Advertisement
Peristiwa Internasional

Trump Klaim Kapasitas Rudal Iran Tinggal 22 Persen, Konflik Timur Tengah Memanas

Donald Trump mengklaim kemampuan rudal Iran tinggal sekitar 22 persen setelah serangan AS-Israel. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat di tengah mandeknya perundingan damai.

TIMES Indonesia,
Trump Klaim Kapasitas Rudal Iran Tinggal 22 Persen, Konflik Timur Tengah Memanas
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membagikan foto-foto Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln yang berlayar di Laut Arab. (ANTARA)
A-AA+

JAKARTA Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang lebih berisiko. Di tengah mandeknya upaya diplomasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa sebagian besar kemampuan produksi rudal dan pesawat nirawak Iran telah berhasil dilumpuhkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam cuplikan wawancara dengan NBC News yang dirilis Jumat (5/6/2026). Menurutnya, Iran kini hanya memiliki sekitar 21 hingga 22 persen dari persediaan rudal yang dimiliki sebelum serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dilancarkan.

Advertisement

"Sebagian besar pabrik drone telah dilumpuhkan, sebagian besar landasan peluncuran telah dilumpuhkan, dan sebagian besar wilayah produksi misil telah dilumpuhkan," kata Trump.

Meski demikian, Trump mengakui Teheran masih memiliki kemampuan militer yang cukup signifikan.

"Mereka masih punya rudal, begitu pula drone. Kalau berdasarkan persentase, mungkin 21-22 persen dari rudal mereka. Masih banyak, tetapi tak sebanyak saat kami dahulu menyerang mereka," ujarnya.

Trump Sebut Iran Masih Bersikap Sombong

Ketika ditanya alasan Iran belum menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026, Trump menilai pemerintah Iran masih mempertahankan sikap keras.

"Mereka sombong dan ada hal-hal yang mereka pikir tak akan mereka lakukan, tetapi pada akhirnya harus mereka lakukan. Mereka tak punya pilihan dan ini perlu waktu," katanya.

Advertisement

Trump juga menanggapi kritik terkait kegagalannya menghasilkan kesepakatan yang lebih baik setelah menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir Iran pada masa jabatan pertamanya.

"Orang-orang tersebut sudah berperang selama 47 tahun," ujar Trump.

AS Cegat Rudal Iran di Kawasan Teluk

Di tengah meningkatnya ketegangan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah mencegat sejumlah rudal balistik dan pesawat nirawak yang diluncurkan Iran menuju kawasan Teluk.

Menurut keterangan resmi CENTCOM, tujuh rudal balistik ditembakkan Iran ke arah Kuwait dan Bahrain pada 5 Juni. Sebelumnya, militer AS juga mengklaim berhasil menembak jatuh empat drone Iran yang mengarah ke Selat Hormuz.

"Drone serang tersebut menimbulkan ancaman nyata terhadap lalu lintas maritim kawasan," demikian pernyataan CENTCOM.

Sebagai respons, pasukan Amerika melancarkan serangan terhadap fasilitas radar dan pengawasan rudal Iran di wilayah pesisir Goruk serta Pulau Qeshm.

Berdasarkan penilaian awal, enam dari tujuh rudal yang diluncurkan Iran berhasil dicegat, sementara satu rudal lainnya gagal mencapai target.

CENTCOM juga membantah klaim Teheran yang menyebut serangan Iran berhasil merusak markas Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain.

Gencatan Senjata Belum Membuahkan Perdamaian

Konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel pecah sejak 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan kedua negara tersebut menyasar sejumlah lokasi strategis di Iran, termasuk Teheran. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa dari kalangan sipil.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Pada 7 April 2026, Washington dan Teheran sepakat melakukan gencatan senjata guna membuka jalan bagi perundingan damai. Namun hingga kini, negosiasi yang berlangsung di Islamabad belum menghasilkan terobosan berarti.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi tantangan besar. Di saat yang sama, meningkatnya aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz juga menambah kekhawatiran dunia terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Widodo Irianto
PenulisWidodo IriantoPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia