Peristiwa Daerah

Waspada! Ratusan Orang di Banyuwangi Terserang DBD, Sembilan Orang Meninggal Dunia

Selasa, 30 Agustus 2022 - 17:32 | 122.17k
Grafik kenaikan jumlah kasus demam berdarah dengue Kabupaten Banyuwangi. (Foto: Dinkes Banyuwangi)
Grafik kenaikan jumlah kasus demam berdarah dengue Kabupaten Banyuwangi. (Foto: Dinkes Banyuwangi)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Ratusan kasus demam berdarah dengue atau DBD ditemukan di kawasan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. 

Sepanjang tahun ini, Dinas Kesehatan Banyuwangi mencatat penderita penyakit DBD, periode Januari sampai 29 Agustus 2022, mortalitasnya sangat tinggi yakni sebanyak 378 kasus dan sembilan diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Advertisement

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat menyebut trend penyakit DBD sepanjang tahun 2022, ini kencenderungan meningkat, jika di bandingkan dari tahun 2021 lalu.

Perbandingan Kasus DBD sepanjnag tahun 2021 lalu, hanya ada 92 kasus. Sedangkan pada periode Januari sampai per 29 Agustus 2022 sudah mencapai 378 kasus.

"Tahun ini sudah ada sembilan orang yang meninggal akibat kasus peredaran nyamuk aedes aegypti, ini sangat berbahaya bagi masyarakat," paparnya, Selasa (30/8/2022).

Kepada TIMES Indonesia, Amir menegaskan agar masyarakat lebih waspada dan meningkatkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

"Cuaca hujan yang tidak menentu seperti saat ini, menjadi potensi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypt," ujarnya.

Ketika ada kasus positif nyamuk Aedes aegypti dalam lingkungan padat penduduk, bahkan sedikitnya dalam radius 100 meter harus di tangani secara khusus.

Jika di daerah itu ada yang positif, lanjut Amir, pihaknya sesegera mungkin terjunkkan tim untuk melakukan surveilans epidemiologi.

"Kita pastikan terlebih dahulu, apakah disekitarnya ada jentik positif yang berpotensi menjadi nyamuk dewasa. Jika ditemui, maka kita segera fogging untuk membunuh perkembangnya," jelasnya

Selain itu, pihaknya meminta masyarakat lebih aktif menerapkan pencegahan dan pengendalian nyamuk aedes aegypti dengan 3M,.

"Masyarakat bisa menutup penampungan air, menguras seminggu sekali, membuang dan mengubur sampah supaya tidak menjadi tampungan air hujan, karena cikal bakal perkembangan nyamuk aedes aegypti itu ada di situ," katanya.

Jika ada tempat penampungan air yang skala besar, maka cukup dengan memakai obat Abate yang kami sediakan secara gratis.

"Misalnya seperti di pesantren, kan tidak mungkin menguras tampungannya seminggu sekali. Maka cukup dengan memakai obat Abate saja. Kami sediakan gratis di seluruh Puskesmas sekabupaten," tandasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES