Idul Fitri Merajut Persaudaraan: Hari Raya Bersama, Bukan Bersama Hari Raya
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, bagi yang melaksanakan hari ini (Jum''at) dan besok (Sabtu). karena Idul Fitri itu merajut persaudaraan. Hari Raya itu bersama, bukan bersama hari raya.

MALANG – Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang melaksanakan hari ini, dan selamat berpuasa yang masih melanjutkannya. Semoga semuanya diterima di sisiNya, menjadi amal terbaik. Semoga perbedaan ini, bukan perbedaan hati dan gerakan ukhuwah Islamiyah, hanya perbedaan tanggal saja.
Semoga berikutnya, bisa dikelola dengan lebih baik, bersama hati, gerak dan hari rayanya. Karena ini momen kebersamaan "Takbir Bersama", bukan takbir sendiri-sendiri.
Perbedaan penetapan Idul Fitri datang lagi. Seperti musim yang selalu berulang, ia hadir nyaris tanpa kejutan, sebagian berlebaran hari ini, sebagian esok hari. Langitnya sama, bulannya sama, Tuhannya sama, tetapi keputusan akhirnya berbeda.
Dan setiap kali itu terjadi, kita kembali diseret pada polemik yang seolah tak pernah selesai. Dan tidak sedikit yang cuek dengan perbedaan ini, "ah biasa saja" tahun depan kita bersama saja ya?!.
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan itu dan medsos tanpa putus terus diolah, ada satu hal mendasar yang kadang lepas dari perhatian kita hari raya sejatinya bukan terutama soal "kapan dirayakan, melainkan bagaimana ia menjaga kita tetap bersama".
Yuk! Kita sedikit menundukkan kepala, bahwa Idul Fitri tidak lahir untuk memecah manusia ke dalam kubu-kubu. Ia hadir sebagai puncak dari ibadah, tempat hati kembali lapang, jiwa kembali bening, dan hubungan antarsesama kembali dipulihkan.
Maka sungguh ganjil bila hari yang mestinya menjadi perayaan persaudaraan justru berubah menjadi panggung saling menyalahkan. Tapi, semoga ini hanya di medsos, tidak di hati dan pikiran kita yang sesungguhnya, eman banget puasa satu bulan menahan ego, lepas di hari yang dianggap paling suci "fitri".
Allah mengingatkan kita: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini tidak memberi syarat, bahwa bersaudara kalau metode hisabnya sama, bersaudara kalau rukyatnya seragam, atau bersaudara kalau keputusan organisasinya sejalan. Tidak. Persaudaraan dalam Islam berdiri di atas iman, bukan di atas kesamaan teknis penetapan tanggal. Ya, memang tidak harus sama, tapi kalau dikelola bisa bersama Hari Rayanya, betapa indahnya.
Perbedaan dalam perkara ijtihadiyah memang tidak bisa dihapus. Ia bagian dari dinamika ilmu. Ia telah ada sejak lama, dan para ulama pun memahaminya sebagai sesuatu yang bisa terjadi. Tetapi satu hal yang semestinya tidak ikut berbeda adalah "adab". Sebab ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, bukan kebijaksanaan.
Nabi Muhamamd shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pertanyaannya, tidakkah sikap meremehkan, mencibir, menyindir, bahkan mengejek saudara sendiri karena beda hari raya termasuk bentuk menyakiti? Tidakkah merasa kelompok sendiri paling suci, paling akurat, paling otentik, lalu memandang yang lain dengan sinis, justru bertentangan dengan ruh Idul Fitri itu sendiri?
Yang lebih menyedihkan, perbedaan yang mestinya dikelola dengan dewasa justru sering berubah menjadi kontestasi ego. Hari raya seperti direduksi menjadi ajang pembuktian: siapa yang paling benar, siapa yang paling presisi, siapa yang paling layak diikuti. Seakan-akan kemenangan di hari fitri bukan lagi kemenangan melawan hawa nafsu, melainkan kemenangan memenangkan gengsi kelompok.
Padahal, setelah sebulan penuh berpuasa, yang semestinya tumbuh dalam diri kita bukanlah keangkuhan, melainkan ketundukan; bukan merasa paling benar, melainkan semakin mudah memuliakan orang lain.
Allah berfirman: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini tidak memerintahkan kita meniadakan seluruh perbedaan. Tetapi Ayat ini tegas memerintahkan agar perbedaan jangan sampai menjelma perpecahan. Ada jarak yang sangat jauh antara berbeda dan bercerai-berai. Yang pertama mungkin tidak terhindarkan, tetapi yang kedua sering kali lahir dari ego, fanatisme, dan hilangnya kebesaran jiwa.
Ironis sekali, kita bisa bertahan sebagai umat di tengah perbedaan mazhab, tradisi, bahasa, budaya, bahkan pilihan politik; tetapi goyah hanya karena selisih satu hari dalam penetapan hari raya. Kalau ukhuwah runtuh hanya karena itu, mungkin masalah kita bukan pada kalender, melainkan pada kedewasaan hati.
Di sinilah kita perlu bertanya dengan hati terindah, apakah kita benar-benar sedang merayakan Idul Fitri, atau jangan-jangan hanya sedang merayakan identitas kelompok? Apakah kita sedang membesarkan syiar Islam, atau sekadar membesarkan ego organisasi? Apakah kita sungguh ingin memuliakan agama, atau hanya ingin memastikan bahwa kelompok kitalah yang tampak paling unggul?
Hari raya seharusnya menjadi ruang pertemuan, bukan ruang pemisahan. Ia mestinya menjadi momen ketika sekat-sekat dilunakkan, bukan justru dipertebal. Karena itu, yang jauh lebih penting dari sekadar "bersama hari raya" adalah "hari raya bersama": bersama dalam kasih sayang, bersama dalam saling menghormati, bersama dalam menjaga keutuhan umat walau langkah penetapan tidak selalu serempak.
Nabi Muhammad juga mengingatkan: “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat “jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” terasa sangat relevan dalam konteks ini. Sebab yang dibutuhkan umat hari ini bukan tambahan orang pandai untuk memenangkan perdebatan, melainkan lebih banyak orang bijak yang mampu menjaga jembatan persaudaraan. Umat ini tidak kekurangan argumentasi. Umat ini kekurangan kelapangan hati.
Sudah saatnya kita berhenti menjadikan perbedaan sebagai bahan untuk saling mengukur kadar keislaman. Tidak semua yang berbeda harus dicurigai. Tidak semua yang tidak sama harus dijauhkan. Dalam banyak kasus, yang paling penting bukan siapa yang lebih dulu bertakbir, tetapi siapa yang tetap bisa memeluk saudaranya yang bertakbir di waktu berbeda.
Pada akhirnya, Idul Fitri bukan tentang siapa yang paling cepat sampai pada tanggal satu Syawal. Idul Fitri adalah tentang siapa yang paling berhasil kembali kepada fitrah: hati yang lembut, jiwa yang lapang, dan tangan yang tetap terulur kepada saudara, meski tak selalu berdiri pada barisan waktu yang sama.
Sebab umat ini tidak sedang butuh kemenangan kelompok. Umat ini sedang butuh kebersamaan.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, bagi yang melaksanakan hari ini (Jum''at) dan besok (Sabtu). (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

