Advertisement
Sosok

Lewat 'Beyond The Veil', Putri Azura Dorong Optimalisasi Potensi Perempuan

Azura, 2nd Runner Up Putri Hijabfluencer Lampung 2026, menggagas gerakan “Beyond The Veil” untuk memberdayakan perempuan mengatasi insecurity dan berani menampilkan potensi terbaik.

TIMES Indonesia,
Lewat 'Beyond The Veil', Putri Azura Dorong Optimalisasi Potensi Perempuan
Momen Putri Azura Krisna Wijayanti saat meraih gelar sarjana di Universitas Lampung. (FOTO: Azura for TIMES Indonesia)
A-AA+

BANDAR LAMPUNG Langkah kaki perempuan bernama lengkap Putri Azura Krisna Wijayanti tampak mantap saat melangkah di atas panggung pemilihan regional beberapa waktu lalu. 

Gadis cantik berusia 23 tahun yang akrab disapa Azura ini baru saja menorehkan prestasi gemilang sebagai peraih selempang 2nd Runner Up Putri Hijabfluencer Lampung 2026. 

Advertisement

Keberhasilan tersebut bukan sekadar kemenangan pribadi, melainkan sebuah babak baru bagi anak pertama ini untuk menyuarakan sebuah gagasan besar yang telah lama ia rawat.

Sebagai seorang lulusan baru atau fresh graduate Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Lampung, Azura memahami betul bagaimana sebuah pesan harus disampaikan agar mampu menyentuh hati masyarakat. 

Dia memilih memanfaatkan latar belakang keilmuan serta profesinya saat ini sebagai seorang content creator untuk meluncurkan sebuah gerakan perubahan. 

Di sela kesibukannya, gadis asal Kota Metro yang memiliki hobi travelling ini juga aktif membagikan berbagai kegiatan dan inspirasi positif melalui akun Instagram pribadinya @putriazura02

"Melalui wadah komunikasi digital tersebut, saya menginisiasi sebuah gerakan advokasi yang diberi nama dengan Beyond The Veil," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (6/6/2026).

Advertisement

Sebuah gagasan pemberdayaan perempuan yang menitikberatkan pada keberanian untuk mengenali, menerima, dan memunculkan potensi terbaik yang ada di dalam diri setiap individu.

Makna di Balik Simbol Tirai

Bagi Azura, nama gerakan yang diusungnya memiliki arti filosofis yang mendalam dan tidak terbatas pada selembar kain. Kata veil dalam gerakan ini tidak diartikan sebagai hijab atau penutup kepala secara literal, melainkan sebuah simbol abstrak. 

Menurutnya, tirai tersebut adalah representasi dari rasa takut, rasa tidak aman atau insecurity, keraguan pada diri sendiri, hingga tekanan sosial yang kerap memaksa perempuan menyembunyikan kemampuan terbaik mereka.

Putri Azura Krisna Wijayanti - 1
2nd Runner Up Putri Hijabfluencer Lampung 2026, Putri Azura Krisna Wijayanti. (FOTO: Azura for TIMES Indonesia)

"Melalui Beyond The Veil, saya ingin mengajak perempuan untuk lebih percaya pada dirinya sendiri dan berani berkembang tanpa takut terhadap penilaian orang lain," ucap Azura menjelaskan esensi dari gerakan tersebut.

Dalam hal ini lebih lanjut dirinya menambahkan bahwa perempuan sering kali membatasi ruang geraknya sendiri karena terbelenggu oleh standar eksternal. 

"Oleh karena itu, gerakan ini hadir sebagai pengingat bahwa batasan-batasan emosional tersebut harus segera ditembus agar perempuan bisa melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas," tambahnya.

Menembus Ruang Digital hingga Panti Asuhan

Kemudian gerakan ini tidak berhenti pada tataran konsep semata, melainkan diwujudkan dalam serangkaian aksi nyata yang menyasar berbagai lapisan masyarakat khususnya generasi muda. 

Azura secara konsisten menjalankan kampanye digital melalui media sosial yang berfokus pada tema kepercayaan diri serta pemberdayaan perempuan. Langkah ini dirasa sangat efektif mengingat sebagian besar waktu generasi muda saat ini dihabiskan dalam ekosistem digital.

Tidak hanya mengandalkan interaksi di dunia maya, program ini juga menyentuh ranah luring atau offline melalui kunjungan langsung ke lapangan. 

Lebih jauh gadis yang gemar menjelajah tempat-tempat baru ini kerap menggelar sesi berbagi atau sharing session ke sejumlah sekolah dan kampus untuk memotivasi para pelajar perempuan. 

Selain itu, ia juga mengadakan kegiatan pemberdayaan khusus bersama anak-anak perempuan di panti asuhan guna memberikan dukungan moral dan pembekalan mental sejak dini.

"Peluang besar dari advokasi ini menurut saya cukup karena isu mengenai insecurity, self confidence, dan fear of judgment sangat dekat dengan kehidupan perempuan saat ini, terutama di era media sosial," ungkapnya

Secara khusus ia melihat banyak perempuan sebenarnya menyimpan potensi luar biasa, namun masih tertahan oleh ketiadaan keberanian untuk menunjukkannya ke publik.

Tantangan Standar Sosial Media

Meski memiliki peluang yang luas, jalan yang ditempuh Azura bukan tanpa hambatan. Platform digital sering kali menciptakan ilusi kesempurnaan yang justru memicu kecemasan baru bagi penggunanya.

Tantangan terbesar yang ia hadapi saat ini adalah bagaimana membangun kesadaran kolektif agar perempuan tidak terus-menerus membandingkan diri mereka dengan standar semu yang bertebaran di media sosial. 

Tantangan lainnya adalah menciptakan sebuah ruang yang aman dan nyaman agar perempuan merasa divalidasi ketika mulai membuka diri. Ia sadar bahwa untuk menumbuhkan rasa percaya pada kemampuan diri sendiri, seorang perempuan membutuhkan lingkungan yang tidak menghakimi.

Beruntung, langkah visioner ini mendapat sambutan hangat dari lingkungan terdekat sang inisiator. Azura mengaku bersyukur karena mendapatkan dukungan yang sangat baik dari orang tua, teman-teman, dan lingkungan sekitar yang menjadi alasan utamanya untuk terus melangkah sejauh ini. 

"Bagi saya tentunya dukungan sekecil apa pun sangat berarti karena ketika seseorang merasa dipercaya, motivasi untuk berkembang akan berlipat ganda," tuturnya sembari tersenyum manis.

Membangun Ekosistem yang Saling Menguatkan

Menatap masa depan, Azura berharap advokasi Beyond The Veil yang selama ini digaungkan tidak sekadar menjadi sebuah kampanye musiman di media sosial yang mudah terlupakan. 

Ia bermimpi agar gerakan ini bertransformasi menjadi sebuah ruang permanen yang secara nyata membantu perempuan muda untuk tumbuh, berkembang, dan memahami nilai serta kesempatan setara yang mereka miliki.

"Saya yakin perempuan tidak diciptakan untuk terus bersembunyi di balik rasa takutnya, tapi perempuan diciptakan untuk tumbuh, bersinar, dan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri," tambah Azura dengan penuh optimisme.

Melalui pesan penutupnya, ia mengajak generasi muda untuk berhenti hidup di bawah bayang-bayang ketakutan akan penilaian orang lain. 

Media sosial, menurut pandangan komunikasi Azura, harus dikembalikan fungsinya sebagai ruang produktif untuk menyebarkan hal positif, bukan tempat saling menjatuhkan. 

"Dengan tumbuhnya gerakan ini, diharapkan akan tercipta sebuah ekosistem perempuan yang lebih suportif, positif, dan saling menguatkan satu sama lain," tandasnya menutup penyampaian.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wandi Ruswannur
PenulisWandi RuswannurSarjana Hukum STAI Al-Azhary Cianjur Bergabung bersama TIMES Indonesia sejak 2024. Meliput berbagai topik, termasuk pemerintahan, politik, hukum, olahraga, life style, seni-budaya, pendidikan dan lingkungan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia