Keluarga Korban Tragedi Stadion Kanjuruhan Tuntut Keadilan

TIMESINDONESIA, MALANG – Devi Athok (43) masih merasa tak rela kedua putrinya bernama Nayla Deby Anggraeni (13) dan Natasya Deby Rahmadhani (16) harus meregang nyawa dalam tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu (1/10/2022) lalu.
Devi mengingat putrinya berpamitan untuk menonton pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya bersama mantan istri Devi dan Ayah tirinya.
Advertisement
Namun, putrinya yang berpamitan melalui pesan WhatsApp tersebut menjadi obrolan terakhir antara mereka bertiga.
Saat Devi mengetahui kedua putrinya dan juga mantan istrinya meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan, ia tak kuasa menahan kesedihan hingga pingsan bak habis diterpa ombak besar.
"Padahal sebelumnya sudah saya peringatkan untuk hati-hati. Saya itu gak nyangka, ternyata berangkat juga mereka nonton," ujar Devi, Rabu (19/10/2022).
Alasan Devi Mengajukan Autopsi
Kesedihan dan Amarah Devi pun memuncak saat tahu kalimat yang dilontarkan oleh Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo bahwa gas air mata bukan penyebab kematian ratusan suporter Aremania di tragedi Kanjuruhan.
"Polisi bilang kematian bukan gas air mata, tapi karena terinjak-injak. Sopo seng gak pegel (siapa yang gak marah). Kok segampang itu buat pembodohan masyarakat. Aku pegel (kesal) dan melawan dari situ," bebernya.
Padahal, Devi melihat sendiri bagaimana kedua putrinya mati secara tak wajar. Ia melihat, wajah dari kedua putrinya tersebut berwarna biru hingga hitam dengan ada darah dan busa keluar dari hidung dan mulutnya.
"Anak saya yang Natasya itu dari dada sampai ke atas (wajah) itu biru sampai hitam, keluar darah. Terus yang Nayla adiknya itu dari tenggorokan sampai ke atas (wajah) menghitam. Tidak ada luka sama sekali di badan, si Nayla di hidungnya keluar busa," ungkapnya.
"Waktu saya mandikan jenazah terakhir kalinya, tidak ada sama sekali dari bawah sampai atas gak ada luka lecet atau apapun dan memang dari itu keluar disini (mulut dan hidung) seperti racun," imbuhnya.
Devi Athok saat menunjukkan chat terakhirnya dengan almarhum putrinya. (Foto: Rizky Kurniawan Pratama/TIMES Indonesia)
Bahkan, lanjut Devi, saat ia memeluk dan mencium kedua putrinya, rasa sakit dan perih seperti terkena gas air mata sampai dirasakannya.
"Di bajunya itu baunya gak enak, menyengat. Sampai tujuh hari gatal-gatal muka saya, karena mencium dan memeluk mereka (kedua putrinya)," tuturnya.
Dari sinilah, Devi pun membulatkan tekat dan memberanikan diri untuk mengajukan autopsi.
"Mungkin kalau autopsi kemarin itu ingin mengetahui secara pasti kematian anak saya, karena di rumah sakit cuma di data dan langsung saya bawa pulang. Saya saja itu pingsan, dan kaget anak saya sudah dikuburkan di Wajak," katanya.
"Kematiannya ini kan gak wajar. Statement dari pihak kepolisian waktu itu katanya bukan gas air mata, makanya saya ingin tahu," imbuhnya.
Maju Mundur Kepastian Autopsi Jenazah Dua Putri Devi
Sebelumnya, Devi Mengajukan autopsi pada tanggal 10 Oktober 2022 lalu. Saat itu, secara kolektif Devi bersedia menjalankan autopsi untuk kedua jenazah putrinya.
"Saat itu kan ditanya, ya sudah saya mengajukan autopsi. Itu kan bilangnya awal masih kolektif, saya mau," tegasnya.
Namun, seiring waktu yang berjalan, tekat Devi pun runtuh untuk memperjuangkan kebenaran melalui autopsi kedua jenazah putrinya.
Selama satu pekan, Devi merasa tak mendapatkan dukungan dari siapapun atas apa yang diperjuangkan. Padahal, perjuangannya ini dilakukan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk seluruh warga Malang Raya.
"Kemana yang lainnya ? Kenapa tim dari KNPI dan teman-teman Aremania kok tidak ada yang membuat pengajuan autopsi, kemana ratusan korban lain. Kenapa cuma saya sendiri ? Itulah yang saya sesalkan sampai sekarang ini," ungkapnya.
Bahkan, saat ia didatangi oleh aparat kepolisian mulai dari Polres Malang, Polda Jatim hingga Mabes Polri, tak ada satupun yang mendampingi Devi.
Devi sampai mengajukam perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), tak ada respon dan tak ada dampingan hingga akhirnya per tanggal 17 Oktober 2022 lalu ia memutuskan mundur dari keinginan autopsi itu.
"Gak usah lah, dari pada nanti banyak kepentingan. Nanti saya malah jadi kelinci percobaan. Sudah jadi korban, kuburan di gali, gak ada kejelasan. Coba kalau korban lain ikut tergugah, kita berjuang bersama. Mohon keikhlasannya, jangan cuma saya," harapnya.
"Kalau memang mau autopsi, saya juga ikut ada yang saya tunjuk juga dokternya siapa. Kalau cuma polisi, gak usah wes," tegasnya.
Devi Athok: Jangan Hanya Gembar-Gembor Usut Tuntas
Devi menyayangkan sikap para korban dan masyarakat Malang termasuk Aremania lainnya yang pasif hingga saat ini.
"Kalau usut tuntas, kalau kalian berkorban hanya omongan saja, ya percuma. Ini lawannya negara. Saya mundur saja kalau sendiri," tegasnya.
Devi sejak awal sudah bersuara berulang-ulang kali untuk bisa berdiri bersama mencari keadilan dan berjuang. Nyatanya, apa yang dilakukannya untuk berjuang mencari keadilan, malah tak dapatkan dukungan.
"Pihak mana, tidak ada. Kalau satu komando, anak-anak Malang juga harus satu komando. Gak usah mengatasnamakan Aremania, bingung. Kalau saya sendiri, saya yang bonyok nanti," keluhnya.
Devi Butuh Anaknya Kembali, Bukan Santunan Materi
Devi mengakui telah mendapatkan santunan dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sebesar Rp50 juta. Tapi, bukan itu yang diharapkan oleh Devi.
"Itu Rp50 juta dapat waktu di RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar). Tapi ya gak apa-apa saya kembalikan Rp500 juta, pokoknya kembalikan (nyawa) anak saya," tegas Devi.
Devi Athok saat menunjuk foto kedua putrinya yang terpajang di ruang tamu rumahnya. (Foto: Rizky Kurniawan Pratama/TIMES Indonesia)
Devi merasa, berapapun bantuan yang ia dapat, tak bisa mengembalikan kebahagiannya saat berjuang mencari nafkah demi kedua putrinya.
Apalagi, putri Devi pun sempat berpesan kepada dirinya bahwa mereka ingin menjadi orang yang sukses atas bimbingan dan pembiayaan dari Devi. Hal itu sempat menjadi cita-cita dari kedua putri Devi.
"Wong aku nyambut gawe buat anak (aku bekerja untuk anakku). Berapa ? Seratus ? Dua ratus juta ? Buat apa ?. Saya kerja nyarikan mereka (kedua putrinya). Mereka ini minta dibiayai sampai jadi orang," tandasnya. (*)
KONTAK BANTUAN
Seburuk apapun masalah dan kondisi yang dialami oleh para korban dan keluarga korban Tragedi Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, tindakan emosional, berpikir negatif dan bahkan melakukan tindakan kriminal, bukanlah solusi yang baik. Jika para korban dan keluarga korban mengalami masa sulit, stres, trauma atau hampa dalam hidup seperti depresi, atau jika Anda memiliki keluarga atau kenalan yang mengalami kesulitan tersebut, segera hubungi hotline Pusat Layanan Psikososial bagi Korban dan Keluarga Korban Terdampak Tragedi Stadion Kanjuruhan dengan menghubungi: (0812 3257 5796). Tim Trauma Healing akan mendampingi Anda.
Layanan Trauma Healing ini menjadi pilihan Anda dan bisa meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan langsung bisa datang ke Posko yang sudah ada dan sudah disiapkan oleh tim yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Malang dan bekerja sama dengan banyak pihak. Atau bisa datang ke kantor TIMES Indonesia di TIMES SQUARE IJEN, Jl Besar Ijen No 90-92 Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, atau bisa klik link website ini: timesindonesia.co.id
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Imadudin Muhammad |
Publisher | : Sholihin Nur |