Advertisement
Kopi TIMES

Kemampuan Membaca Bahasa Simbolik di Era Digital

Peradaban manusia dibangun bukan hanya atas fakta literal. Ia dibangun atas cerita, puisi, alegori, metafora, dan satire, semua bentuk bahasa simbolik. Bendera hanyalah selembar kain jika simbolnya tidak dipahami. 

TIMES Indonesia,
Apri Damai Sagita Krissandi
Apri Damai Sagita Krissandi - Kopi Times
Kemampuan Membaca Bahasa Simbolik di Era Digital
Apri Damai Sagita Krissandi, Dosen Universitas Sanata Dharma.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SLEMAN "Luar biasa. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini benar-benar revolusioner. Akhirnya persoalan pendidikan, kemiskinan, kesehatan, pengangguran, ketimpangan sosial, dan masa depan bangsa bisa selesai hanya dengan satu porsi makan siang."

Kolom komentar langsung ramai: "Wah, ada pendukung pemerintah nih." "Ini pasti buzzer, dibayar berapa sama pemerintah?" "Orang ini sok tahu, sok membela programnya."

Advertisement

Beberapa orang mencoba menjelaskan: "Mas, ini satire lho. Maksudnya program ini tidak mungkin menyelesaikan semua masalah hanya dengan satu porsi makan siang." "Dia sedang mengkritik optimisme berlebihan, bukan memuji program."

Tetap saja, sebagian besar pembaca tidak menangkap maksud simbolik. Mereka membaca kata “revolusioner” secara literal dan langsung menuduh penulis sebagai pendukung atau buzzer pemerintah. Reaksi spontan muncul, padahal semua komentar itu merespons teks yang sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar politik atau opini, melainkan kemampuan masyarakat memahami bahasa simbolik.

Bahasa simbolik, menurut Jerome Bruner, adalah representasi yang menggunakan kata, konsep, metafora, ironi, dan simbol untuk menyampaikan makna yang tidak hadir secara langsung. Manusia juga memahami dunia melalui mode lain: enaktif (berbasis tindakan dan reaksi langsung) dan ikonik (berbasis visual atau gambar). Di era digital, enaktif dan ikonik sering mendominasi. Orang bereaksi cepat terhadap kata atau gambar tanpa membaca lapisan makna yang lebih dalam.

Media sosial menjadi laboratorium nyata fenomena ini. Satire harus dijelaskan, ironi harus diberi tanda, metafora harus diberi konteks. Bahkan setelah dijelaskan, sebagian orang tetap membaca literal, menuduh, dan membuat asumsi yang tidak benar. Dengan kata lain, konflik digital modern bukan semata perbedaan gagasan, melainkan perbedaan kemampuan membaca bahasa. Satu pihak berbicara simbolik, pihak lain membaca literal, dan ruang publik dipenuhi reaksi spontan yang miskin makna.

Kehilangan kemampuan simbolik berdampak lebih luas daripada sekadar salah paham dalam komentar online. Dari perspektif psikologi, kemampuan membaca simbolik berperan dalam mengelola emosi dan berpikir abstrak. Orang yang mampu menangkap ironi, satire, atau metafora dapat menunda reaksi impulsif, memahami konteks, dan merespons dengan pertimbangan. Mereka yang hanya membaca literal lebih mudah tersulut emosi dan konflik sosial.

Advertisement

Dalam aspek sosial, dominasi komunikasi literal membuat ruang publik dangkal. Informasi dibaca secara permukaan, interpretasi yang membutuhkan refleksi diabaikan. Orang menjadi lebih mudah tersinggung, perdebatan publik cepat memanas, dan kesalahpahaman menyebar. Sedangkan kemampuan simbolik memungkinkan manusia memahami konteks, niat, dan implikasi, sehingga komunikasi menjadi lebih kaya, halus, dan produktif.

Dampaknya juga terasa pada kognisi. Bahasa simbolik adalah fondasi berpikir abstrak dan kritis. Konsep seperti keadilan, demokrasi, tanggung jawab, atau etika tidak bisa ditangkap hanya melalui fakta literal. Tanpa simbolik, masyarakat menjadi lebih mudah menerima narasi hitam-putih, slogan instan, dan solusi sederhana untuk persoalan kompleks. Pemikiran abstrak melemah, refleksi berkurang, dan kreativitas pun terhambat.

Fenomena komentar MBG adalah ilustrasi yang menggelitik namun serius. Orang bisa melihat kata “revolusioner” dan daftar masalah bangsa, namun gagal menangkap ironi di baliknya. Seolah mereka membaca kata-kata, tetapi tidak membaca maknanya. Mereka melihat simbol, tetapi tidak memahami apa yang disimbolkan. Ini mengingatkan pada pengunjung museum yang menilai lukisan modern hanya sebagai coretan cat, teknis benar, tetapi makna hilang.

Ironisnya, teknologi yang seharusnya mempermudah komunikasi justru memperkuat budaya literal. Algoritma menekankan reaksi cepat, keterlibatan instan, dan respons spontan. Makna lapis kedua atau ketiga dari bahasa simbolik sering kalah cepat dibanding reaksi enaktif. Akibatnya, banyak pesan yang seharusnya menyampaikan kritik halus, satire, atau refleksi, malah disalahartikan, memicu tuduhan, dan menciptakan konflik yang tidak perlu.

Peradaban manusia dibangun bukan hanya atas fakta literal. Ia dibangun atas cerita, puisi, alegori, metafora, dan satire, semua bentuk bahasa simbolik. Bendera hanyalah selembar kain jika simbolnya tidak dipahami. Lagu kebangsaan hanyalah nada jika maknanya diabaikan. Kata-kata hanyalah bunyi jika kemampuan simbolik hilang.

Tantangan masyarakat modern bukan sekadar kelebihan informasi, tetapi kekurangan pemahaman simbolik. Tanpa simbolik, setiap sindiran menjadi penghinaan, setiap kritik menjadi serangan, dan setiap perbedaan dianggap permusuhan. Komunikasi berubah menjadi sekadar pertukaran reaksi. Cepat, ramai, viral, tetapi miskin makna.

Jika masyarakat ingin kembali membangun komunikasi yang sehat, produktif, dan reflektif, kemampuan memahami bahasa simbolik harus dipulihkan. Karena pada akhirnya, berbahasa bukan sekadar menyampaikan kata, tetapi memaknai dunia dan manusia di dalamnya.

***

*) Oleh : Apri Damai Sagita Krissandi, Dosen Universitas Sanata Dharma.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia