
TIMESINDONESIA, JAKARTA – Panitia Khusus (Pansus) dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan agar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kembali ke Khittah 1998 dan mengembalikan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai sesuai dengan desain aslinya.
Seruan ini muncul setelah Pansus PBNU melakukan kajian mendalam terhadap dokumen historis dan wawancara dengan narasumber relevan terkait PKB.
Advertisement
Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, menyatakan bahwa kajian tersebut mengungkap penyimpangan signifikan dalam struktur dan arah perjuangan PKB sejak Muktamar Luar Biasa di Ancol pada 2008. PBNU menegaskan bahwa kesuksesan PKB tidak hanya bisa diukur dari perolehan kursi di legislatif, tetapi juga dari sejauh mana partai tersebut setia pada prinsip-prinsip dasar yang diamanatkan oleh NU saat PKB didirikan pada tahun 1998.
Pansus PBNU juga menemukan bahwa perubahan signifikan telah terjadi dalam struktur kepemimpinan PKB. Awalnya, PKB dirancang sebagai perpanjangan dari Gerakan Reformasi NU, dengan struktur yang menempatkan Dewan Syura sebagai pemimpin tertinggi. Namun, sejak Muktamar 2019, peran Dewan Syura telah direduksi, dan kekuasaan semakin terpusat pada Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar.
Dalam konteks ini, PBNU mengajak seluruh peserta Muktamar PKB yang akan digelar di Bali pada 24-25 Agustus 2024 untuk bersama-sama mengembalikan PKB ke Khittah 1998.
"PBNU mengajak kepada seluruh peserta Muktamar PKB yang akan bermusyawarah di Bali pada tanggal 24-25 Agustus 2014 untuk kembali ke Khittah PKB 1998 dan mengembalikan AD-ART PKB kepada desain aslinya," kata Amin Said Husni.
Berikut temuan-temuan Pansus PBNU terkait dengan PKB:
1. PKB dideklarasikan pada 23 Juli 1998 sebagai partai politik yang lahir dari rahim NU dan proses kelahirannya ‘dibidani’ oleh PBNU melalui serangkaian rapat-rapat resmi PBNU dan penerbitan surat-surat resmi PBNU dengan melibatkan seluruh struktur organisasi secara nasional.
2. Sebagai anak kandung Gerakan Reformasi yang lahir dari rahim NU, PKB pada awal kelahirannya benar-benar menjadi "mirroring" NU, baik dari aspek nilai-nilai dasar perjuangannya, desain konstitusi dan permusyawaratannya, maupun struktur organisasinya. Konsep struktur kepemimpinan PKB menganut struktur kepemimpinan NU di mana ulama menempati posisi kepemimpinan tertinggi. Dewan Syura berada di atas Dewan Tanfidz. Dewan Syura adalah Pimpinan Tertinggi Partai. Sedangkan Dewan Tanfidz adalah eksekutif/pelaksana saja (padsal 16 AD PKB Tahun 1998).
3. Sejak Muktamar Luar Biasa PKB di Ancol Jakarta pada 2008, PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar terus mengalami perubahan yang sangat mendasar dan bahkan menyimpang sangat jauh dari desain aslinya. Yang paling prinsipil adalah perubahan posisi dan kewenangan Dewan Syura yang tidak lagi berkedudukan sebagai Pimpinan Tertinggi Partai, melainkan hanya sebagai dewan penjaga garis-garis perjuangan partai (Pasal 17 AD PKB Tahun 2019).
4. Selain itu juga terjadi penyimpangan pada sistem permusyawaratan PKB. Pada awalnya, PKB dirancang sebagai partai politik yang demokratis dan menganut piramida kedaulatan anggota. Ketua Dewan Tanfidz pada setiap tingkat kepengurusan dipilih dari dan oleh peserta musyawarah setelah mendapat persetujuan dari Ketua Dewan Syura terpilih. Namun sekarang prinsip dasar permusayawaratan dan kedaulatan itu dirombak sedemikian rupa, sehingga pimpinan partai di tingkat DPW dan DPC tidak lagi dipilih dari dan oleh peserta musyawarah, melainkan ditetapkan secara top-down oleh DPP PKB.
5. Muktamar PKB Tahun 2019 menghasilkan AD-ART PKB yang semakin jauh menyimpang dari khittahnya. Ketua Umum DPP PKB dinobatkan sebagai satu-satunya “Mandataris Muktamar”. Kekuasaan semakin memusat di tangan Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum. Dia punya kewenangan mengambil tindakan apa saja atas nama ‘menjaga keutuhan organisasi’. Dia juga berkuasa untuk mengubah struktur, menyusun, mengganti, dan memberhentikan personalia pengurus (Pasal 19 AD PKB Tahun 2019). (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Faizal R Arief |
Publisher | : Sofyan Saqi Futaki |