Kopi TIMES

Tentang Menteri Agama Republik Indonesia

Di tengah terpaan beragam berita hoaks, Menteri Agama tetap berdiri tegap dengan wajah yang sejuk. Konsistensi dan komitmennya dalam melawan berita hoaks diucapkan langsung dan diuntai dari kata per kata, kalimat demi kalimat.

TIMES Indonesia,
Fathullah Syahrul
Fathullah Syahrul - Kopi Times
Tentang Menteri Agama Republik Indonesia
Fathullah Syahrul, Direktur Eksekutif Forum Strategis Pembangunan Sosial.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

JAKARTA “Jika kamu ingin membuat semua orang menyukaimu, jangan jadi pemimpin. Jualan ice cream saja,” Steve Jobs. Mungkin inilah penggalan kalimat yang pas untuk seorang Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Salah satu Menteri di Kabinet Merah Putih yang paling berpengaruh. Mari kita melihat data, berdasarkan Survei Versi INDOSTRATEGI tahun 2025 yang dirilis oleh detik.com Kementerian Agama berada di posisi kedua dengan skor 3,26 dari 10 Kementerian Terbaik di Indonesia.

Pada tahun 2026, 10 Kementerian dengan Kinerja Terbaik Versi Cyrus Network menempatkan Kementerian Agama di posisi kedua sebagai Lembaga/Kementerian dengan Popularitas Tertinggi. Data ini cukup menjadi bukti bahwa sejak Kementerian Agama dipimpin oleh Nasaruddin Umar telah banyak membawa dampak positif selama dua tahun terakhir.

Advertisement

Belum lagi penghargaan yang diraih dari tahun ke tahun. Sebut saja; Penghargaan TOP GPR Award 2025, Popular Government Institusions Award 2025, Badan Publik Terfavorit 2025, TOP GPR Figure Award 2025, Penghargaan Penyusunan Buku Keagamaan Antikorupsi 2025. Pada tahun 2026, Menteri Agama menerima Penghargaan Golden Leader sebagai Penggerak Ekonomi Nasional Berbasis Pesantren, Penghargaan Tokoh Kerukunan Umat Beragama.

Penulis tak perlu menuliskan tentang figur Nasaruddin Umar, cukup publik dapat membaca dan melihat. Namun yang pasti kehadiran seorang Nasaruddin Umar di panggung birokrasi membawa dampak positif bagi keberlangsungan tata kelola pemerintahan.

Namun, sebagai seorang Menteri tentu banyak menghadapi banyak cobaan dan tantangan yang tak lekang oleh waktu. Salah satu yang hendak diujicobakan adalah tantangan berita hoaks yang disematkan pada dirinya. Secara bertubi-tubi, dari tahun ke tahun seiring sejalan dengan raihan penghargaan dan prestasi pun bayangan kebohongan, disinformasi, misinformasi dan hoaks senantiasa mengikuti.

Bayangan-bayangan itu mengikutinya sejak pertama kali ia dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Agama Periode 2024-2029. Bayangan itu mengikuti setiap hentakkan kakinya, merekam setiap ucapan-ucapannya. Bayangan hoaks mengintainya, bayangan itu mencari-cari celah, mencari-cari kesalahan, bayangan itu mencari bahan tayang yang bisa dijadikan konten framing jahat di media sosial.

Bayangan itu pun menghasilkan konten framing jahat yang kemudian muncul dipermukaan publik jagad maya. Misalnya, pada tanggal 28 Januari 2026 Menteri Agama dituding datang langsung ke kediaman Ustadz Gus Soleh Pati Jawa Tengah, berita tentang Kementerian Agama Resmikan Bantuan Dana Hibah Dari Arab Saudi, berita pembentukan rekening kas Masjid yang nanti dikelola oleh Pemerintah, Kementerian Agama menegaskan dunia adalah surga yang nyata yang bisa kita rasakan dan nikmati sebelum kematian, soal hubungan badan jika suka sama suka itu bagian dari iman dan Kementerian Agama menegaskan, “Pencabulan 50 santri di Pati bukan kejahatan agama melainkan nafsu manusiawi.

Advertisement

Berita dan pernyataan yang penulis uraikan di atas adalah sebuah bukti nyata bagaimana bayangan-bayangan kejahatan itu bekerja. Bagaimana kejujuran raup oleh kebohongan, bagaimana fakta dikaburkan demi viewers, like dan komentar. Ini perlu kita sadari bersama sebab, kebebasan bukan yang sebebas-bebasnya, ini perlu kita putus.

Kebohongan dan kejahatan yang berulang-ulang itu akan berubah menjadi sebuah kebenaran/keyakinan dan salah satu tempat yang paling disenangi kebohongan/hoaks adalah di media sosial. Mari kita bijak dalam ber-media sosial, jika itu benar katakan, jika itu salah katakan, jangan yang benar di salah-salahkan dan jangan yang salah di benar-benarkan.

Memaafkan dan Melawan Hoaks

Selama dua tahun terakhir, dalam kepemimpinan Prabowo-Gibran mungkin Nasaruddin Umar adalah Menteri yang sering meminta maaf. Meskipun permohonan maafnya seringkali menuai reaksi baru dan mengakumulasi serangan baru. Namun bukan tanpa alasan, permohonan maaf itu bukan tanda orang kalah atau lemah melainkan sebuah bentuk kecintaan. Itulah yang tengah dilakukan oleh Menteri Agama bahwa nilai kepemimpinan itu dengan kata "maaf" adalah sebuah bentuk kecintaan.

Pepi Albayqunie dalam tulisannya (Maaf Sebagai Jalan Pemimpin: 2025) menyebutkan, kita hidup di era yang penuh dengan polarisasi, di mana perbedaan kata bisa menjadi bara perpecahan. Media sosial memperbesar luka, membelokkan makna, dan sering menciptakan makna baru yang jauh dari maksud awal pembicara. Dalam situasi seperti ini, maaf bisa menjadi jembatan yang menyatukan.

Artinya, di tengah hiruk pikuk era disrupsi dimana sebuah makna bisa berubah tergantung sang penerima, makna bisa dibelokkan sehingga membentuk makna baru. Pernyataan awal bisa berubah menjadi kesimpulan, yang berorientasi pada kesimpulan semata dan sesaat. Pepi Albayqunie melanjutkan, justru di situlah letak kemuliaan seorang pemimpin: bukan pada kekerasan kata-kata, tetapi pada kelembutan hati yang berani mengucapkan kata “maaf”.

Di tengah terpaan beragam berita hoaks, Menteri Agama tetap berdiri tegap dengan wajah yang sejuk. Konsistensi dan komitmennya dalam melawan berita hoaks diucapkan langsung dan diuntai dari kata per kata, kalimat demi kalimat. Ia mengatakan, “saya mengajak kepada masyarakat untuk lebih hati-hati, menerima informasi jangan mudah terpancing mari kita menjaga ruang digital kita agar tetap sehat dan tabayyun, etika tanggungjawab bersama, saring sebelum sharing”.

Pernyataan tersebut membuktikan Nasaruddin Umar adalah pemimpin yang senantiasa menjalankan dan menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kepemimpinan. Ia adalah Leadership Role Model. Ia adalah pemimpin; pemimpin jamaah, pemimpin ummat, pemimpin bangsa, pemimpin birokrasi dan pemimpin Negara. Yah, ini tentang Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

***

*) Oleh : Fathullah Syahrul, Direktur Eksekutif Forum Strategis Pembangunan Sosial.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia