Dua Sapi Mati Akibat Banjir di Kota Malang, Warga Rugi Puluhan Juta Rupiah

TIMESINDONESIA, MALANG – Hujan lebat yang mengguyur Kota Malang dalam kurun waktu satu jam mengakibatkan sejumlah titik terendam banjir. Dari pantauan lapangan, setidaknya terdapat 12 titik yang terendam banjir dengan variasi volume air yang berbeda, mulai dari 15 centimeter hingga mencapai 1,5 meter.
12 titik tersebut, di antaranya mulai Jalan Veteran, Kawasan Bunulrejo hingga Purwantoro, Jalan Raya Sulfat, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Letjen Sutoyo, Jalan Ahmad Yani, Jalan Borobudur, Jalan Raya Sawojajar, Jalan Serayu, Jalan Kedawung, Jalan Kemirahan, dan Jalan Bungur.
Advertisement
Tak hanya merendam sejumlah kawasan di Kota Malang, banjir yang terjadi ternyata juga membuat dua ekor sapi milik warga Kampung Sanan RT 08 RW 15, Purwantoro, Kota Malang mati.
Dari informasi yang didapatkan, kedua ekor sapi potong yang mati tersebut, milik Ali dan Muhtar. Saat kejadian, total ada 21 ekor sapi lain di kandang sapi yang juga ikut tenggelam. Namun, hanya dua yang mati dan sisanya berhasil diselamatkan.
"Tadi banjir parah setinggi leher orang dewasa. Karena di sini kan wilayah bawah dan dekat sungai," ujar warga setempat, Ketang (61), Jumat (18/3/2022).
Pria yang juga tinggal tak jauh dari kandang sapi kolektif warga itu menyebutkan bahwa hujan mulai deras sejak pukul 16.00 WIB tadi.
Akibatnya, kawasan yang memang berada dekat dengan aliran sungai tersebut, terkena imbas air sungai yang meluap hingga menenggelamkan kandang sapi dan sejumlah rumah warga.
"Saat ke sana, sapinya pada teriak-teriak minta tolong kalau dia manusia. Banjir hari ini yang paling parah. Sejumlah rumah di RT sini juga banyak yang kena. Tingginya seperut orang dewasa," ungkapnya.
Perlu diketahui, kandang sapi kolektif milik warga setempat itu adalah lokasi sapi penggemukan untuk siap dipotong.
Sementara itu, pemilik sapi bernama Ali menuturkan bahwa dirinya kini merugi hingga Rp50 juta akibat banjir ini.
Itu belum lagi menghitung kerugian di rumahnya yang ikut tergenang banjir setinggi dada orang dewasa.
"Kandang saya di belakang rumah. Airnya meluap dan ikut masuk ke rumah, parah. Tapi ya gimana lagi, mungkin sedang dikasih musibah," tuturnya.
Diakuinya, banjir kali ini memang yang terparah.
Namun, setiap tahun di kawasannya memang sering kali terjadi banjir yang cukup besar saat hujan lebat datang.
"Tahun 2021 juga pernah banjir banget. Tapi yang sekarang (2022) ini paling parah mas. Sampai yang daerah yang rumah-rumahnya di atas (selatan lokasi kandang) itu kelelep (terendam air hujan)," tandasnya. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Dody Bayu Prasetyo |
Publisher | : Sofyan Saqi Futaki |