Advertisement
Pendidikan

Polinema Ajak Mahasiswa Asing Belajar di Desa Wringinsongo Lewat Teknologi Tepat Guna

Polinema mengajak 61 mahasiswa, mayoritas mahasiswa asing, mengikuti program International Experience Learning and Cultural Immersion di Desa Wringinsongo, Kabupaten Malang, dengan menerapkan teknologi tepat guna dan mengenal budaya Indonesia.

TIMES Indonesia,
Polinema Ajak Mahasiswa Asing Belajar di Desa Wringinsongo Lewat Teknologi Tepat Guna
Para mahasiswa asing saat menanam pohon menggunakan pupuk eco-enzyme. (FOTO: Humas for TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Politeknik Negeri Malang (Polinema) menjadikan Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, sebagai ruang belajar bagi puluhan mahasiswa asing melalui program International Experience Learning and Cultural Immersion. Program ini mengajak mahasiswa tinggal di desa, mengenal budaya lokal, sekaligus menerapkan teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Wakil Direktur I Bidang Akademik dan Kerja Sama Polinema, Prof. Ir. Ratih Indri Hapsari, ST., MT., Ph.D., IPM, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi hasil penelitian yang dikembangkan bersama mitra internasional.

Advertisement

"Ini adalah bentuk pengabdian masyarakat dari Polinema bersama mitra Polinema, khususnya dari luar negeri, untuk memberikan hasil penelitian kepada masyarakat," ujarnya.

Menurut Prof. Ratih, kegiatan tersebut memadukan pembelajaran akademik dengan pengalaman langsung di lapangan. Selain menerapkan ilmu yang diperoleh di kelas, mahasiswa Indonesia dan luar negeri juga saling bertukar pengetahuan mengenai penerapan teknologi tepat guna.

Sebelum diterjunkan ke lapangan, para mahasiswa telah memperoleh materi mengenai energi terbarukan, penyediaan air bersih, hingga penghijauan. Selanjutnya, mereka merakit teknologi tersebut di laboratorium Polinema sebelum dipasang di kawasan Wisata Sumberingin, Desa Wringinsongo.

"Jadi sebelumnya mahasiswa sudah mendapatkan materi, kemudian mereka merakit proyek tersebut di laboratorium kampus, baru dipasang di sini," tambahnya.

Sebanyak 61 mahasiswa yang terbagi dalam tiga kelompok menghasilkan tiga proyek teknologi tepat guna.

Advertisement
Para mahasiswa asing saat memasang pompa berbasis renewable energi. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Para mahasiswa asing saat memasang pompa berbasis renewable energi. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)

Proyek pertama berupa pembuatan pot tanaman dari hasil daur ulang plastik yang kemudian ditanami berbagai jenis tanaman menggunakan pupuk eco-enzyme untuk mendukung penghijauan desa.

Proyek kedua adalah pemasangan panel surya (solar panel) sebagai sumber energi terbarukan untuk pompa pengairan kolam ikan, yang disertai pelepasan benih ikan sebagai upaya mendukung pengembangan usaha perikanan masyarakat.

Sementara proyek ketiga berupa pemasangan pompa hidram (Hydraulic Ram Pump), yakni pompa berbasis energi terbarukan yang memanfaatkan tekanan air tanpa menggunakan listrik.

"Pompa ini bertujuan untuk mendistribusikan air ke berbagai titik di kawasan wisata ini," jelas Prof. Ratih.

Selain menghasilkan teknologi tepat guna, para mahasiswa asing juga diperkenalkan dengan kehidupan masyarakat desa di Indonesia. Menurut Prof. Ratih, pembangunan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit atau negara maju, tetapi juga dapat berangkat dari desa melalui pemberdayaan ekonomi lokal berbasis potensi alam.

Melalui program tersebut, Polinema berharap seluruh peserta memperoleh pengalaman akademik sekaligus pengalaman sosial yang berkesan serta mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Meskipun mereka berasal dari perguruan tinggi terkemuka dan negara maju, apa yang kita pelajari harus mampu memberikan dampak bagi masyarakat, tidak hanya bagi industri," pungkasnya.

Salah satu peserta dari Shandong University of Science and Technology (SDUST), China, Gong YiLin, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, program ini memberikan pengalaman baru, terutama dalam mengenal budaya Indonesia.

"Sebenarnya setiap negara memiliki budaya yang berbeda. Di China saya memiliki budaya lokal sendiri, dan ketika datang ke sini saya merasakan budaya yang berbeda. Semua orang sangat ramah, dan Malang adalah kota yang indah dengan pemandangan yang sangat berbeda dari China," ujarnya.

Mahasiswa asing saat presentasi hasil project kelompok mereka di Desa Wringinsongo. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Mahasiswa asing saat presentasi hasil project kelompok mereka di Desa Wringinsongo. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)

Sementara itu, peserta dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Haziq, mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Indonesia.

"Saya rasa budaya ramah orang Indonesia, bahkan hal sederhana seperti meminta permisi, sangat terasa. Hal itu membuat saya semakin termotivasi untuk terus memperbaiki diri," katanya.

Hal senada disampaikan rekannya, Alif. Ia berharap kolaborasi antara UTHM dan Polinema dapat terus berlanjut.

"Saya berharap kegiatan seperti ini dapat diselenggarakan kembali di masa mendatang dan hubungan UTHM dengan Polinema semakin erat," tuturnya.

Sebagai informasi, program International Experience Learning and Cultural Immersion diikuti oleh 61 peserta, sekitar 90 persen di antaranya merupakan mahasiswa asing dari sembilan perguruan tinggi, termasuk Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), King Mongkut's University of Technology, serta Shandong University of Science and Technology (SDUST), China. (D)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia