Bakdiyah Isya Lebih Utama daripada Tarawih, Ini Penjelasan Ulama
Sejumlah ulama madzhab Syafi’i menegaskan, dalam urutan keutamaan, salat sunnah yang mengiringi fardhu ditempatkan di atas tarawih.

PACITAN – Salat sunah rawatib termasuk bakdiyah Isya dinilai lebih utama dibandingkan tarawih.
Sejumlah ulama madzhab Syafi’i menegaskan, dalam urutan keutamaan amal sunah, rawatib yang mengiringi salat fardhu ditempatkan di atas tarawih.
Pandangan itu di antaranya dijelaskan oleh Al-Khathib Asy-Syirbini dalam Al-Iqna’. Ia menyebutkan bahwa salat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah memiliki tingkatan tertentu, dan rawatib tetap lebih utama daripada tarawih.
وَأفضل الْقسم الَّذِي لَا تسن فِيهِ الْجَمَاعَة الْوتر ثمَّ رَكعَتَا الْفجْر وهما أفضل من رَكْعَتَيْنِ فِي جَوف اللَّيْل ثمَّ بَاقِي رواتب الْفَرَائِض ثمَّ الضُّحَى ثمَّ مَا يتَعَلَّق بِفعل غير سنة الْوضُوء كركعتي الطّواف وَالْإِحْرَام والتحية وَهَذِه الثَّلَاثَة فِي الْأَفْضَلِيَّة سَوَاء وَالْقسم الَّذِي تسن الْجَمَاعَة فِيهِ أفضل من الْقسم الَّذِي لَا تسن الْجَمَاعَة فِيهِ نعم تفضل راتبة الْفَرَائِض على التَّرَاوِيح
Artinya, salat sunnah paling utama yang tidak disunnahkan berjamaah adalah witir, lalu dua rakaat fajar. Setelah itu, dua rakaat di tengah malam, kemudian rawatib lainnya, lalu dhuha dan salat sunnah yang terkait sebab tertentu seperti thawaf, ihram, dan tahiyyatul masjid. Meski salat sunnah berjamaah pada dasarnya lebih utama daripada yang tidak berjamaah, rawatib tetap lebih utama daripada tarawih.
Penegasan serupa disampaikan Al-Bujairami dalam Tuhfatul Habib ‘Ala Syarhil Khathib. Ia mengurutkan keutamaan shalat sunnah dan menempatkan tarawih setelah rawatib.
أَفْضَلُ النَّفْلِ صَلَاةُ عِيدِ الْأَضْحَى، ثُمَّ الْفِطْرُ، ثُمَّ كُسُوفُ الشَّمْسِ، ثُمَّ خُسُوفُ الْقَمَرِ، ثُمَّ الِاسْتِسْقَاءُ، ثُمَّ الْوِتْرُ، ثُمَّ بَقِيَّةُ الرَّوَاتِبِ الْمُؤَكَّدَةِ، ثُمَّ الرَّوَاتِبُ غَيْرُ الْمُؤَكَّدَةِ، ثُمَّ التَّرَاوِيحُ، ثُمَّ الضُّحَى، ثُمَّ رَكْعَتَا الطَّوَافِ، ثُمَّ التَّحِيَّةُ، ثُمَّ الْإِحْرَامُ، وَقِيلَ: الثَّلَاثَةُ سَوَاءٌ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ، ثُمَّ سُنَّةُ الْوُضُوءِ، ثُمَّ النَّفَلُ الْمُطْلَقُ فِي اللَّيْلِ ثُمَّ فِي النَّهَارِ.
Urutannya dimulai dari salat Idul Adha, Idul Fitri, gerhana matahari, gerhana bulan, istisqa, witir, lalu rawatib muakkadah dan ghairu muakkadah, kemudian tarawih, dhuha, hingga sunnah-sunnah lainnya.
Pendapat yang lebih tegas disampaikan Syamsuddin Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj. Ia menyatakan bahwa pendapat paling sahih adalah mendahulukan rawatib atas tarawih.
(لَكِنَّ الْأَصَحَّ) (تَفْضِيلُ الرَّاتِبَةِ) لِلْفَرَائِضِ (عَلَى التَّرَاوِيحِ) ؛ لِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَاظَبَ عَلَى تِلْكَ دُونَ هَذِهِ فَإِنَّهُ صَلَّاهَا ثَلَاثَ لَيَالٍ، فَلَمَّا كَثُرَ النَّاسُ فِي الثَّالِثَةِ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنْ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْهِمْ.
Alasannya, Nabi Muhammad SAW secara konsisten menjaga salat rawatib, sementara tarawih hanya beliau lakukan beberapa malam lalu dihentikan karena khawatir diwajibkan atas umatnya.
Dengan demikian, dalam perspektif madzhab Syafi’i, bakdiyah Isya sebagai bagian dari rawatib tetap memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan tarawih.
Tarawih tetap sunah yang agung, terutama di bulan Ramadan, namun dari sisi urutan keutamaan, rawatib didahulukan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


