin hanya 206 dosis, maka yang terlayani sesuai sejumlah tersebut. Sehingga ada warga yang tidak kebagian.
Sementara berdasarkan data Kominfo pusat tentang hoaks Covid-19 di media sosial per Tanggal 19 Agustus 2021, total ada 1.994 kasus. Adapun hoaks tentang vaksin Covid-19 total ada 296 kasus.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Moh Syaeful Bahar mengatakan, vaksinasi yang diselenggarakan pemerintah sebenarnya sedang berlomba melawan hoaks kelompok yang anti vaksin.
"Awalnya kelompok anti vaksin mengatakan bahwa vaksin itu bisnis. Berikutnya dikembangkan isu, bahwa vaksin kepentingan Yahudi dan Komunis China," jelasnya.
Menurutnya, isu itu efektif bagi masyarakat di Indonesia yang literasi media sosialnya rendah. Oleh karenanya warga Kampung Haji pun bergerak untuk melawan itu.
"Makanya yang harus melawan hoaks itu adalah masyarakat sendiri. Kita tidak perlu menandingi apa yang mereka lakukan di media sosial. Tetapi langsung melaksanakan vaksinasi saja," jelas Wakil Ketua PCNU Bondowoso tersebut.
Vaksinasi Covid-19 di lingkungannya bisa efektif karena pihaknya menggunakan pendekatan agama. Yakni dengan menyebabkan foto para tokoh agama yang sudah menerima vaksin.
"Kita sebar foto Abd Qodir Syam (Ketua PCNU), Gus Baha', Kiai Junaidi (Rais Syuriah PCNU) dengan mengatakan, bahwa vaksin itu halal karena kiai sudah vaksin. Ini aman, karena kiai meminta kita untuk vaksin. Ternyata efektif," paparnya.
Menurutnya, tidak perlu menggunakan pendekatan struktural, apalagi pendekatan medis. Masyarakat pasti akan menolak karena sudah termakan hoaks.
Dosen UIN Sunan Ampel ini menilai, sebenarnya pendekatan agamalah yang efektif. Yakni dengan menyampaikan kepada masyarakat bahwa kiai sudah menerima vaksin Covid-19
"Di Sukorejo Kiai Azaim, Kiai Afifuddin, Paiton Gus Hamid dan Genggong Kiai Mutawakkil, semuanya sudah vaksin. Maka sangat efektif menghancurkan bangunan hoaks yang dibangun kelompok anti vaksin," jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, panitia penyelenggara juga mendekatkan vaksinasi dengan warga dan mempermudah urusan administrasi. Oleh karena itu, kegiatan dilaksanakan di lingkungan mereka tinggal.
"Biasanya vaksinasi kan di Puskesmas, rumah sakit dan Polres. Kalau masyarakat yang tidak biasa dengan urusan birokrasi maka jadi enggan. Kalau di rumah sendiri tak perlu meninggalkan pekerjaan. Kita juga ingin memutus rantai birokrasi itu," paparnya.
Dijelaskannya juga, demi menyukseskan vaksinasi dan menjadi bagian dalam mencegah penyebaran Covid-19, warga rela patungan. "Tadi malam saya dikabari panitia habis satu juta rupiah. Untuk sewa terop dan kursinya ini. Serta untuk konsumsi," jelasnya.
Pihaknya sangat mengapresiasi langkah warga tersebut. Apalagi kontribusi rakyat saat ini sangat dibutuhkan. Menurutnya, tidak boleh hanya mengandalkan negara, karena negara sudah kelimpungan menghadapi Pandemi Covid-19.
"Siapa pun yang bisa berkontribusi seperti ini. Saya yakin pandemi bisa dilalui dengan mudah. Apalagi semuanya terpanggil untuk menghadapi musibah ini," jelasnya.
Sebelum menggelar vaksinasi, panitia juga mengumpulkan para guru ngaji dan tokoh agama dalam rangka sosialisasi. Pihaknya juga melibatkan Dinas Kesehatan untuk meberikan pemahaman tentang vaksin. Termasuk tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) dari vaksin Covid-19.
"Ini yang menurut saya juga kegagalan negara. Mereka tidak bisa mengkomunikasikan dengan efektif tentang vaksin. Sehingga lebih dulu hoaks yang menguasai," paparnya.
Padahal seharusnya sejak awal dijelaskan, bahwa memang ada reaksi alami secara biologis atau KIPI setelah vaksin Covid-19. "Namun ini tidak sampai ke masyarakat atau tidak efektif sampai ke masyarakat, dan didahului oleh informasi hoaks," jelas Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso itu.
Pihaknya berharap, gerakan melawan hoaks tentang vaksin Covid-19 dengan pendekatan agama terus dilakukan oleh masyarakat. "Khususnya warga desa yang di Kabupaten Bondowoso," imbuhnya. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Ronny Wicaksono |
Publisher | : Ahmad Rizki Mubarok |