Religi

Ekspedisi Batin (27): Menjaga Sustainabilitas Echo Ramadan

Jumat, 12 April 2024 - 12:17 | 21.49k
Ilustrasi
Ilustrasi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Entahlah! Mungkinkah hanya penulis yang merasakan, bahwa kelompok-kelompok percakapan di ruang-ruang digital media sosial kembali menunjukkan taringnya, seiring berlalunya Ramadan yang suci beberapa jari ini? Terutama di etalase panggung-panggung politik. Atau di ruang-ruang gema yang dicipta dan tercipta dari pertarungan sengit di arena politik.

Atmosfer yang selama bulan Ramadan lalu, seakan terjaga dari gema dan guncangan kebencian lewat kata dan gambar, kini sudah beranjak menjamur. Mungkin karena adanya penghormatan pada kesucian bulan tersebut, atau mungkin juga karena roh-roh yang biasa mengusik terbelenggu oleh kesakralannya. 

Apakah "setan" dalam diri kita sudah kembali, terbangun lagi mengisi sudut-sudut jalan, di antara gedung-gedung bertingkat, rumah-rumah sederhana kampung, atau di dalam heningnya ruang-ruang pribadi kita? Wallahu a'lam. Tapi rasanya, "setan-setan" penggoda ini mulai mengintai, mencari celah untuk membangkitkan kembali nyala api hasrat dan dendam yang sempat terkungkung.

Tapi kita perlu bertanya, apakah benar makhluk halus itu yang harus disalahkan? Ataukah, sejatinya, yang terlepas bukan mereka, melainkan tali kendali diri yang kita lepaskan? 

Memegang Kendali Diri

Di bulan Ramadan sebulan penuh kemarin, umat Islam diajarkan untuk mengikat erat tali nafsu sahwat berbuat negatif denagn menahan diri secara maksimal. Bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari keburukan kata, ujaran, dan kelakuan. Namun, seiring hilangnya bulan sabit di langit, apakah benar tali tersebut telah terurai?

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat (kepada Allah), maka seketika itu juga mereka melihat (kebenaran)." (QS. Al-A'raf: 201). 

Ini gambaran bahwa setan memang selalu berusaha menggoda setiap manusia, namun kekuatan ingatan kepada Yang Maha Kuasa-lah yang bisa menjadi benteng yang kokoh.

Rasulullah SAW pun telah mengingatkan, "Sesungguhnya setan berjalan di dalam tubuh manusia seperti aliran darah." (HR Muslim). Ini menggambarkan betapa dekatnya godaan dengan kehidupan kita, namun sekaligus mengingatkan bahwa dengan kesadaran yang tinggi, kita bisa mengendalikan aliran itu.

Nouman Ali Khan, pernah berkata, "Jangan biarkan kesalahan kecil menjadi hujan yang terus menerus menghapus tulisan pasir iman di hati." Kutipan ini membawa pesan  bahwa kesalahan memang manusiawi. Namun kebijaksanaan terletak pada keberanian untuk memperbaiki dan tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Di sinilah sesungguhnya Ramadan bukanlah sekedar bulan suci. Ramadan adalah metafora transformasi, refleksi atas diri sendiri, dan peluang untuk mengikis kekotoran jiwa. Whats next? Menginternalisasi Ramadan berarti menyadari bahwa setiap detik dalam hidup adalah kesempatan untuk ber-Ramadan, menahan diri dari segala yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Mengingat Ramadan bukan hanya saat menjelang berbuka atau sahur. Namun Ramadan adalah saat kita menghadapi dilema, saat kita memilih antara kata-kata yang membangun atau meruntuhkan, antara tindakan yang mendamaikan atau menimbulkan konflik. Di sinilah kita belajar bahwa setan penggoda hanyalah bayangan lemah yang memanfaatkan kelemahan kita; bahwa kekuatan sejati ada dalam mengambil kendali atas nafsu dan syahwat negatif yang berusaha merasuki.

Maka, menanamkan Ramadan di hati berarti menyiram tiap hari dengan esensi kesucian dan ketakwaan. Jangan membiarkan tanahnya menjadi tandus, tapi juga menjaganya agar tetap subur dengan kebaikan dan empati. Ini berarti bahwa setiap kata, setiap perbuatan, harus menjadi cermin dari nilai-nilai yang diamalkan selama Ramadan. Sehingga menjadi bukti bahwa kita tidak mudah melupakan heroisme beragama.

Dengan behitu, esensi Ramadan yang terpatri dalam jiwa akan menjadi kompas yang mengarahkan pada kebaikan. Buksn hanya selama sebulan, tapi sepanjang waktu. Bukan hanya saat setan terbelenggu, tetapi juga saat mereka berusaha kembali menerkam. 

Di sanalah terbentang jalan menuju kearifan, yang tidak semata tentang menahan lapar dan dahaga, namun lebih dalam tentang mengendalikan diri, memperkaya jiwa, dan menabur benih kasih di gurun dunia yang sering kali gersang.

Untuk berjalan di jalan ini, diperlukan lebih dari sekadar ingatan. Tapi sebuah komitmen yang kuat untuk melihat setiap hari sebagai hari untuk ber-Ramadan, setiap momen sebagai kesempatan untuk meneguhkan iman dan memperbarui niat dalam menebar kebaikan.

Dalam perjalanan panjang kehidupan ini, biarlah Ramadan menjadi peta, menjadi cahaya yang menuntun melalui lembah kehidupan yang terkadang gelap gulita. Dengan begitu, kita tidak hanya mengenang Ramadan saat adzan maghrib menggema, tapi juga menjadikannya semangat yang membara, menerangi langkah, dan meneguhkan hati dalam meniti jalan kebajikan dan kesucian, sepanjang waktu, sepanjang usia. 

Menjaga Echo Ramadan

Dalam merenungi Ramadan yang telah berlalu, kita diajak untuk memahami bahwa bulan suci ini lebih dari sekadar periode waktu. Ramadan adalah refleksi dari perjalanan rohani yang harus terus berlanjut. 

Karenanya, jika Ramadan adalah tentang pembelajaran dan pertumbuhan, maka hari-hari setelahnya adalah tentang penerapan dan konsistensi. Sebagaimana seniman yang tak pernah berhenti mengasah keahliannya, begitu pula dengan jiwa yang terus menerus mengasah kebaikannya, tanpa henti.

Menginternalisasi Ramadan artinya membiarkan cahaya yang pernah bersinar terang di bulan itu tidak pernah redup dalam diri. Ini berarti menghadirkan kesabaran, kebijaksanaan, dan kelembutan hati, bukan hanya di saat beribadah, tapi juga dalam interaksi sehari-hari, dalam setiap desahan napas dan detakan hati. Karena Ramadan sejatinya bukan sekadar tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga tentang menahan diri dari segala yang mengotori jiwa dan hati.

Untuk menjaga semangat Ramadan hidup di dalam diri, kita harus menyadari bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk berbuat baik, untuk menolong sesama, untuk berbicara dengan kata-kata yang menyejukkan, untuk menghadirkan senyuman yang menghangatkan. Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dengan kata-kata yang melukai atau tindakan yang merendahkan.

Dalam menanamkan echo Ramadan di hati, kita diajak untuk berintrospeksi dan merenungkan kembali nilai-nilai yang kita pelajari selama bulan suci. Kita diajak untuk meninjau kembali kesalahan dan kekurangan, bukan dengan sikap menghakimi diri sendiri, melainkan dengan keinginan tulus untuk menjadi versi yang lebih baik. Jika Ramadan mengajarkan kita tentang kesabaran, kelembutan, dan empati, maka bulan-bulan setelahnya adalah waktu untuk mengamalkan pelajaran tersebut, menjadikannya bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan.

Mungkin, inilah saatnya untuk menyadari bahwa setan-setan penggoda tidak sepenuhnya dapat disalahkan atas kelemahan dan kesalahan itu. Kita memiliki kekuatan dan kebebasan untuk memilih, untuk memutuskan apakah akan mengikuti hasrat negatif atau mengarahkan diri pada jalan yang lebih mulia. Dengan memandang Ramadan sebagai guru, kita belajar bahwa setiap momen dalam hidup adalah kesempatan untuk berbuat baik, untuk melawan godaan, dan untuk meneguhkan diri dalam kebenaran dan kebaikan.

Dalam perjalanan ini, kesulitan dan tantangan pasti akan datang silih berganti, namun kekuatan yang telah kita temukan selama Ramadan—kekuatan untuk mengendalikan diri, untuk memilih yang benar, untuk berada di jalan kebaikan—adalah bekal yang akan terus membimbing kita. Dengan demikian, Ramadan tidak hanya terpatri sebagai kenangan indah yang lewat begitu saja, melainkan sebagai pondasi yang kuat untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Tentu, kita tidak hanya menjalani Ramadan sekali setahun, tetapi menjadikannya bagian dari denyut nadi kehidupan kita sehari-hari. Dalam setiap tindakan dan keputusan, dalam setiap kata dan doa, semangat Ramadan terus berkobar, mengingatkan kita pada kekuatan luar biasa dari kesabaran, ketakwaan, dan kecintaan. 

Ini adalah cara kita menjaga agar nyala dan echo Ramadan tidak pernah padam di hati. Lalu, memastikan bahwa setiap hari adalah manifestasi dari nilai-nilai suci yang kita rayakan selama bulan yang penuh berkah kemarin. Lalu menjaganya tetap senantiasa bergema di hati; selamanya hingga Ramadan tahun depan tiba. (*)

Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES