Advertisement
Religi

Gantikan Ayah Berhaji, Sabar Munasir Lunasi Utang Rp500 Juta Sebelum Berangkat ke Tanah Suci

Kisah Sabar Munasir (35), jemaah haji asal Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menjadi inspirasi di musim haji 2026.

TIMES Indonesia,
Gantikan Ayah Berhaji, Sabar Munasir Lunasi Utang Rp500 Juta Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Sabar Munasir bersama ibunya. (FOTO: dok. MCH)
A-AA+

Madinah Kisah Sabar Munasir (35), jemaah haji asal Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menjadi inspirasi di musim haji 2026. Pria yang hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar (SD) itu berangkat ke Tanah Suci menggantikan ayahnya, Munasir (71), yang tidak dapat berhaji karena kondisi kesehatan yang tidak memenuhi syarat istitaah.

Bagi Sabar, kesempatan berhaji tersebut bukan sekadar menggantikan posisi sang ayah, tetapi juga amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Sebelum berangkat, ia bahkan menyerahkan uang Rp50 juta kepada ayahnya sebagai pengganti biaya haji yang telah dibayarkan sejak bertahun-tahun lalu.

Advertisement

"Saya menganggap ini hutang kepada bapak. Walaupun saya yang berangkat, saya tetap mengganti biaya yang sudah dikeluarkan bapak sebesar Rp50 juta," ujar Sabar saat ditemui di Mirage Taiba Hotel, Madinah dikutip pada Minggu (21/6/2026). 

Keputusan tersebut tidak mudah. Apalagi dalam dua tahun terakhir, Sabar masih berjuang melunasi utang usaha yang mencapai Rp500 juta kepada salah satu bank.

Menurutnya, seluruh utang harus diselesaikan sebelum berangkat haji. Ia tidak ingin meninggalkan beban kepada keluarga karena menganggap ibadah haji sebagai perjalanan jihad yang penuh ketidakpastian.

"Haji ini medan jihad. Kita tidak pernah tahu bisa pulang lagi atau tidak. Karena itu saya berusaha melunasi semua hutang sebelum berangkat," katanya.

Menjelang keberangkatan, Sabar masih harus melunasi sisa utang sebesar Rp125 juta. Setelah semua kewajiban selesai, uang yang tersisa untuk bekal berhaji hanya sekitar Rp5 juta.

Advertisement

"Yang penting hutang selesai dulu. Soal bekal nanti Allah yang cukupkan," ujarnya.

Sabar berasal dari keluarga sederhana. Ibunya, Painah, sehari-hari berjualan daun pisang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Tahun ini, ia berangkat haji bersama sang ibu.

Keinginannya mendampingi ibunya menjadi alasan utama menerima pelimpahan porsi haji dari ayahnya. Ia merasa tidak tega jika sang ibu harus berangkat seorang diri karena hanya bisa berbahasa Jawa.

"Saya kasihan ibu kalau berangkat sendiri. Beliau hanya bisa bahasa Jawa. Akhirnya keluarga bermusyawarah dan saya yang menggantikan bapak," ungkapnya.

Dari empat bersaudara, keluarga menilai Sabar sebagai sosok yang paling siap mendampingi ibunya selama menjalankan ibadah haji. Meski pendidikannya terbatas, ia dinilai memiliki pemahaman agama yang cukup.

Sebelum menjadi pedagang, Sabar pernah merantau ke Jakarta dan bekerja pada seorang pengusaha yang mengajarkannya tentang kedisiplinan, kerja keras, dan kesungguhan dalam mencari rezeki.

Kini ia mengelola toko kelontong di wilayah Sambek, Wonosobo. Dengan memanfaatkan sistem pembayaran digital seperti QRIS, usahanya berkembang cukup pesat.

"Saya selalu siap melayani pembeli kapan pun. Mau datang malam atau pagi, kalau soal rezeki jangan ditolak," katanya.

Prinsip tersebut ia pelajari dari ibunya yang selalu bekerja keras demi memenuhi kebutuhan pelanggan.

"Dulu ibu ada pesanan daun pisang jam 10 malam, jam 11 malam tetap dicari. Dari situ saya belajar bahwa rezeki harus dijemput, jangan ditolak," tuturnya.

Sabar mengaku tidak memiliki rahasia khusus hingga mampu melunasi utang ratusan juta rupiah dalam waktu yang relatif singkat. Namun, ia meyakini bahwa keberhasilannya tidak lepas dari bakti kepada orang tua dan menjaga kepercayaan orang lain.

"Orang tua adalah tuhan hidup di dunia. Saya sudah banyak mendatangi orang pintar dan dukun, tapi tidak ada doa yang lebih hebat daripada doa orang tua," ujarnya.

Selain itu, ia juga rutin menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis selama 40 hari berturut-turut, kemudian menutupnya dengan syukuran sesuai nasihat salah satu mantan majikannya.

Menurut pengakuannya, setelah menjalani ikhtiar tersebut, usaha yang dijalankannya mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

"Saya sendiri heran. Rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Tapi saya yakin itu karena ikhtiar, doa orang tua, dan menjaga kepercayaan orang lain," katanya.

Bagi Sabar, berhaji merupakan impian besar setiap muslim. Karena itu, di tengah kesibukannya berdagang, ia selalu berusaha menyisihkan sebagian penghasilannya untuk biaya ibadah.

"Sandang, pangan, papan harus terpenuhi. Tapi untuk haji juga harus disisihkan. Sejauh-jauh piknik, yang paling jauh dan paling istimewa ya piknik ke Tanah Suci baik haji atau umrah," ujarnya.

Perjalanan hidup Sabar menjadi bukti bahwa keterbatasan pendidikan bukan halangan untuk meraih cita-cita. Dengan kerja keras, tanggung jawab, dan bakti kepada orang tua, ia berhasil melunasi utang Rp500 juta, mengganti biaya haji ayahnya, serta mendampingi sang ibu menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia