Advertisement
Religi

Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah yang Jarang Dibahas

Kisah perempuan-perempuan mulia di sekitar Rasulullah yang jarang dibahas, dari Ummu Ayman hingga Nusaibah binti Ka’ab, penuh keteladanan iman dan keberanian.

TIMES Indonesia,
Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah yang Jarang Dibahas
Ilustrasi.
A-AA+

JAKARTA Dalam sejarah Islam, nama-nama besar seperti Khadijah binti Khuwailid, Aisyah radhiyallahu ‘anha, atau Fatimah az-Zahra sering menjadi rujukan utama ketika membicarakan perempuan di sekitar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, di balik tokoh-tokoh yang kerap disebut itu, terdapat banyak perempuan mulia lain yang perannya besar, tetapi jarang dibahas secara luas.

Mereka bukan sekadar figur pelengkap sejarah, melainkan bagian penting dari perjuangan Islam sejak masa awal.

Advertisement

1. Ummu Ayman: Perempuan yang Disayang Rasulullah Sejak Kecil

Ummu Ayman (Barakah al-Habasyiyah) adalah perempuan yang merawat Nabi Muhammad sejak kecil setelah wafatnya ibu beliau, Aminah binti Wahb. Rasulullah bahkan menyebutnya sebagai “ibuku setelah ibuku”.

Ia ikut berhijrah ke Madinah dengan berjalan kaki di tengah terik dan keterbatasan. Kesetiaannya kepada Islam tidak pernah luntur, bahkan setelah Rasulullah wafat. Ummu Ayman adalah simbol ketulusan, pengorbanan, dan kasih sayang tanpa pamrih.

2. Asma’ binti Abu Bakar: Perempuan Berani di Balik Hijrah

Asma’ binti Abu Bakar dikenal dengan julukan Dzatun Nithaqain (perempuan dengan dua ikat pinggang). Saat Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, Asma’ yang masih sangat muda menjadi penghubung logistik, menembus bahaya demi menyuplai makanan.

Ia tidak hanya berani, tetapi juga tegas dalam iman. Ketika dihadapkan pada ancaman kaum Quraisy, Asma’ tetap teguh dan tidak membocorkan rahasia Rasulullah. Keberaniannya menunjukkan bahwa perjuangan Islam juga ditopang oleh perempuan yang berdiri di garis risiko.

3. Ummu Sulaim: Keteguhan Iman dan Kecerdasan Spiritual

Ummu Sulaim adalah perempuan Anshar yang masuk Islam lebih awal. Ia bahkan menjadikan Islam sebagai mahar pernikahannya dengan Abu Thalhah. Keteguhan imannya terlihat jelas ketika ia tetap tenang menghadapi kematian anaknya, lalu menyerahkan urusan hatinya sepenuhnya kepada Allah.

Advertisement

Rasulullah memuji sikap dan keimanannya. Ummu Sulaim menunjukkan bahwa kekuatan spiritual perempuan tidak selalu hadir dalam sorotan, tetapi dalam ketenangan dan keyakinan mendalam.

4. Nusaibah binti Ka’ab: Perempuan Pejuang di Medan Perang

Nusaibah binti Ka’ab (Ummu ‘Ammarah) adalah sosok luar biasa yang turun langsung ke medan perang, termasuk dalam Perang Uhud. Saat barisan kaum Muslimin kacau, ia berdiri melindungi Rasulullah dengan tubuhnya sendiri.

Ia terluka parah, namun tidak mundur. Rasulullah sendiri memuji keberaniannya. Kisah Nusaibah menegaskan bahwa perempuan dalam Islam bukan makhluk lemah, melainkan mampu berdiri di saat genting demi kebenaran.

5. Safiyyah binti Huyayy: Dari Luka Masa Lalu Menuju Kemuliaan

Safiyyah memiliki latar belakang yang berat—kehilangan keluarga dan berasal dari kaum yang memusuhi Islam. Namun, setelah masuk Islam dan menjadi istri Rasulullah, ia menunjukkan akhlak yang lembut dan keteguhan iman.

Rasulullah memperlakukannya dengan penuh penghormatan dan membela kehormatannya dari prasangka. Safiyyah adalah bukti bahwa Islam memuliakan manusia bukan berdasarkan asal-usul, tetapi ketakwaan dan akhlak.

Perempuan, Iman, dan Peradaban

Perempuan-perempuan di sekitar Rasulullah bukan hanya saksi sejarah, tetapi arsitek peradaban Islam. Ada yang berperan sebagai pendidik, perawat, pejuang, ibu, sekaligus penjaga iman di masa sulit.

Mereka mungkin jarang dibahas, namun jejaknya tertanam kuat dalam fondasi Islam. Dari mereka, kita belajar bahwa kemuliaan tidak selalu hadir di panggung besar, tetapi sering tumbuh dalam keikhlasan, keberanian, dan keteguhan hati.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia