Waspada! Fenomena Bediding di Banyuwangi Bikin Anabul Rentan Terserang Penyakit
Fenomena bediding yang membuat suhu udara di Banyuwangi terasa lebih dingin ternyata tidak hanya berdampak pada manusia.
Banyuwangi – Fenomena bediding yang membuat suhu udara di Banyuwangi terasa lebih dingin ternyata tidak hanya berdampak pada manusia. Di balik udara sejuk yang dirasakan warga, ancaman penyakit juga mengintai hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.
Kondisi udara dingin dan lembap saat musim kemarau dapat menurunkan daya tahan tubuh hewan. Akibatnya, berbagai penyakit lebih mudah menyerang, mulai dari gangguan pernapasan hingga masalah pencernaan.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jatim IV Banyuwangi, drh. Risa Isna Fahziar, mengatakan bahwa salah satu penyakit yang kerap muncul saat fenomena bediding adalah flu kucing yang disebabkan oleh Feline Herpesvirus.
Menurutnya, virus tersebut memiliki karakteristik khusus karena dapat menetap dalam tubuh kucing yang pernah terinfeksi. Saat kondisi tubuh hewan menurun, gejalanya bisa kembali muncul dan berpotensi menular ke kucing lain.
“Penularannya cukup cepat, terutama jika beberapa kucing berada dalam satu ruangan. Ketika ada satu yang sakit dan daya tahan tubuhnya turun, risiko penyebaran ke kucing lain menjadi lebih besar,” kata Risa, Selasa (2/6/2026).
Risa menyebut, gejala yang umum terlihat antara lain mata berair atau bengkak, demam, bersin-bersin, hingga berkurangnya nafsu makan. Pada anjing, kondisi serupa juga bisa muncul ketika cuaca dingin berlangsung dalam waktu cukup lama.
Dijelaskan Risa, meskipun penyakit tersebut tidak selalu berakibat fatal secara langsung, dampak lanjutannya juga perlu diwaspadai. Hewan yang kehilangan nafsu makan dalam waktu lama dapat mengalami penurunan kondisi fisik dan lebih mudah terserang penyakit lain.
“Ketika asupan makan berkurang, tubuh hewan menjadi lemah. Pada anak kucing, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius,” jelas owner petshop Sahabat Satwa Genteng itu.
Tak hanya sistem pernapasan, suhu dingin juga berpengaruh terhadap sistem pencernaan. Anak kucing dan anak anjing membutuhkan suhu tubuh yang stabil agar proses pencernaan berjalan optimal. Jika kondisi lingkungan terlalu dingin, risiko muntah, diare, hingga kembung menjadi lebih tinggi.
Karena itu, Risa meminta pemilik hewan peliharaan agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anabul di rumah. Hewan yang biasanya aktif namun tiba-tiba lesu, sering bersin, atau enggan makan sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan dari dokter hewan.
“Selain pengobatan, langkah pencegahan juga penting dilakukan. Hewan yang menunjukkan gejala sakit sebaiknya dipisahkan sementara dari hewan lain untuk mengurangi risiko penularan,” tuturnya.
Fenomena bediding memang menjadi bagian dari siklus musim kemarau yang rutin terjadi setiap tahun. Namun di balik udara sejuk yang dirasakan manusia, terdapat ancaman kesehatan yang bisa mengintai hewan peliharaan.
Dengan perhatian dan penanganan yang tepat, risiko penyakit akibat cuaca dingin dapat diminimalkan sehingga anabul tetap sehat dan aktif selama musim bediding berlangsung. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


