OnePlus Dikabarkan Tinggalkan Amerika Serikat dan Eropa, Oppo Disebut Restrukturisasi Bisnis Global
OnePlus dikabarkan akan menghentikan operasional di Amerika Serikat, Eropa, dan India sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis Oppo.
JAKARTA – Industri smartphone global kembali diwarnai kabar mengejutkan. OnePlus dikabarkan akan menghentikan operasional bisnisnya di sejumlah pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan India. Langkah tersebut disebut menjadi bagian dari restrukturisasi bisnis yang dilakukan perusahaan induknya, Oppo.
Dilansir dari TechCrunch, keputusan tersebut diperkirakan mulai berlaku pada pekan ini. Informasi itu berasal dari sumber internal yang mengetahui rencana perusahaan, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi dari Oppo maupun OnePlus terkait penghentian operasional tersebut.
Jika kabar itu benar, maka perubahan tersebut akan menjadi salah satu langkah bisnis terbesar OnePlus sejak berdiri lebih dari satu dekade lalu. Pasalnya, Amerika Serikat, Eropa, dan India selama ini menjadi pasar strategis yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan merek tersebut di luar China.
OnePlus dikenal sebagai salah satu produsen ponsel Android yang berhasil membangun reputasi melalui perangkat berperforma tinggi dengan harga lebih kompetitif dibandingkan merek premium lainnya. Strategi itu membuat OnePlus memiliki basis pengguna yang kuat, terutama di kalangan penggemar teknologi.
Namun, kondisi industri smartphone yang terus berubah memaksa banyak produsen melakukan penyesuaian strategi, termasuk melalui efisiensi operasional dan penataan ulang fokus pasar.
Restrukturisasi di Tengah Lesunya Industri Smartphone
Laporan mengenai hengkangnya OnePlus muncul ketika pasar smartphone global masih menghadapi tekanan yang cukup berat.
Sejumlah lembaga riset industri, termasuk IDC dan Counterpoint Research, sebelumnya memproyeksikan pengiriman smartphone dunia akan mengalami penurunan lebih dari 13 persen sepanjang 2026.
Penurunan tersebut dipicu terbatasnya pasokan chip memori yang menyebabkan biaya produksi meningkat. Dampaknya, harga komponen ikut naik dan berimbas pada harga jual perangkat di berbagai negara.
Kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih juga membuat daya beli konsumen terhadap perangkat elektronik melemah. Banyak pengguna memilih memperpanjang masa pakai ponsel lama dibandingkan membeli perangkat baru.
Situasi tersebut mendorong sejumlah produsen melakukan evaluasi terhadap pasar yang dinilai kurang memberikan pertumbuhan optimal.
Oppo Hadapi Penurunan Penjualan
Tekanan pasar juga dirasakan oleh Oppo sebagai perusahaan induk OnePlus.
Menurut laporan Counterpoint Research, pengiriman perangkat Oppo pada kuartal kedua 2026 mengalami penurunan dua digit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan itu terjadi akibat melemahnya permintaan di sebagian besar pasar utama perusahaan.
Restrukturisasi bisnis pun disebut menjadi salah satu langkah yang dipilih Oppo untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memfokuskan investasi pada wilayah yang masih memiliki prospek pertumbuhan.
Meski demikian, laporan tersebut menyebut Oppo tidak akan sepenuhnya menghentikan keberadaan OnePlus.
Perusahaan dikabarkan tetap mempertahankan merek tersebut di pasar domestik China yang masih menjadi salah satu basis penjualan terbesar.
India Kehilangan Salah Satu Merek Favorit
Selain Amerika Serikat dan Eropa, India juga disebut masuk dalam daftar pasar yang akan ditinggalkan OnePlus.
Keputusan ini cukup mengejutkan mengingat India selama bertahun-tahun menjadi salah satu pasar internasional terbesar bagi OnePlus.
Melalui berbagai seri andalannya, termasuk lini Nord yang menyasar segmen menengah, OnePlus berhasil membangun komunitas pengguna yang loyal di negara tersebut.
Bahkan, India selama ini menjadi salah satu lokasi peluncuran berbagai produk baru OnePlus sebelum dipasarkan ke wilayah lain.
Apabila kabar hengkang itu benar terealisasi, maka Oppo diperkirakan akan mengalihkan fokus strategi bisnisnya ke merek lain yang berada di bawah naungannya.
Realme Disebut Jadi Prioritas Baru
Di tengah kabar restrukturisasi tersebut, Oppo dilaporkan tetap agresif memperluas pemasaran Realme di sejumlah negara.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah negara-negara Nordik di Eropa, yang dinilai masih menunjukkan pertumbuhan penjualan positif.
Strategi tersebut mengindikasikan Oppo kemungkinan akan memusatkan investasi pada merek yang dianggap memiliki peluang lebih besar untuk berkembang di pasar global.
Sementara itu, OnePlus diperkirakan akan lebih difokuskan pada pasar China, yang hingga kini masih menjadi wilayah dengan permintaan tinggi terhadap perangkat premium dan flagship.
Meski laporan mengenai hengkangnya OnePlus telah beredar luas, hingga berita ini ditulis belum ada pernyataan resmi dari Oppo maupun OnePlus yang mengonfirmasi ataupun membantah informasi tersebut.
Publik dan para pengguna kini menunggu kepastian mengenai nasib OnePlus di pasar internasional. Jika benar terealisasi, keputusan tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu perubahan strategi bisnis terbesar dalam industri smartphone sepanjang 2026.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


