Advertisement
Kesehatan

Mengenal Hantavirus: Penyakit Langka di Balik Wabah Kapal Pesiar

Hantavirus jadi sorotan setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius. Kenali gejala, penularan, dan risiko penyakit langka ini menurut WHO.

TIMES Indonesia,
Mengenal Hantavirus: Penyakit Langka di Balik Wabah Kapal Pesiar
Kapal pesiar MV Hondius menjadi pusat wabah Hantavirus. WHO menyatakan kapal pesiar yang membawa 149 penumpang dari 23 negara tersebut dalam kondisi diisolasi saat ini dalam proses penanganan medis dan evakuasi.
A-AA+

JAKARTA Kasus wabah di kapal pesiar MV Hondius yang menewaskan tiga orang tidak hanya menjadi krisis kesehatan lintas negara, tetapi juga membuka perhatian publik terhadap satu penyakit yang relatif jarang dibahas: hantavirus. Di tengah isolasi laut dan keterbatasan fasilitas medis, penyakit ini menunjukkan bagaimana infeksi langka bisa berkembang cepat menjadi fatal.

Data terbaru dari World Health Organization (WHO) mencatat, hingga 4 Mei 2026 terdapat tujuh kasus terkait wabah di kapal tersebut, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima suspek. Dari jumlah itu, tiga pasien meninggal dunia, satu dalam kondisi kritis, dan lainnya menunjukkan gejala ringan hingga sedang.

Advertisement

Apa Itu Hantavirus?

Dikutip dari laman WHO, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis (ditularkan dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus dari genus Orthohantavirus. Sumber utama penularannya adalah hewan pengerat, terutama melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur yang terkontaminasi.

Dalam konteks wabah di kapal pesiar, faktor paparan masih ditelusuri. WHO menyebut, interaksi dengan lingkungan liar selama perjalanan, termasuk wilayah Antarktika dan pulau-pulau terpencil, bisa menjadi salah satu kemungkinan sumber paparan, meski belum ada kesimpulan final.

Gejala: Dari Demam hingga Gagal Napas

Hantavirus dikenal memiliki progresivitas penyakit yang cepat. Gejala awal biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, serta gangguan pencernaan seperti mual dan diare. Namun dalam beberapa kasus, kondisi dapat berkembang menjadi pneumonia berat, gangguan pernapasan akut (ARDS), hingga syok.

Advertisement

Pada kasus di MV Hondius, rentang waktu munculnya gejala berkisar antara 6 hingga 28 April 2026. Beberapa pasien mengalami perburukan kondisi hanya dalam hitungan hari, yang berujung pada kematian.

Secara klinis, kondisi ini dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru akibat hantavirus, yang memiliki tingkat kematian tinggi jika tidak ditangani secara cepat dan intensif.

Penularan: Umumnya dari Hewan, Jarang Antarmanusia

Mayoritas infeksi hantavirus terjadi akibat paparan lingkungan yang terkontaminasi oleh hewan pengerat. Aktivitas seperti membersihkan area yang terinfestasi tikus atau berada di wilayah dengan populasi rodent tinggi menjadi faktor risiko utama.

Meski demikian, WHO mencatat bahwa penularan antar manusia sangat jarang, tetapi pernah terjadi, terutama pada jenis virus tertentu seperti Andes virus di Amerika Selatan. Penularan ini umumnya terjadi dalam kontak sangat dekat dan intens, yang relevan dengan kondisi di kapal pesiar yang memiliki ruang terbatas dan interaksi tinggi antar penumpang.

Tingkat Kematian dan Keterbatasan Pengobatan

Secara global, hantavirus tergolong penyakit langka, namun memiliki tingkat fatalitas yang signifikan. Di kawasan Amerika, tingkat kematian bisa mencapai hingga 50 persen, sementara di Asia dan Eropa berkisar di bawah 15 persen.

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik untuk hantavirus. Penanganan lebih difokuskan pada perawatan suportif, terutama di fasilitas dengan unit perawatan intensif (ICU). Dalam konteks ini, keputusan evakuasi medis dari kapal pesiar menjadi krusial untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien.

Risiko Global Dinilai Rendah, Kewaspadaan Tetap Dijaga

Meski kasus di MV Hondius menarik perhatian internasional, WHO menilai risiko penyebaran ke populasi global masih rendah. Hal ini didasarkan pada karakteristik penularan yang terbatas dan respons cepat dari otoritas kesehatan berbagai negara.

Namun demikian, kasus ini menjadi pengingat penting bahwa mobilitas global, termasuk wisata kapal pesiar, tetap menyimpan potensi risiko epidemiologis, terutama ketika melibatkan perjalanan ke wilayah dengan ekosistem unik dan minim pengawasan kesehatan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia