Religi TIMES Ramadan

Sigi Heku, Masjid Bersejarah Kesultanan Ternate yang Menjaga Tradisi dan Keharmonisan

Jumat, 29 Maret 2024 - 10:02 | 16.96k
Potret Sigi Heku, masjid adat Kesultanan Ternate yang terletak di Kelurahan Akehuda, Kota Ternate. (Foto: Ruslan Zainuddin for Times Indonesia)
Potret Sigi Heku, masjid adat Kesultanan Ternate yang terletak di Kelurahan Akehuda, Kota Ternate. (Foto: Ruslan Zainuddin for Times Indonesia)
FOKUS

TIMES Ramadan

TIMESINDONESIA, TERNATE – Ternate, kota yang tak hanya kaya akan keindahan alamnya, tetapi juga memiliki peran sentral dalam sejarah dan perkembangan agama Islam di Maluku Utara. Salah satu bukti kejayaan masa lalu terwujud dalam beberapa masjid megah, seperti Sigi Lamo (Masjid Besar), Sigi Cim (Masjid Cina), dan yang paling menarik, Masjid Sigi Heku (masjid pemberian hak Kolano atau Sultan) yang berdiri tegak sejak tahun 1690.

Masjid Sigi Heku, yang berlokasi di Kelurahan Akehuda, Kota Ternate Utara, Maluku Utara bukan hanya sekadar bangunan bersejarah. Nama "Heku" sendiri yang dalam bahasa daerah Ternate berarti "pemberian hak" sedangkan Sigi artinya masjid.

Masjid ini menjadi simbol penting pemberian hak Kolano atau Sultan Ternate kepada rakyatnya. Dibangun atas perintah Sultan Ternate ke-33 Sirajul Mulki Amirul Mu’minin Maulana Iskandar Amiruddin Julkarnain Syah, masjid ini menyimpan kisah-kisah berharga dari masa lalu yang kaya akan tradisi keislaman.

Selain sebagai tempat ibadah, Sigi Heku juga menjadi pusat hikmah dan kebijaksanaan lokal. Masyarakat adat, yang dipimpin oleh Bobato Dunia dan Bobato Akhirat, bertanggung jawab menjaga tradisi dan norma yang berlaku di Kesultanan Ternate. Di sini, adat dan agama saling terkait, menciptakan harmoni yang membumi dalam pola hidup masyarakat.

Dalam pelaksanaan salat di Sigi Heku bagi jamaah pria wajib menggunakan celana panjang dan kopiah, tidak diperkenankan untuk menggunakan sarung, dan bagi jamaah wanita tidak dibolehkan melaksanakan shalat di masjid ini. Sigi Heku kesultanan Ternate hingga saat ini masih menjalankan tradisi keislaman yang dipadukan dengan adat istiadat masyarakat lokal dimana sering di sisipkan sastra lisan yang berisikan nasehat atau pesan leluhur dalam bahasa daerah Ternate.

Ritual keagamaan yang dilakukan di Sigi Heku juga terasa magis. Malam-malam tertentu seperti Senin, Kamis, dan Jumat disediakan sebagai momen untuk berserah diri dan memohon berkah. Dari doa bersama hingga zikir kepada leluhur, setiap ritual dijalankan dengan penuh khidmat dan keyakinan.

Setiap Jumat, suasana istimewa menghiasi Sigi Heku. Di hari Jumat setelah shalat, bobato dunia dan bobato akhirat melaksanakan doa bersama dengan tujuan mendoakan kaum muslim dan muslimat yang ada di jazirah Moloku Kie Raha.

Ritual malam Senin bertujuan untuk mengangkat nilai derajat para auliyah/anbiya terdahulu (orang-orang yang dekat dengan Allah) doa dan zikir kepada leluhur.

Malam Kamis adalah hajatan masyarakat di masjid (malam terpenuhinya sesuatu/hajat masyarakat adat). Hal ini dilakukan di masjid dengan tujuan membangun hubungan manusia dengan manusia (hablum minannas). Kemudian ritual di malam Jumat dilakukan dengan tujuan mendoakan kepada orang tua yang sudah meninggal dunia.

Malam jumat merupakan waktu yang istimewa dan paling mulia di antara malam di hari lainnya. Sehingga memperbanyak amalan, terutama doa sangat dianjurkan di waktu ini dengan harapan dikabulkan oleh Allah SWT.

Dengan segala tradisi dan kearifan lokalnya, tak heran jika masjid bersejarah ini terus menjadi saksi bisu perjalanan spiritual dan keagamaan masyarakat Ternate. Masjid Sigi Heku bukan sekadar bangunan batu, tetapi penjaga kearifan dan keharmonisan sebuah komunitas yang sarat dengan nilai-nilai luhur dari masa ke masa. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hendarmono Al Sidarto
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES