Menguak Rahasia Tawaf di Baitullah; Ini Penjelasan Pembimbing Haji ESQ Tours Travel
Pada saatnya nanti, setiap orang pasti akan merindukan Makkah—merindukan teriknya matahari, desak-desakan jemaah demi merengkuh sudut Kakbah, hingga syahdunya memandang rumah Allah.
JAKARTA – Baitullah di Kota Suci Makkah bukan sekadar bangunan kiblat umat Islam di seluruh dunia. Lebih dari itu, Kakbah merupakan pusat spiritualitas bumi yang menyimpan rahasia dan keutamaan luar biasa, khususnya melalui ibadah tawaf.
Pembimbing Haji ESQ Tours Travel, Dr. KH. Abdul Adzim Irsad, mengungkapkan bahwa Baitullah adalah satu-satunya tempat ibadah tertua di dunia yang berada tepat di pusaran bumi. Sejak zaman Nabi Adam AS hingga saat ini, Islam telah menjadikan Baitullah sebagai pusat perputaran (tawaf) sepanjang masa.
"Ciri utama para nabi, sahabat, kekasih Allah (waliyullah), dan para ulama adalah senantiasa melakukan tawaf mengelilingi rumah suci ini," ujar Dr. KH. Abdul Adzim Irsad langsung dari Makkah, Kamis (4/6/2026).
Keutamaan Tawaf: Penghapus Dosa dan Pengangkat Derajat
Bukan tanpa alasan ibadah mengelilingi Kakbah ini begitu diagungkan. Dr. KH. Abdul Adzim Irsad menjelaskan bahwa para ahli hadis (muhaddisin) terkemuka—seperti Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Al-Tirmidzi, hingga Imam Al-Ghazali—banyak mengupas tuntas tentang besarnya pahala tawaf.

Dalam berbagai literatur hadis, dijelaskan bahwa setiap derap langkah kaki di pelataran tawaf mampu menghapus kesalahan, melebur dosa, sekaligus mengangkat derajat seorang manusia di sisi Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW mensinyalir bahwa tawaf dapat mengembalikan kesucian jiwa manusia.
"Dalam kitab Syifa'ul Gharam bi Ahbari Al-Baladi Al-Haram, Syekh al-Fasi menukil hadis Nabi yang menyebutkan bahwa barangsiapa melaksanakan tawaf seminggu sebanyak 70 kali, maka akan terhapus semua dosanya hingga ia bersih seperti bayi yang baru dilahirkan," papar Kiai Abdul Adzim.
Dua Waktu Utama Melaksanakan Tawaf
Lebih lanjut, Pembimbing Haji ESQ Tours Travel ini memaparkan adanya dua waktu emas untuk melaksanakan tawaf, sebagaimana merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan Sa'id bin Musayyab. Rasulullah SAW bersabda mengenai dua tawaf yang menjamin terhapusnya seluruh dosa seorang hamba, yakni tawaf setelah Salat Subuh, yang diselesaikan menjelang matahari mulai terbit. Dan, tawaf setelah Salat Ashar, yang diselesaikan menjelang waktu Maghrib.
Ibadah ini begitu istimewa hingga menjadi ciri khusus bagi para tamu Allah dan penduduk Makkah. Jika penduduk bumi (manusia, jin, bahkan binatang) dimuliakan dengan tawaf di Baitullah, maka penduduk langit memegang kemuliaan dengan bertawaf mengelilingi Baitul Ma’mur.
Malaikat adalah makhluk pertama yang mengelilingi Baitullah, disusul oleh Nabi Adam AS. Ketika Adam memohon ampunan untuk dirinya dan keturunannya setelah bertawaf, Allah SWT langsung mengabulkan dan mengampuni dosa-dosanya.
Pentingnya tawaf juga ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 29 dan Surah Al-Baqarah ayat 125, yang menegaskan bahwa ibadah haji dan umrah tidak akan sempurna tanpa kehadiran tawaf.
Kesakralan Pelataran Kabah dan 120 Rahmat Setiap Hari
Pelataran Baitullah memancarkan kesakralan yang luar biasa. Setiap doa yang dipanjatkan saat tawaf langsung diamini oleh para malaikat yang ikut berputar bersama manusia dan bangsa jin. Tempat ini begitu suci karena setiap jengkal tanahnya pernah dipijak oleh para nabi, rasul, orang-orang shalih, dan ulama besar. Bahkan, Imam Bukhari menulis kitab hadis monumental-Nya di pelataran suci ini.
Selain tawaf, memandangi Ka'bah pun bernilai ibadah yang tinggi. Dr. KH. Abdul Adzim Irsad menyebutkan bahwa setiap hari Allah SWT menurunkan 120 rahmat di Masjidil Haram, yang dibagi menjadi tiga bagian:
60 Rahmat diberikan bagi orang yang melaksanakan tawaf sunah.
40 Rahmat diberikan bagi orang yang melaksanakan salat sunah.
20 Rahmat diberikan bagi orang yang sekadar memandangi Baitullah.
"Namun, baik tawaf, salat, maupun memandangi Kakbah, semuanya harus dilakukan dengan niat ibadah, penuh penghayatan, rasa takzhim (keagungan), dan takrim atas kebesaran Allah SWT," tegasnya.
Jangan Habiskan Waktu di Mal dan Kamar Tidur
Menutup pemaparannya, Dr. KH. Abdul Adzim Irsad memberikan pesan menyentuh bagi para jemaah yang sedang berada di Tanah Suci. Beliau mengingatkan agar jemaah memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beribadah di sekitar Kakbah.
"Jangan sampai saat berada di Makkah, waktu kita justru habis hanya untuk tidur di kamar atau berjalan-jalan di mal, hingga lupa bahwa Baitullah sangat merindukan kita," pesan Kiai Abdul Adzim.
Pada saatnya nanti, setiap orang pasti akan merindukan Makkah—merindukan teriknya matahari, desak-desakan jemaah demi merengkuh sudut Kakbah, hingga syahdunya memandang rumah Allah.
"Setiap tetesan keringat yang membasahi lantai pelataran Baitullah akan menjadi saksi abadi di akhirat kelak bahwa kita pernah datang dan memenuhi panggilan Allah SWT," ujar Pembimbing Haji ESQ Tours Travel ini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


