Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam 1448 H: Bacaan Arab, Arti, dan Dasar Hukumnya
Momentum pergantian tahun Hijriah diisi doa akhir dan awal tahun, memohon ampunan, perlindungan, keberkahan rezeki, serta husnul khatimah, mengikuti jejak amalan para sahabat Nabi.
PACITAN – Banyak cara dilakukan umat Islam untuk menyambut pergantian tahun Hijriah. Di tengah beragam tradisi tahun baru, momentum 1 Muharam kerap diisi dengan doa dan refleksi diri sebagai bentuk harapan memasuki lembaran baru yang lebih baik.
Menjelang berakhirnya tahun 1447 Hijriah dan menyambut 1 Muharam 1448 H, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa. Salah satu amalan yang lazim dibaca ialah doa akhir tahun dan doa awal tahun, sebagaimana termuat dalam tradisi ulama.
Doa akhir tahun dibaca sebanyak tiga kali sebelum waktu maghrib pada penghujung tahun Hijriah. Doa ini berisi permohonan ampun atas kesalahan selama setahun, sekaligus harapan agar amal baik diterima Allah SWT.
Berikut bacaan doa akhir tahun:
Doa Akhir Tahun Hijriah
اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ
Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.
Artinya:
“Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang, sementara aku belum sempat bertobat. Atas dosa yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu, padahal Engkau mampu menyiksaku, dan atas pelanggaran yang Engkau perintahkan untuk ditobati, sementara aku tetap menerjangnya. Tuhanku, aku berharap Engkau menerima amal yang Engkau ridhai di tahun ini dan yang Engkau janjikan pahala atasnya. Janganlah Engkau membuatku putus asa dari rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”
Setelah membaca doa akhir tahun, umat Islam dianjurkan membaca doa awal tahun sebagai bentuk harapan atas kehidupan yang lebih baik pada tahun baru. Doa ini dibaca sebanyak tiga kali setelah masuk tahun baru Hijriah.
Isi doa awal tahun mencakup permohonan perlindungan, kesehatan, keberkahan rezeki, keselamatan hidup, hingga husnul khatimah.
Doa Awal Tahun Hijriah
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu‘awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’i, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.
Artinya:
“Tuhanku, Engkau Yang Maha Abadi, Maha Terdahulu, dan Maha Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, kepada-Mu tempat berharap. Tahun baru ini telah tiba. Aku memohon perlindungan dari godaan setan dan para pengikutnya, pertolongan untuk mengendalikan hawa nafsu yang mendorong pada keburukan, serta bimbingan agar seluruh aktivitasku mendekatkanku kepada-Mu, wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”
Dasar Hukum Membaca Doa Awal dan Akhir Tahun
Doa awal dan akhir tahun dikenal luas dalam tradisi keislaman dan dicantumkan oleh Mufti Batavia abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Habib Utsman bin Yahya, dalam kitab Maslakul Akhyar.
Secara hukum, membaca doa awal dan akhir tahun Hijriah diperbolehkan (jaiz) dan tidak terdapat dalil yang melarangnya. Bahkan, terdapat riwayat yang menunjukkan para sahabat Rasulullah SAW membaca doa ketika memasuki bulan atau tahun baru.
Berikut hadis yang menjadi dasar anjuran membaca doa saat memasuki bulan atau tahun baru:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ هِشَامٍ، قَالَ: كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَتَعَلَّمُونَ هَذَا الدُّعَاءَ إِذَا دَخَلَتِ السَّنَةُ أَوِ الشَّهْرُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَٰنِ، وَجَوَازٍ مِنَ الشَّيْطَانِ. رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي «الْأَوْسَطِ»، وَقَالَ الْهَيْثَمِيُّ: وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ.
Artinya:
Dari Abdullah bin Hisyam, ia berkata: Para sahabat Rasulullah SAW mempelajari doa berikut ketika memasuki tahun atau bulan baru: “Ya Allah, masukkan kami ke dalamnya dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, ridha dari Tuhan Yang Maha Pengasih, serta perlindungan dari gangguan setan.” (HR Thabrani dalam Al-Ausath, Al-Haitsami menilai sanadnya hasan).
Adapun doa pada akhir bulan atau akhir tahun juga memiliki landasan riwayat dari para sahabat Rasulullah SAW berikut:
عَنْ بَشِيرٍ مَوْلَى مُعَاوِيَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عَشَرَةً مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَحَدُهُمْ حُدَيْرٌ أَبُو فَوْرَةَ (وَفِي نُسْخَةٍ: فُورَةَ)، يَقُولُونَ إِذَا رَأَوُا الْهِلَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْ شَهْرَنَا الْمَاضِي خَيْرَ شَهْرٍ، وَخَيْرَ عَاقِبَةٍ، وَأَدْخِلْ عَلَيْنَا شَهْرَنَا هَذَا بِالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالْمُعَافَاةِ وَالرِّزْقِ الْحَسَنِ.
Artinya:
Dari Basyir, maula Mu’awiyah, ia berkata: Aku mendengar sepuluh sahabat Rasulullah SAW — salah satunya Hudair Abu Fawrah — berdoa ketika melihat hilal: “Ya Allah, jadikan bulan kami yang telah berlalu sebagai bulan terbaik dengan sebaik-baik penutup, dan masukkan bulan kami yang sekarang dengan keselamatan, keislaman, keamanan, keimanan, kesehatan, dan rezeki yang baik.”
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa berdoa ketika memasuki bulan atau tahun baru telah menjadi amalan para sahabat Nabi SAW. Karena itu, doa awal dan akhir tahun dipandang sebagai bentuk pengharapan kepada Allah SWT saat memasuki fase waktu yang baru.
Keutamaan Membaca Doa Awal dan Akhir Tahun
Dalam kitab Kanzun Naja was Surur fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur, Syekh Abdul Hamid Muhammad Ali menjelaskan keutamaan membaca doa awal tahun sebanyak tiga kali:
يُقْرَؤُهُ ثَلَاثًا؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَقُولُ: "ٱسْتَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهِ فِيمَا بَقِيَ مِنْ عُمُرِهِ"، وَتَوَكَّلَ بِهِ مَلَكَانِ يَحْرُسَانِهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَتْبَاعِهِ.
Artinya:
“Doa awal tahun ini dibaca tiga kali. Sesungguhnya setan akan berkata: ‘Ia telah mengamankan dirinya untuk sisa umurnya,’ lalu dua malaikat ditugaskan menjaganya dari setan dan para pengikutnya.”
Sementara terkait doa akhir tahun, Syekh Abdul Hamid juga menjelaskan:
يُقْرَأُ (ثَلاَثًا)، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَقُولُ: تَعِبْنَا مَعَهُ طُولَ السَّنَةِ، فَأَفْسَدَ فِعْلَنَا فِي سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ.
Artinya:
“Doa akhir tahun dibaca tiga kali. Sesungguhnya setan berkata: ‘Kami telah bersusah payah bersamanya sepanjang tahun, tetapi ia merusak semua usaha kami hanya dalam sesaat.’”
Pada akhirnya, pergantian tahun Hijriah merupakan kesempatan kita untuk bermuhasabah, memohon ampunan, dan menata harapan baru agar kehidupan pada tahun mendatang menjadi lebih baik dan penuh keberkahan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


