Advertisement
Religi

Antara Rindu Rumah dan Sedih Tinggalkan Tanah Suci, saat Harus Pulang ke Indonesia

Rasanya sedih harus meninggalkan Madinah dan Makkah sekarang.

TIMES Indonesia,
Antara Rindu Rumah dan Sedih Tinggalkan Tanah Suci, saat Harus Pulang ke Indonesia
Wajah haru, bahagia, sedih tampak saat jemaah haji Indonesia harus kembali ke tanah air. (Foto: Fahmi/MCH 2026)
A-AA+

JAKARTA Jemaah haji Indonesia yang masuk dalam gelombang dua kini sudah mulai diterbangkan pulang ke Tanah Air melalui Bandara Madinah.

Momen kepulangan ini memicu suasana haru yang campur aduk di hati para jemaah haji indah. Di satu sisi sudah sangat rindu dengan keluarga di rumah, namun di sisi lain ada rasa sedih karena harus berpisah dengan Madinah dan Makkah.

Advertisement

​Kelancaran ibadah yang dirasakan para jemaah haji Indonesia ini tidak lepas dari fasilitas dan pelayanan yang dinilai sangat memuaskan selama di Tanah Suci.

Jalal, salah seorang jemaah dari kelompok terbang (kloter) KJT 21 rombongan 4, memberikan pujian tinggi untuk para petugas haji yang selalu siaga di setiap sudut tempat ibadah sehingga membuat jemaah merasa tenang.

​“Awalnya saya khawatir makanan di sini tidak cocok di lidah, ternyata rasanya sama seperti di rumah,” ucap Jalal kepada Media Center Haji (MCH) di Madinah,  Selasa (16/6/2026).

Menurut Jalal dari sisi lokasi dan transportasi, semuanya sangat terjangkau aksesibilitasnya. “Mau ke Masjidilharam ada bus gratis, dan hotel di Madinah sangat dekat dengan Masjid Nabawi,” ujarnya. 

“Bahkan saat saya lupa menaruh sandal, sepulang salat Dhuhur saya bertemu petugas dan langsung diberi sandal jepit. Saya sangat berterima kasih karena lantai di sini sangat panas,” cerita Jalal penuh haru saat di Madinah. 

Advertisement

​Hal yang sama juga dirasakan oleh Ishak. Jemaah yang sudah dua kali pergi haji ini melihat ada perubahan dan peningkatan pelayanan yang luar biasa dibandingkan saat pertama kali ia naik haji pada tahun 2012 lalu.

Menurutnya, keberadaan petugas yang sigap sangat membantu jemaah, mulai dari mengarahkan jalan, membawakan barang, sampai mengurus jemaah lansia.

​“Dulu pelayanan tidak seperti ini. Sekarang petugas ada di mana-mana untuk mengarahkan kita, bahkan mau naik bus saja koper dibawakan, dan jemaah lansia banyak yang digendong. Kami menjadi tidak khawatir dan bisa lebih fokus ibadah,” ungkapnya. 

“Namun, rasanya sedih harus meninggalkan Madinah dan Makkah sekarang. Rasanya masih ingin berlama-lama ibadah di sini, tapi hati juga rindu rumah. Semoga kami masih diberikan kesempatan untuk kembali ke Tanah Suci,” tandas Ishak. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia