Kopi TIMES

Pendidikan Terbaik untuk Anak

Memberi yang terbaik berarti menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka, memberi ruang untuk bertumbuh, dan menghadirkan cinta yang memungkinkan potensi mereka berkembang sepenuhnya.

TIMES Indonesia,
Hafid Abbas
Hafid Abbas - Kopi Times
Pendidikan Terbaik untuk Anak
Hafid Abbas, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

JAKARTA Ada kalanya pelajaran paling berharga tentang pendidikan tidak ditemukan di ruang seminar, jurnal ilmiah, atau ruang kuliah. Ia justru hadir dalam keseharian, saat seorang anak bermain, bertanya, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Dari sanalah sering kali tampak bagaimana potensi manusia tumbuh secara alami ketika diberi ruang, kepercayaan, dan kasih sayang.

Pengamatan terhadap seorang anak bernama Khanza, yang tampaknya baru berusia sekitar delapan atau sembilan tahun, memberikan gambaran menarik tentang proses tersebut. Pada usia yang masih sangat belia, ia menunjukkan kombinasi yang tidak selalu mudah ditemukan sekaligus: rasa ingin tahu yang kuat, kemampuan menghubungkan berbagai konsep, kreativitas, serta ketekunan dalam menekuni sesuatu yang menarik perhatiannya.

Advertisement

Pada suatu hari, Khanza tampak sangat sibuk dengan telepon genggamnya. Sekilas, aktivitas itu terlihat seperti permainan biasa. Namun setelah diamati lebih jauh, ternyata ia sedang menyusun bendera seluruh negara di dunia. Yang menarik, bendera-bendera tersebut tidak ia susun secara acak. Ia membangun sistem tata letak berdasarkan huruf awal nama negara: Australia untuk A, Brunei untuk B, Canada untuk C, dan seterusnya.

Aktivitas sederhana itu memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar hafalan nama negara. Di sana terdapat kemampuan mengelompokkan, menghubungkan, dan membangun pola. Khanza tidak sekadar mengingat informasi, melainkan mengolahnya menjadi struktur baru yang memiliki makna menurut logikanya sendiri.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, kemampuan semacam ini menarik untuk dicermati. Jean Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif anak berlangsung melalui tahapan tertentu. Kemampuan menghubungkan berbagai simbol dan konsep abstrak biasanya berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit anak yang menunjukkan kemampuan tersebut lebih awal ketika mereka berada dalam lingkungan yang kaya stimulasi dan memberi ruang eksplorasi.

Hal yang sama tampak ketika Khanza bereksperimen membuat minuman sehat berupa infused water. Dengan penuh semangat, ia memadukan potongan buah, daun seledri, dan berbagai bahan lain yang menurut pemahamannya bermanfaat bagi kesehatan. Bagi sebagian orang dewasa, aktivitas itu mungkin terlihat sederhana. Namun sesungguhnya, di baliknya terdapat proses berpikir ilmiah yang sangat penting: mengamati, mencoba, menggabungkan variabel, lalu menarik kesimpulan.

Inilah yang oleh para ahli pendidikan disebut sebagai scientific curiosity—dorongan alami untuk memahami dunia melalui pengamatan dan percobaan. Kemampuan ini merupakan fondasi penting bagi lahirnya inovasi, kreativitas, dan kecakapan memecahkan masalah pada masa depan.

Advertisement

Yang menarik, rasa ingin tahu semacam itu sesungguhnya dimiliki hampir semua anak. Mereka lahir dengan kecenderungan untuk bertanya, menyentuh, membongkar, menyusun, menangis, atau tertawa ketika berusaha memahami lingkungan di sekitarnya. Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa sebagian anak mampu mempertahankan rasa ingin tahu itu, sementara sebagian lainnya perlahan kehilangan semangat belajar?

Pertanyaan ini pernah menjadi perhatian utama John Holt, seorang guru sekolah dasar sekaligus pemikir pendidikan asal Amerika Serikat. Dalam bukunya How Children Fail, Holt mengemukakan gagasan yang hingga kini tetap relevan. Menurutnya, banyak anak gagal di sekolah bukan karena mereka kurang cerdas, melainkan karena sistem pendidikan sering kali membuat mereka takut melakukan kesalahan.

Holt mengamati bahwa anak-anak pada dasarnya memiliki keinginan kuat untuk belajar. Namun ketika pembelajaran terlalu berpusat pada nilai, ujian, dan hukuman atas kesalahan, mereka mulai belajar untuk mencari jawaban yang aman, bukan jawaban yang kreatif. Mereka menjadi lebih sibuk menghindari kegagalan daripada mengejar pemahaman.

Pandangan Holt memberi perspektif penting terhadap pengamatan atas anak-anak seperti Khanza. Ketika seorang anak diberi kesempatan mengeksplorasi minatnya sendiri, ia tidak belajar karena terpaksa. Ia belajar karena ingin tahu. Dorongan intrinsik inilah yang menjadi energi terbesar dan kegembiraan terdalam dalam proses pembelajaran.

Khanza menikmati kegiatan menulis, menggambar, dan menciptakan berbagai karya yang lahir dari imajinasinya. Beberapa karyanya bahkan telah memperoleh penghargaan dan diabadikan di Perpustakaan Nasional pada tahun 2025. Namun pencapaian itu bukanlah hal terpenting. Yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya kecintaan terhadap proses belajar itu sendiri.

Di sinilah letak pelajaran besar bagi dunia pendidikan kita. Fokus utama seharusnya bukan semata-mata menghasilkan anak yang memperoleh nilai tinggi, melainkan membantu mereka mempertahankan rasa ingin tahu yang telah mereka miliki sejak lahir.

Pemikiran serupa dapat ditemukan dalam renungan Gabriela Mistral, penyair asal Chile penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1945. Selain dikenal sebagai sastrawan besar, Mistral juga merupakan seorang pendidik yang sangat mencintai dunia anak.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah puisi berjudul His Name Is Today. Puisi tersebut mengandung pesan mendalam tentang pentingnya memberikan perhatian terbaik kepada anak-anak pada saat ini juga, bukan nanti.

Mistral menulis: “Many things we need can wait. The child cannot. Right now is the time his bones are being formed, his blood is being made, and his senses are being developed. To him we cannot answer ‘Tomorrow’. His name is today.”

Artinya: banyak hal dalam hidup dapat menunggu, tetapi anak tidak dapat menunggu. Saat inilah tulangnya sedang dibentuk, darahnya sedang diciptakan, dan pancainderanya sedang berkembang. Kepadanya kita tidak bisa berkata “besok”. Namanya adalah hari ini.

Puisi itu mengingatkan kita bahwa masa kanak-kanak bukanlah ruang tunggu menuju masa depan. Masa kanak-kanak adalah kehidupan itu sendiri. Setiap hari yang dijalani seorang anak adalah masa yang menentukan pembentukan karakter, kepercayaan diri, kecerdasan, dan kemanusiaannya.

Karena itu, pendidikan terbaik bukanlah pendidikan yang semata-mata berorientasi pada hasil akhir. Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang menghargai proses tumbuh seorang anak dari hari ke hari.

Pemikiran Mistral menemukan gaung yang kuat dalam filosofi Maria Montessori. Ia pernah berkata, “Free the child’s potential, and you will transform him into the world.” Bebaskan potensi anak, maka engkau akan membantu mengubah dunia.

Kalimat ini mengandung makna yang sangat mendalam. Montessori tidak berbicara tentang menciptakan anak yang sempurna, sebab tidak ada manusia yang sempurna. Ia berbicara tentang membebaskan potensi yang sudah ada dalam diri setiap anak. Ketika anak diberi kesempatan untuk berpikir, bertanya, mencoba, berkarya, bahkan melakukan kesalahan, mereka akan berkembang menjadi pribadi yang utuh.

Pengamatan terhadap Khanza menunjukkan bahwa potensi luar biasa sering kali tumbuh dari aktivitas yang tampak sederhana. Sebuah susunan bendera, eksperimen membuat minuman sehat, gambar yang dibuat dengan penuh imajinasi, atau pertanyaan-pertanyaan yang muncul tanpa henti, sesungguhnya merupakan tanda bahwa proses belajar sedang berlangsung secara alami.

Tugas orang dewasa bukanlah mengendalikan seluruh proses itu, melainkan menyediakan lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan fisik maupun psikologis, kaya pengalaman, dan penuh cinta serta pelukan kasih sayang. Sebab, sebagaimana diyakini John Holt, Gabriela Mistral, dan Maria Montessori, anak-anak berkembang paling baik ketika mereka merasa dihargai, dipercaya, dan tumbuh dalam dekapan cinta.

Memberi yang terbaik kepada anak bukan berarti memberikan segala sesuatu yang mahal, mewah, atau semua yang mereka inginkan. Memberi yang terbaik berarti menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka, memberi ruang untuk bertumbuh, dan menghadirkan cinta yang memungkinkan potensi mereka berkembang sepenuhnya.

Sebab masa depan sesungguhnya sedang tumbuh hari ini, dalam diri setiap anak yang sedang belajar memahami dunianya. Dan seperti diingatkan Gabriela Mistral, namanya bukan besok. Namanya adalah hari ini. Semoga Khanza, dan anak-anak lain di seluruh dunia, pada waktunya kelak mampu seperti burung elang: berani terbang tinggi menembus cakrawala dan ketebalan awan, meski kadang harus melintasi langit seorang diri.

***

*) Oleh : Hafid Abbas, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia