Kopi TIMES

Manipulasi Riset

Ketika pengakuan dikejar dengan mengorbankan kebenaran, yang hilang bukan hanya integritas seorang peneliti, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

TIMES Indonesia,
Mahmud Aditya Rifqi
Mahmud Aditya Rifqi - Kopi Times
Manipulasi Riset
Mahmud Aditya Rifqi, Dosen.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SURABAYA Akhir-akhir ini publik kembali disuguhi berita dugaan kecurangan akademik. Beberapa akademisi diduga menghadiri konfrensi internasional dengan membawa data yang dipertanyakan kebenarannya. Selain itu, ada dugaan motif falsifikasi data, kebohongan identitas hingga pencatutan nama institusi. Berselang hanya dalam 1 minggu terakhir, 2 kelompok terindikasi.

Hal ini tentu membuat publik tercengang. Dunia pendidikan yang selama ini dinilai sebagai kumpulan orang-orang berintegritas baik, ternyata menunjukkan antitesanya. Fenomena ini tak hanya mencoreng nama individu, namun menyeret nama besar kampus, komunitas, bangsa hinga komunitas ilmiah global.

Advertisement

Bagi sebagian orang, kasus ini mungkin saja dianggap pelanggaran etika biasa. Namun jika dicermati lebih jauh, terdapat persoalan yang lebih mendasar. Kecurangan akademik ini menunjukkan adanya gejala pergeseran orientasi dalam dunia pendidikan, dari pencarian kebenaran menuju pencarian pengakuan.

Pengakuan tentu memiliki nilai yang sangat tinggi. Rekognisi internasional tentu dapat membuka berbagai peluang, mulai dari kolaborasi penelitian, grant perjalanan, hibah kompetitif, undangan konferensi ilmiah, hingga kesempatan mengikuti program akademik di berbagai negara. Semua itu merupakan hal yang penting menunjukkan gengsi akademis.

Masalah muncul ketika pengakuan tersebut sudah berubah makna, kebenaran ilmiah dikesampingkan, sementara ambisi individu menjadi yang utama. Dalam hal ini, penting untuk mendorong komunitas ilmiah memberikan respons yang seimbang. Karena jika hal ini dibiarkan, kedepan bisa dipastikan petaka-petaka lainnya akan datang.

Mengejar Pengakuan

Dunia pendidikan mempunyai tanggung jawab yang besar. Pada pundaknya, ditumpangkan harapan-harapan menghasil pengetahuan baru. Data dikumpulkan untuk mendapatkan bukti ilmiah, sebagai dasar keputusan-keputusan kedepan. Data bagaikan emas, yang dicari, disulang dan dibersihkan sebaik mungkin, agar tetap murni dan berharga. Untuk mendapatkan kemurnian, tentu banyak tantangan yang tidak mudah.

Advertisement

Tidak semua penelitian berhasil mulus menghasilkan temuan spektakuler. Banyak penelitian yang menghasilkan data biasa-biasa saja, tidak signifikan secara statistik bahkan bertentangan dengan hipotesis awal. Dalam ekosistem akademik yang sehat, apapun data tetaplah berharga. Hasil tetap memiliki nilai karena membantu memperkaya pemahaman dan mencegah pengulangan kesalahan yang sama. Salah lebih mulia dibanding bohong.

Namun dalam praktiknya, godaan untuk menghasilkan temuan yang fantastis sering kali begitu besar. Data dibelokkan menyesuaikan harapan dan skenario peneliti. Data yang tidak sesuai harapan diperbaiki, hasil yang kurang menarik dipoles, dan analisis yang lemah dipresentasikan seolah-olah sebagai temuan penting. Dalam kasus yang lebih ekstrem, data bahkan dapat direkayasa atau dibuat sama sekali.

Hal ini mungkin terhajadi karena ‘pengakuan’ dipandang sebagai satu-satunya gengsi akademik. Keterlibatan dalam konfrensi ilmiah tidak lagi dimaknai sebagai upaya kontribusi terhadap pengetahuan, melainkan tiket untuk mendapat pengakuan. Pengakuan yang berbonus jalan-jalan hingga menikmati dunia luar dengan cuma-cuma.

Terkikisnya Kebenaran

Strategi culas ini tentu sangat berbahaya. Dampak manipulasi riset jauh lebih besar daripada sekadar pencabutan travel grant atau rusaknya reputasi individu. Yang dipertaruhkan sesungguhnya adalah kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketika praktik manipulasi akademik yang awalnya dianggap penyimpangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa karena terus berulang dan jarang memperoleh kecaman yang setimpal.

Masyarakat menerima rekomendasi ilmiah karena percaya bahwa rekomendasi tersebut didasarkan pada bukti yang dapat dipercaya. Ketika bukti tersebut ternyata dibangun di atas data yang dimanipulasi, maka kepercayaan publik ikut terkikis.

Dalam bidang kesehatan, misalnya, data yang tidak akurat dapat memengaruhi keputusan klinis maupun kebijakan kesehatan masyarakat. Kesalahan bukti ilmiah dapat berujung pada intervensi yang tidak efektif. Penelitian yang tidak valid dapat melahirkan kebijakan yang keliru dan berdampak pada jutaan masyarakat. Kerugian terbesar bukan hanya pada satu artikel atau satu peneliti. Kerugiannya adalah munculnya keraguan terhadap kredibilitas sains secara keseluruhan.

Karena itu, menjaga integritas penelitian bukan semata-mata persoalan kepatuhan terhadap aturan etik. Integritas merupakan fondasi yang membuat ilmu pengetahuan layak dipercaya. Tanpa kejujuran, publikasi hanya menjadi kumpulan tulisan. Tanpa integritas, data hanya menjadi angka yang kehilangan makna. Dunia akademik tidak membutuhkan peneliti yang selalu menghasilkan temuan sempurna. Sebaliknya, dunia akademik membutuhkan peneliti yang berani melaporkan fakta apa adanya, termasuk ketika hasil penelitiannya tidak sesuai harapan.

Reputasi akademik sebuah bangsa tidak dibangun dari banyaknya artikel yang terbit atau banyaknya perjalanan ilmiah ke luar negeri. Reputasi tersebut dibangun dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang dihasilkan lahir dari proses yang jujur. Sebab ketika pengakuan dikejar dengan mengorbankan kebenaran, yang hilang bukan hanya integritas seorang peneliti, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Ketika kebohongan ilmiah semakin sering ditemukan, sensitivitas moral terhadapnya perlahan menurun. Yang dahulu dianggap skandal besar, kini kadang hanya menjadi bahan diskusi sesaat sebelum akhirnya dilupakan. Pelajarannya, ekosistem sains harus merespons dengan keras. Ini bahaya besar, kita tidak boleh apatis dan permisif. Sebelum terlambat dan berlarut-larut.

***

*) Oleh : Mahmud Aditya Rifqi, Dosen.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia