Advertisement
Wisata

Selama 6 Hari, Resik Bumi Nandur Kekayon Awali Ungkapan Syukur Mengalir dari Lereng Gunung Slamet

Tradisi yang berlangsung selama enam hari, mulai  Kamis 12 hingga 17 Juni 2026, itu kembali menghidupkan nilai-nilai yang  diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat setempat,

TIMES Indonesia,
Selama 6 Hari, Resik Bumi Nandur Kekayon Awali Ungkapan Syukur Mengalir dari Lereng Gunung Slamet
Warga gelar Resik Bumi jelang Ruwat Bumi Guci Tegal (Foto: Pian/Cahyo FOR TIMES Indonesia)
A-AA+

TEGAL Tradisi yang berlangsung selama enam hari, mulai  Kamis 12 hingga 17 Juni 2026, itu kembali menghidupkan nilai-nilai yang  diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat setempat, 

Ruwat Bumi Guci Tegal bukan sekadar perayaan budaya, melainkan momentum mempererat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.

Advertisement

Rangkaian kegiatan Ruwat Bumi ini diawali dengan Resik Bumi, Nandur Kekayon, warga bergotong royong membersihkan sungai dan kawasan wisata sebagai simbol penyucian diri sekaligus wujud tanggung jawab menjaga alam.

Sabtu (13/6) Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tegal, Akhmad Uwes Qoroni, menegaskan bahwa Ruwat Bumi tahun ini tidak hanya dikemas sebagai atraksi wisata.

“Rangkaian kegiatan tahun ini disusun tidak hanya sebagai atraksi wisata, tetapi juga sarana refleksi dan penguatan kesadaran menjaga lingkungan. Ini merupakan gambaran dari refleksi diri,” ujar Uwes.

Menurutnya, semangat menjaga alam yang menjadi ruh Ruwat Bumi harus terus dipelihara seiring berkembangnya sektor pariwisata di Guci. 

Upaya promosi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama warga masyarakat pun mulai menunjukkan hasil positif.

Advertisement

“Peningkatan kunjungan wisatawan ke Guci terus mengalami kenaikan, khususnya terlihat sangat melonjak pada hari Sabtu dan Minggu,” katanya.

Bagi masyarakat Guci, sungai yang bersih bukan hanya tentang keindahan lingkungan. Air yang mengalir jernih menjadi simbol hati yang bersih, sedangkan alam yang terawat mencerminkan rasa syukur atas karunia yang diberikan Tuhan.

Semangat pelestarian lingkungan berlanjut melalui nandur kekayon atau penanaman pohon. Bibit-bibit tanaman ditanam di sejumlah titik kawasan wisata. 

Di tanah yang subur di lereng Gunung Slamet, harapan-harapan baru ikut ditanam bersama akar yang kelak tumbuh menjaga keseimbangan alam.

Pohon-pohon tersebut diharapkan menjadi peneduh, pelindung sumber mata air, sekaligus warisan bagi generasi mendatang. Sebuah pengingat bahwa alam yang dinikmati hari ini harus tetap lestari untuk anak cucu di masa depan.

Di sela kegiatan pelestarian lingkungan, lantunan shalawat menggema melalui Festival Hadroh. Tabuhan rebana berpadu dengan udara pegunungan yang sejuk, menghadirkan suasana religius yang menenangkan.

Bagi warga Guci, budaya dan spiritualitas bukan dua hal yang terpisah. Keduanya tumbuh bersama dalam kehidupan sehari-hari, membentuk karakter masyarakat yang tetap menjaga akar tradisi di tengah perubahan zaman.

Nuansa tersebut semakin terasa saat dialog budaya digelar. Tokoh agama dan budayawan berbagi pandangan mengenai sejarah Guci, nilai-nilai luhur para leluhur, serta pentingnya menjaga tradisi sebagai identitas masyarakat.

Puncak kekhidmatan hadir ketika warga melakukan ziarah ke makam Mbah Klitik dan para sesepuh yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah kawasan Guci. 

Dalam kesederhanaan, doa-doa dipanjatkan dengan penuh ketulusan untuk keselamatan, kesehatan, dan keberkahan hidup.

Rangkaian ritual kemudian dilanjutkan dengan istigasah serta Nyiwer atau larung sesaji. Prosesi itu menjadi simbol ungkapan syukur sekaligus permohonan perlindungan dari berbagai bencana.

Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut bukan bentuk pemujaan terhadap alam. Sebaliknya, ritual itu menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan lingkungan yang harus dijaga dan dihormati.

Kemeriahan Ruwat Bumi semakin terasa saat Kirab Gunungan Hasil Bumi digelar. Berbagai hasil pertanian yang disusun menyerupai gunungan diarak bersama sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Tradisi khas lainnya yang turut menyita perhatian adalah siraman kambing kendit. Prosesi yang telah berlangsung secara turun-temurun itu sarat makna simbolis sebagai bentuk doa dan harapan agar masyarakat terhindar dari mara bahaya serta senantiasa diberi keselamatan.

Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata, masyarakat Guci membuktikan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan identitas budaya. 

Justru tradisi menjadi fondasi yang memperkuat daya tarik daerah sekaligus menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Cahyo Nugroho
PenulisCahyo NugrohoSarjana Ilmu Jurnalistik - Ilmu Sosial dan Politik (Kampus Tercinta) Lenteng Agung Jakarta (1989) Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020 Meliput berbagai topik, Sosial dan budaya dan isu daerah
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia