Bukan Kawah Ijen, Ini Gunung Tertua Hasil Letusan Gunung Ijen Purba

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Puluhan gugusan gunung yang ada di Ijen Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tidak semerta-merta ada. Semua melibatkan proses geologi yang panjang dan kompleks.
Saat ini kawasan Ijen melalui Ijen Geopark, masuk dalam keanggotaan UNESCO Global Geopark (UUG) sejak 2023 lalu. Hal itu tentu karena keunikan dengan alamnya yang purba.
Advertisement
Awalnya, sejumlah gugusan gunung di Ijen itu tidak ada. Saat itu yang ada hanya satu gunung tua yang dikenal dengan Gunung Ijen Purba. Ijen Purba memiliki ketinggian diperkirakan mencapai 3.500 Mdpl (meter di atas permukaan laut).
Diperkirakan Gunung Ijen Purba meletus pada 70.000 tahun lalu, karena memang terdapat dapur magma yang sangat besar dengan magma bersifat asam.
Proses di dalam magma menghasilkan banyak gas yang terkumpul di bagian atas dapur magma dan sangat banyak, sehingga tekanan juga sangat kuat yang dapat menghasilkan letusan super besar.
Kemudian letusan terjadi super dahsyat dengan kekuatan sangat besar. Mengakibatkan gelembung gas yang ada di bagian atas dapur magma ikut terletuskan yang ketika mengendap dan dikenal sebagai ‘batu apung’.
Letusan sangat besar hingga mengosongkan dapur magma. Letusan menghasilkan aliran piroklastik yang sebagian besar menuruni lereng utara. Aliran ini disebut ‘Ignimbrite’.
Setelah dapur magma kosong, retakan-retakan yang semakin rapuh menyebabkan atap dapur magma runtuh dan tubuh gunung ambles dan membentuk kaldera atau wajan. Di Kaldera ini, kini terdapat pemukiman penduduk Ijen.
Letusan gunung Ijen Purba ternyata juga melahirkan 22 anak gunung, baik yang ada di dalam maupun di dinding kaldera.
Ada sebanyak enam anak gunung api yang ada di dinding kaldera. Yakni gunung Suket, gunung Jampit, gunung Rante, gunung Ringgih, Gunung Pawenan dan Gunung Merapi.
Sementara ada 16 anak gunung api di dalam Kaldera. Diantaranya Gunung Blau, Papak, Gukusan, Widodaren, Geleman, Telaga Weru, Gending Waluh, Gunung Genteng, Kawah Wurung, Gunung Anyar, Gunung Pendil, Gunung Lingker, Mlaten, Pandean, Gunung Cemara dan Gunung Kawah Ijen.
Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Kabupaten Bondowoso, Tantri Raras Ayunintiyas menjelaskan, salah satu yang utama dalam Ijen Geopark adalah keberadaan Ijen Purba yang diperkirakan meletus 70.000 tahun lalu.
Selama proses letusan tersebut kata dia, akhirnya membentuk Kaldera Ijen Purba, sebuah kawasan di Ijen yang berbentuk wajan dan dikelilingi tebing kaldera. Sementara Kadera Ijen Purba ini hanya ada di Kabupaten Bondowoso.
Bahkan kata dia, Gunung Ijen yang saat ini terkenal adalah hasil letusan Gunung Ijen Purba. Letusan itu menghasilkan 22 anak gunung.
“Gunung Tertua adalah Gunung Blau yang sering kita kenal dengan kopi blue mountain. Kopi blue mountain ini adalah dari Blau dan gunung termudanya adalah Gunung Ijen sekarang dikenal Kawah Ijen,” kata dia.
Salah satu poin penting dalam keberadaan Ijen Geopark adalah konservasi alam. Dimana keberadaan alam di Ijen tidak dirusak, dan tetap dijaga keasrian dan keasliannya.
“Melalui Ijen Geopark ini kita sama-sama mengedukasi masyarakat agar ikut serta memelihara kekayaannya ekologi kita, khususnya di Ijen,” kata dia. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Ferry Agusta Satrio |
Publisher | : Ahmad Rizki Mubarok |