Advertisement
Kopi TIMES

Anak Tumbuh dengan Pendidikan Seni

Pendidikan seni bukan pelengkap kurikulum. Ia adalah salah satu jalan paling manusiawi untuk membantu anak tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berani, peka, dan utuh.

TIMES Indonesia,
Khusnatul Mawadah
Khusnatul Mawadah - Kopi Times
Anak Tumbuh dengan Pendidikan Seni
Khusnatul Mawaddah, Pendidik asal Bojonegoro dan Penulis Aktif Sejak 2019.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

BOJONEGORO Ada sesuatu yang ajaib terjadi di Aula At-Taqwa Mojokampung setiap Selasa dan Kamis pagi. Belasan anak usia lima dan enam tahun berbaris di belakang drum, snare, dan marching bell, stik di tangan, mata berbinar.

Mereka menunggu aba-aba pelatih dengan serius serius versi anak-anak, yang artinya penuh semangat dan siap berteriak kegirangan kapan saja. Siapa sangka, dari ruangan itu lahir perubahan yang tidak hanya terasa dalam hal musik.

Advertisement

Sebelum program ini dimulai, ada kegelisahan yang cukup dirasakan para guru. Anak-anak di kelas mudah bosan, sulit diajak fokus lebih dari lima menit, dan kurang antusias ketika diperkenalkan dengan kegiatan membaca atau berhitung.

Beberapa anak cenderung menyendiri, enggan tampil di depan teman-temannya, dan belum terbiasa bekerja dalam kelompok. Bukan karena anak-anak itu bermasalah. Mereka hanya belum menemukan pintu masuk yang tepat menuju dunia belajar.

Maka sekolah mencoba sesuatu yang berbeda: drumband. Bukan sekadar kegiatan seni pengisi jadwal, melainkan sebuah pendekatan yang percaya bahwa ritme bisa menjadi jembatan menuju banyak hal lain.

Setiap sesi dimulai dengan pemanasan tepuk tangan dan hentakan kaki mengikuti irama. Pelatih memperkenalkan pola ritme sederhana, anak-anak meniru, lalu perlahan mulai memainkannya sendiri dengan alat musik masing-masing. Sesi ditutup dengan waktu eksplorasi bebas, di mana setiap anak boleh memukul, mencoba, dan bereksperimen sesuka hati.

Pendekatannya tidak menuntut kesempurnaan teknis. Tidak ada anak yang dimarahi karena memukul di waktu yang salah. Yang diutamakan adalah kesenangan dan keberanian untuk ikut serta. Dari sana, segalanya berkembang sendiri. Setelah tiga bulan, perubahan yang terjadi cukup mengejutkan bahkan bagi guru-guru yang sudah memantau dari awal.

Advertisement

Konsentrasi anak meningkat drastis. Yang tadinya hanya bisa duduk tenang selama lima sampai tujuh menit, kini mampu fokus hingga dua puluh menit ketika latihan berlangsung. Dan yang lebih menarik, kemampuan fokus itu terbawa ke kelas. Seorang guru bercerita, "Sekarang kalau saya bacakan buku cerita, mereka bisa duduk tenang sampai selesai. Dulu tidak bisa."

Minat terhadap simbol juga tumbuh dari arah yang tidak terduga. Ketika anak-anak diperkenalkan dengan notasi sederhana berupa gambar garis dan lingkaran yang mewakili ketukan, mereka malah penasaran.

Salah satu anak bertanya, "Bu, ini huruf apa? Kok bunyinya beda?" Pertanyaan kecil itu menyimpan sesuatu yang besar: anak mulai menyadari bahwa simbol bisa punya makna dan bunyi. Itulah fondasi membaca.

Kosakata mereka juga bertambah dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak yang dulunya hanya tahu "keras" dan "pelan" kini fasih menyebut forte, piano, tempo, ritme. Bahkan ada yang menegur temannya, "Kamu mainnya jangan cepat-cepat, nanti temponya kacau!" Mereka bukan sekadar menghafal kata mereka memahami konsep di baliknya.

Kepercayaan diri pun tumbuh dengan cara yang mengharukan. Di minggu-minggu awal, ada anak yang menangis ketika diminta memegang stik. Tiga bulan kemudian, anak yang sama tampil memukul drum di depan ratusan orang dalam acara pelepasan TK dan tersenyum lebar.

Ini bukan kebetulan. Ada alasan yang cukup dalam mengapa ritme musik punya kekuatan seperti ini pada anak usia dini.

Otak anak yang belajar memproses ritme sedang melatih area yang sama yang kelak akan digunakan untuk membaca. Pola ketukan dalam musik tidak jauh berbeda dengan pola suku kata dalam bahasa keduanya menuntut otak untuk menangkap urutan, jeda, dan irama. Anak yang terbiasa "membaca" pola ritme akan lebih siap ketika dihadapkan pada pola huruf dan kata.

Selain itu, drumband adalah aktivitas yang menuntut seluruh tubuh bekerja bersama: tangan memukul, telinga mendengar, mata menatap pelatih, dan pikiran menghitung ketukan. Ketika semua itu terjadi sekaligus, otak mendapat stimulasi yang jauh lebih kaya dibanding duduk diam mendengarkan penjelasan.

Dan karena drumband adalah permainan kelompok, anak-anak belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan lewat buku: kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Jika satu orang salah ketukan, semuanya kacau. Maka muncul rasa tanggung jawab, kesabaran untuk menunggu giliran, dan kepekaan terhadap teman keterampilan sosial yang akan menemani mereka jauh melewati masa kanak-kanak.

Kegiatan drumband di TK At-Taqwa bukan untuk mencetak musisi cilik. Tidak ada target tampil di panggung besar atau memenangkan lomba. Tujuannya jauh lebih sederhana dan sekaligus jauh lebih dalam: memberi anak-anak sebuah pengalaman di mana mereka merasa mampu, merasa didengar, dan merasa bahwa belajar itu menyenangkan.

Dan dari pengalaman itulah, segalanya mulai terbuka. Anak yang percaya dirinya bisa memukul drum dengan irama yang benar akan lebih berani mencoba hal-hal lain termasuk membaca, berhitung, dan mengutarakan pikirannya di depan banyak orang.

Ini bukan soal drum. Ini soal bagaimana anak menemukan versi terbaik dirinya, satu ketukan dalam satu waktu. Pendidikan seni bukan pelengkap kurikulum. Ia adalah salah satu jalan paling manusiawi untuk membantu anak tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berani, peka, dan utuh.

***

*) Oleh : Khusnatul Mawaddah, Pendidik asal Bojonegoro dan Penulis Aktif Sejak 2019. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia