Benchmark RSI Pati ke RSI NU Demak, Wujud ARSINU Perkuat Sinergi Tingkatkan Mutu Layanan Rumah Sakit
ARSINU dorong kolaborasi RS NU lewat benchmark RSI Pati ke RSI NU Demak untuk tingkatkan mutu layanan, tata kelola, kinerja keuangan, dan penguatan SDM berbasis nilai pelayanan Islami.
JOMBANG – Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU) terus mendorong penguatan kolaborasi antar rumah sakit di bawah naungannya.
Salah satunya melalui kegiatan benchmark dan sharing session yang dilakukan manajemen RSI Pati ke RSI NU Demak sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan, tata kelola organisasi, serta kinerja keuangan rumah sakit.
Ketua Umum ARSINU, H.M. Zulfikar As'ad atau yang akrab disapa Gus Ufik, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, budaya saling berbagi pengalaman dan pengetahuan merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas pelayanan kesehatan di lingkungan rumah sakit NU.
"Kegiatan seperti ini merupakan wujud sinergi antar rumah sakit di lingkungan ARSINU untuk saling berbagi pengalaman, meningkatkan mutu pelayanan, memperkuat tata kelola organisasi dan klinis (good governance dan good clinical), sekaligus mendorong kinerja serta keberlanjutan rumah sakit," ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026).
Gus Ufik berharap program benchmark dan pertukaran pengalaman tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan rumah sakit Islam NU di berbagai daerah.
"Saya berharap kegiatan seperti ini terus berjalan. Bahkan tidak hanya sesama anggota ARSINU, tetapi juga bisa diperluas dengan jaringan dan asosiasi rumah sakit lainnya," ungkap pria yang juga Rektor Unipdu Jombang tersebut.
Kunjungan RSI Pati ke RSI NU Demak dipimpin langsung oleh Direktur RSI Pati, H. Bunari, M.Kes, bersama jajaran manajemen. Agenda utama kegiatan adalah sharing session dan in-house training dengan tema Peningkatan Peran Human Capital Management (HCM), Farmasi, Casemix, dan Keuangan dalam Meningkatkan Financial Performance Rumah Sakit.
Direktur RSI NU Demak, dr. H. Abdul Aziz, menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, sesama rumah sakit di bawah naungan ARSINU perlu saling belajar dan berkembang bersama demi meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
"Knowledge is power. Ilmu akan menjadi kekuatan apabila diamalkan dan diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur RSI Pati, H. Bunari, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi sarana untuk ngangsu kaweruh atau menimba pengalaman terkait tata kelola rumah sakit yang telah diterapkan di RSI NU Demak agar dapat diadaptasi di RSI Pati.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Yayasan Hasyim Asy'ari Demak, KH. Muhammad Aminuddin, Wakil Ketua Yayasan Drs. KH. Sa'dullah Fattah, M.Ag, serta jajaran pengelola RSI NU Demak.
Dalam kesempatan itu dijelaskan bahwa RSI NU Demak lahir dari semangat dan gotong royong warga Nahdliyin. Berawal dari Rumah Bersalin dan Balai Pengobatan NU Demak yang dirintis pada 1987 dan diresmikan pada 1991, lembaga tersebut kemudian berkembang menjadi RSI NU Demak pada tahun 2001 di bawah pengelolaan Yayasan Hasyim Asy'ari Demak.
Kepercayaan masyarakat terhadap RSI NU Demak dinilai terus meningkat berkat dukungan jaringan ambulans NU yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Demak serta hadirnya berbagai layanan unggulan, di antaranya operasi mata dengan teknologi phaco emulsification dan layanan dokter spesialis obstetri dan ginekologi perempuan.
Menurut KH. Sa'dullah Fattah, salah satu faktor penting dalam keberhasilan rumah sakit adalah kemampuan mengelola keuntungan secara produktif.
"Keuntungan tidak hanya disimpan, tetapi harus direinvestasikan untuk pengembangan alat kesehatan dan peningkatan layanan. Di tengah dinamika klaim BPJS Kesehatan, efisiensi menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan," jelasnya.
Dalam paparannya, Direktur RSI NU Demak juga menegaskan pentingnya membangun budaya kerja tim yang solid.
"Yang dibutuhkan bukan hanya superman, tetapi super team yang kemudian berkembang menjadi super system. Semua elemen organisasi harus bergerak dalam satu keselarasan," tegasnya.
Pada aspek sumber daya manusia, konsep Human Capital Management (HCM) menjadi perhatian utama. Karyawan dipandang bukan sekadar tenaga kerja, melainkan modal strategis yang harus terus dikembangkan untuk mendukung kemajuan rumah sakit.
Nilai-nilai pelayanan Islami juga menjadi ciri khas RSI NU Demak. Filosofi "Aamilin naasa kama tuhibbu an yu'amiluka" atau memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan menjadi landasan dalam memberikan pelayanan kepada pasien dengan sepenuh hati.
Pihak manajemen juga mengingatkan bahwa rumah sakit merupakan organisasi yang padat modal, padat karya, padat teknologi, dan padat risiko. Namun di balik itu, rumah sakit juga merupakan institusi yang sarat nilai kemanusiaan dan pahala karena menjadi tempat untuk menolong sesama.
Rangkaian kegiatan benchmark dilanjutkan dengan hospital tour setelah peserta mengunjungi Lezat Food and Bakery, unit usaha pendapatan non-operasional RSI NU Demak, yang dipandu oleh Kepala Pengembangan Ahmad Syafii sebelum akhirnya ditutup dengan sesi evaluasi dan penutupan.
Melalui kegiatan ini, ARSINU berharap sinergi antar rumah sakit Nahdlatul Ulama semakin kuat sehingga mampu meningkatkan mutu pelayanan, memperkuat tata kelola organisasi, menjaga keberlanjutan keuangan rumah sakit, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


