Mudik dan Iktikaf: Pulang tanpa Meninggalkan Ramadan
Iktikaf memang tempatnya di masjid, di ruang yang sengaja dipilih untuk menepi dari kesibukan dunia. Namun ketika seseorang harus berada dalam perjalanan, maka ruh iktikaf tidak harus ikut tertinggal di masjid.

MALANG – Mudik selalu asyik. Ramadan tanpa mudik seperti ada yang hilang. Ia bagian dari tradisi yang melekat bagi kaum muslimin di Indonesia. Ramadan dengan suasananya yang khas. Ada yang bergegas mengejar malam-malam terakhir di masjid dengan iktikaf, ada pula yang mulai menyiapkan perjalanan mudik untuk pulang ke kampung halaman. Keduanya sama-sama memiliki nilai di hati umat Islam Nusantara, yang satu menguatkan hubungan dengan Allah, yang lain merawat hubungan dengan keluarga dan kerabat.
Namun, di sisi lain sebagian orang kerap merasakan dilema. Ketika ingin memaksimalkan iktikaf pada sepuluh malam terakhir, muncul panggilan untuk segera mudik. Ketika memilih pulang, ada rasa khawatir kehilangan momentum ibadah. Seolah-olah harus memilih: tinggal di masjid atau pulang ke rumah ya?. Padahal, sesungguhnya mudik dan iktikaf tidak harus dipertentangkan.
Iktikaf memang tempatnya di masjid, di ruang yang sengaja dipilih untuk menepi dari kesibukan dunia. Namun ketika seseorang harus berada dalam perjalanan, menempuh jalan panjang menuju kampung halaman, maka ruh iktikaf tidak harus ikut tertinggal di masjid.
Perjalanan itu bisa tetap diisi dengan tilawah Al-Qur’an, zikir, doa, dan menjaga hati dari hal-hal yang sia-sia. Tubuh mungkin sedang berada di jalan, tetapi hati tetap berada dalam suasana iktikaf: tenang, ingat kepada Allah, dan menjaga makna Ramadan agar tidak hilang di sepanjang perjalanan.
Karena tidak mungkin melakukan dua hal yang berbeda dalam satu waktu, kecuali ketika mampir dalam perjalanan, menepi ke masjid (bagi yang menaiki mobil pribadi) kemudian iktikaf dengan waktu tertentu.
Iktikaf pada dasarnya bukan sekadar berdiam di dalam masjid. Iktikaf adalah proses menata ulang hati, memusatkan jiwa, dan membersihkan diri dari hiruk-pikuk dunia. Ia ibarat kepompong, ruang sunyi tempat seorang Muslim berproses, berkontemplasi, memperbanyak zikir, doa, dan tilawah Al-Qur’an. Di dalam kepompong itu, ada perubahan yang tidak selalu tampak dari luar, tetapi sangat menentukan bentuk diri setelahnya.
Lalu, apa kaitannya dengan mudik?
Mudik sejatinya bukan hanya perjalanan fisik kembali ke kampung halaman. Mudik adalah pulang kepada akar, kepada orang tua, kepada keluarga, kepada kenangan, dan kepada silaturahim yang sering tertunda oleh rutinitas. Jika iktikaf adalah fase membangun kedekatan dengan Allah, maka mudik bisa menjadi fase membawa hasil kedekatan itu kepada sesama.
Dengan kata lain, kepompong iktikaf tidak harus pecah sia-sia di terminal, bandara, atau jalan tol. Justru dari sanalah seorang Muslim diuji: mampukah ia membawa ruh iktikaf itu ke dalam perjalanan pulangnya?
Karena itu, Ramadan tidak boleh hilang di jalan.
Perjalanan mudik dapat diubah menjadi ruang ibadah yang bergerak. Selama perjalanan, seorang Muslim tetap bisa menjaga nyala Ramadan dengan beberapa cara sederhana namun bermakna.
Membaca Al-Qur’an di sela perjalanan, mendengarkan tilawah, memperbanyak zikir, memperkuat niat bahwa mudik adalah bagian dari birrul walidain dan silaturahim, semua itu membuat jalan pulang tidak menjadi ruang kosong dari ibadah.
Bahkan, di tengah kemacetan sekalipun, hati tetap bisa tertambat kepada Allah.
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Inilah yang sering luput dipahami: ibadah tidak selalu berhenti ketika seseorang keluar dari masjid. Ada nilai-nilai iktikaf yang bisa tetap hidup di luar tembok masjid, yakni ketenangan, kesadaran, kedisiplinan ruhani, dan rasa dekat dengan Allah. Maka, meski perjalanan mudik menyita waktu, bukan berarti Ramadan harus tertinggal.
Setiba di kampung halaman pun demikian. Barangkali waktu untuk iktikaf tidak lagi sepanjang ketika berada di kota. Barangkali suasana rumah tidak sesunyi masjid. Akan tetapi, semangat iktikaf masih bisa diteruskan dalam bentuk yang mungkin lebih sederhana, namun tetap bermakna: duduk di masjid kampung selepas tarawih, bangun malam untuk membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar dan doa, serta menjaga hati dari kesia-siaan.
Di situlah letak pentingnya memahami Ramadan secara utuh.
Ramadan bukan hanya tentang memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga tentang memperindah hubungan horizontal dengan manusia. Membaca Al-Qur’an membentuk batin agar lebih jernih. Iktikaf melatih jiwa agar lebih tenang. Sementara silaturahim mengajarkan bahwa iman juga harus hadir dalam kelembutan kepada keluarga, dalam maaf yang diucapkan, dalam pelukan kepada orang tua, dan dalam langkah pulang yang penuh kasih.
Mudik tanpa ruh Ramadan akan mudah berubah menjadi perjalanan biasa. Sebaliknya, iktikaf tanpa dampak sosial bisa berhenti hanya pada kesalehan personal. Karena itu, keduanya perlu dipertemukan.
Iktikaf adalah kepompong yang menyiapkan perubahan. Mudik adalah perjalanan pulang seorang hamba yang ingin membawa perubahan itu ke rumahnya. Al-Qur’an menjadi cahaya yang menerangi jalan. Silaturahim menjadi buah yang dipetik dari ibadah yang dijalani sepanjang Ramadan.
Maka, ketika seseorang mudik di penghujung Ramadan, yang seharusnya ia bawa bukan hanya oleh-oleh, koper, atau bingkisan Lebaran. Ia harus membawa sesuatu yang lebih penting: hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, dan jiwa yang lebih dekat dengan Allah.
Sebab pada akhirnya, makna Ramadan bukan hanya diraih saat kita berdiam di masjid, tetapi juga saat kita pulang dengan membawa cahaya masjid itu ke dalam keluarga. Jangan sampai Ramadan tinggal di tempat kita beriktikaf. Biarkan ia ikut bersama kita di perjalanan, hadir dalam tilawah, hidup dalam zikir, tumbuh dalam silaturahim, lalu menetap dalam hati bahkan setelah kita sampai di kampung halaman. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

