Tanda-Tanda Mendekati Kematian dalam Perspektif Al-Qur’an
Penjelasan Quraish Shihab tentang tanda sakaratul maut hingga kehidupan di alam barzakh. Ulasan mendalam tentang kematian menurut perspektif Islam.
JAKARTA – Kematian adalah kepastian yang tak bisa dihindari oleh setiap manusia. Dalam perspektif Islam, sejumlah ulama menjelaskan bahwa ada tanda-tanda tertentu yang dapat muncul saat seseorang mendekati akhir hayatnya sebuah fase yang sarat makna spiritual sekaligus pengingat bagi yang masih hidup.
Ahli tafsir terkemuka Indonesia, M. Quraish Shihab, mengungkap bahwa Al-Qur’an menggambarkan proses menjelang kematian sebagai tahap ketika kehidupan perlahan-lahan meninggalkan tubuh. Ia menyebutkan, terdapat ratusan ayat yang membahas kematian, salah satunya menggambarkan kondisi fisik yang melemah secara bertahap hingga diibaratkan “lutut bertemu lutut”sebuah simbol meredupnya kekuatan hidup.
Dalam penjelasannya di program Shihab & Shihab yang dikutip dari YouTube, Quraish Shihab menerangkan bahwa pada fase akhir sakaratul maut, nyawa berada di tenggorokan. Pada titik ini, seseorang telah berada di ambang perpisahan dengan dunia, dan kesempatan untuk bertobat pun telah tertutup.
Ia juga menuturkan, orang-orang di sekitar biasanya dapat mengenali tanda menjelang wafat melalui suara napas yang berat atau seperti dengkuran. Bunyi tersebut kerap menjadi pertanda bahwa ruh akan segera meninggalkan jasad.
Setelah kematian, manusia diyakini tidak lagi berada di alam dunia, melainkan memasuki fase lain yang disebut alam barzakh—sebuah ruang penantian sebelum datangnya hari kiamat. Di fase ini, manusia menunggu hingga ditiupnya sangkakala, yang menjadi tanda kebangkitan seluruh umat manusia.
Selanjutnya, manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk menjalani proses hisab atau perhitungan amal. Pada saat itu, setiap individu dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya selama hidup, termasuk bagaimana ia memanfaatkan waktu dan harta.
Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa gambaran manusia dikumpulkan tanpa pakaian sebagaimana disebut dalam hadis tidak semata dimaknai secara harfiah. Kondisi tersebut melambangkan bahwa manusia hadir di hadapan Tuhan tanpa atribut duniawi—tanpa jabatan, tanpa kekayaan, dan tanpa sesuatu yang bisa disembunyikan.
Proses perhitungan amal pun tidak sama bagi setiap orang. Ada yang dihisab secara rinci, ada pula yang mendapat kemudahan. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk terus memperbaiki diri dan memperbanyak amal sebagai bekal menghadapi kematian.
Ia mengingatkan, ajal bisa datang kapan saja dan dalam kondisi apa pun—saat berbicara, duduk, atau menjalani aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa berada dalam jalan yang diridhai Allah.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


