Religi

Ekspedisi Batin (26): Fitrah Mudik ke Kampung Sejati

Kamis, 11 April 2024 - 07:20 | 27.35k
Ilustrasi
Ilustrasi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Ragam kendaraan plat luar kota berlalu lalang di kampung. Orang-orang yang merantau ke penjuru nusantara, akhirnya kembali ke kampung tempat ia ditempa matahari pertama sejak keluar dari malam rahim.

Begitulah suasana Idul Fitri di kampung. Suasana berkumpul menyatukan rasa pada sebuah tradisi muslim Indonesia yang jamak disebut mudik. Inilah suasana indah Idul Fitri di Indonesia yang mungkin jarang ditemukan di negara lain.

Menelisik lebih dalam lagi ke hamparan filosofis keindahan Idul Fitri, kita diajak merenungkan esensi kembali ke pangkuan kampung halaman. Sebuah tempat di mana segala cerita bermula dan berlabuh. Bagi para penikmat mudik, perjalanan mereka mengarungi kemacetan dan jarak yang tak pendek, bukan sekadar perjalanan menjumpai sanak saudara. Mudik adalah sebuah ziarah menuju kebenaran diri dan hakikat keberadaan yang lebih agung.

Perjalanan menuju ke haribaan kampung yang sejati dalam hati. Perjalanan ke 'halamannya' Allah yang Maha Luas.

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ بِا لْحَـقِّ ۗ وَيَوْمَ يَقُوْلُ كُنْ فَيَكُوْنُ ۗ قَوْلُهُ الْحَـقُّ ۗ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ ۗ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَ الشَّهَا دَةِ ۗ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar, dan pada hari Ia berfirman: 'Jadilah', maka jadilah itu. Perkataan-Nya adalah kebenaran, dan bagi-Nya-lah kerajaan pada hari ditiup sangkakala. Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am: 73).

Ayat ini mengajak kita merenungkan penciptaan dan keberangkatan. Dari tiupan pertama kehidupan hingga tiupan terakhir yang mengembalikan kita kepada-Nya.

Dari sini, manusia diajak menapaktilasi jejak kenangan. Di mana setiap sudut kampung halaman menyimpan cerita, setiap aroma masakan ibu menumbuhkan rindu. Di sinilah, kita menemukan kejernihan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kesederhanaan berkumpul, berbagi canda tawa, dan kembali kepada akar diri kita.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah! Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya.” (HR Bukhari Muslim)

Ucapan Rasulullah Muhammad SAW tersebut mengajarkan kita tentang keutamaan silaturahmi dan keramahan. Dan, refleksi terdalam dari mudik adalah menghormati ikatan keluarga dan persaudaraan. Bukan hanya pertemuan fisik, tapi pertautan jiwa yang mendalam, memperkuat tali keimanan kepada Sang Pencipta.

Momen Idul Fitri dan tradisi mudik mengejawantahkan sebuah metamorfosis, di mana kita mengalami regenerasi rohani, menghapus debu dunia, dan mengkristalkan esensi diri. Ini adalah saat di mana kita memetik buah refleksi. Mengolahnya menjadi sirup kebijaksanaan yang manis, lalu memandu kita dalam menavigasi kehidupan.

Setiap detik di dunia adalah kesempatan untuk berinvestasi bagi kehidupan yang abadi, menerjemahkan kembali ke Idul Fitri dan mudik sebagai simbol dari perjalanan spiritual menuju keabadian.

Kita, dalam pusaran waktu dan ruang, seringkali terjebak dalam ilusi materialistis, lupa bahwa kebahagiaan sejati bukanlah akumulasi harta benda. Kebahagiaan sejati sesungguhnya coba membangun kualitas hubungan yang kita jalin dengan sesama dan dengan Sang Pencipta. Hablum minan nas, wa hablum minallah. Dan, Idul Fitri ini mengingatkan kita tentang siklus kehidupan, di mana kita lahir, tumbuh, dan akhirnya kembali ke asal, kembali ke Allah.

Pada kontemplasi mudik Idul Fitri yang lebih dalam, kita mengakui bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan, melainkan sebuah perjalanan. Kebahagiaan bukanlah halte akhir, namun sebuah proses. Saat sejauh mana kita menempuh perjalanan, mudik ke kampung halaman, adalah cerminan sejauh mana kita telah menempuh perjalanan rohani menuju keharibaan Allah.

Keindahan yang terpancar dalam diri kita adalah pantulan dari keindahan yang kita lihat pada orang lain, pada alam semesta, dan pada penciptaannya. Ini adalah dialog keabadian antara makhluk dan Sang Pencipta, yang termanifestasi dalam silaturahmi Idul Fitri dan tradisi mudik. Saat di mana kita tidak hanya mengunjungi tempat, melainkan menemukan makna, mengembalikan diri ke esensi yang murni, kepada inti keberadaan yang tak terpisahkan dari Sang Pencipta.

Mudik menjadi perjalanan simbol, bukan hanya menelusuri jalan fisik menuju kampung halaman, tetapi juga jalan spiritual menuju kesucian diri dan kedekatan dengan Allah. Setiap langkah yang diambil menjadi catatan perjalanan spiritual. Setiap kilometer yang ditempuh adalah gambaran dari usaha dan perjuangan dalam mencari dan mendekatkan diri kepada kebenaran.

Terus berjalan tanpa lelah, sampai akhirnya sampai di kampung halaman sejati yang maha luas milik-Nya. Saat itu kita akan tersenyum bahagia atau menangis sedih, semua tergantung kita sendiri.

Yang terpenting, setiap keindahan yang kita lihat dalam diri sendiri dan dalam diri orang lain adalah pantulan dari keindahan yang abadi. Ini menjadi sebuah bukti bahwa dalam setiap akhir, terdapat awal yang baru. Dalam setiap akhir, ada undangan untuk kembali kepada keharibaan yang sejati di 'kampung halaman' sejati manusia, di sana! (*)

* Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES