Advertisement
Religi

1 Muharram Harus Jadi Momentum Muhasabah, Tradisi Boleh tapi Jangan Sampai Musyrik

Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Cermee Bondowoso, KH Nawawi Maksum, mengajak umat Islam untuk memahami pergantian tahun baru Islam berdasarkan ajaran syariat dan nilai-nilai spiritual yang benar.

TIMES Indonesia,
1 Muharram Harus Jadi Momentum Muhasabah, Tradisi Boleh tapi Jangan Sampai Musyrik
Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Cermee Bondowoso, KH Nawawi Maksum. (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

Bondowoso Memasuki 1 Muharram 1448 H, atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal sebagai bulan Suro, berbagai ritual dan kepercayaan masih kerap dijumpai di tengah masyarakat.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Cermee Bondowoso, KH Nawawi Maksum, mengajak umat Islam untuk memahami pergantian tahun baru Islam berdasarkan ajaran syariat dan nilai-nilai spiritual yang benar.

Advertisement

Menurutnya, Islam tidak mengenal istilah bulan sial atau bulan yang membawa kesialan. Keyakinan bahwa bulan Suro identik dengan musibah, larangan melakukan kegiatan tertentu, atau membawa celaka merupakan bentuk kepercayaan takhayul yang tidak dibenarkan dalam akidah Islam.

“Dalam Islam tidak ada konsep bulan sial. Semua waktu adalah ciptaan Allah dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat ataupun mudarat dengan sendirinya. Karena itu, keyakinan bahwa bulan Suro membawa kesialan harus diluruskan,” ujarnya, Rabu (17/6/2026). 

Ia menjelaskan, waktu pada hakikatnya bersifat netral. Kemuliaan maupun keburukan suatu masa ditentukan oleh amal perbuatan manusia yang mengisinya. Karena itu, Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh dan memperbaiki kualitas diri.

Dari perspektif tasawuf kata dia, sejumlah tradisi yang berkembang saat malam 1 Suro dapat dimaknai sebagai sarana muhasabah atau introspeksi diri. Tradisi menyepi, berdiam diri, dan mengurangi aktivitas duniawi dapat menjadi bentuk uzlah yang bertujuan membersihkan jiwa serta merenungkan perjalanan hidup yang telah dilalui.

“Yang terpenting bukan ritualnya, tetapi bagaimana seseorang memanfaatkan momentum pergantian tahun untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia,” katanya.

Advertisement

Ia menambahkan, tradisi budaya yang berkembang di masyarakat tidak harus ditolak secara keseluruhan. Tradisi tersebut dapat menjadi media dakwah kultural selama diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kegiatan yang bernilai ibadah, seperti memperbanyak zikir, puasa sunnah, sedekah, membaca doa, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Namun demikian, KH Nawawi mengingatkan bahwa setiap tradisi tetap harus berada dalam koridor syariat. Ritual budaya tidak boleh mengandung unsur syirik, seperti meminta pertolongan kepada benda, tempat tertentu, ataupun makhluk selain Allah. Selain itu, tradisi juga tidak boleh bertentangan dengan ketentuan hukum Islam.

“Budaya boleh dilestarikan selama tidak melanggar syariat dan tidak merusak kemurnian tauhid. Jangan sampai tradisi justru membuat seseorang bergantung kepada selain Allah,” tegasnya.

Menurut KH Nawawi, esensi utama pergantian tahun baru Islam bukanlah pada berbagai ritual seremonial, melainkan pada upaya memperkuat keimanan, menjaga kemurnian tauhid, serta memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

“Pergantian tahun Hijriah harus menjadi pengingat bahwa usia kita terus berkurang. Karena itu, yang perlu diperbanyak adalah amal saleh, memperkuat tauhid, dan memperbaiki akhlak, bukan sibuk dengan keyakinan atau ritual yang menjauhkan diri dari Allah,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia