Konferensi Internasional Mengupas Etika Penggunaan AI di Dunia Pendidikan

TIMESINDONESIA, MALANG – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) sukses menyelenggarakan Internasional Conference on Education and Technology (ICET) ke 10 tahun 2024, Kamis (10/10/2024). Kegiatan yang digelar di Hotel Ijen Suites Malang itu mengambil tema "Digital Resilience and Empowering Ethical Artificial Intelligence (AI) for Education".
Ada empat narasumber kompeten yang dihadirkan dalam konferensi yang di hadiri oleh ratusan peserta dari dalam dan luar negeri itu. Seperti Dr. Alex Wing Cheung Tse, EdD dari The University of Hong Kong, Prof. Hongliang Ma, PhD dari Shaanxi Normal University, China, Prof. Rex Perez Bringula, PhD dari University of the East Philippines, dan Assoc. Prof. Saida Ulfa, M.Edu, PhD dari Universitas Negeri Malang.
Wakil Rektor IV UM Prof. Ir. Arif Nur Afandi, S.T., M.T., MIAEng, PhD yang hadir dalam pembukaan acara mengatakan bahwa konferensi ini diusung dengan tema yang luar biasa, sesuai dengan isu yang sedang trend dan dibutuhkan oleh masyarakat. Yakni terkait dengan AI dan dunia pendidikan.
Menurutnya, penggunaan AI dengan dengan perilaku yang baik merupakan hal yang lebih penting untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Dan pendidikan memiliki peran besar untuk memberikan masyarakat pengetahuan yang cukup dan menggunakannya sebagai bagian dari pendekatan pendidikan berbasis teknologi AI.
Ketua Pelaksana 2024 10th ICET, Ence Surahman MPd PhD menerangkan, tema ini diangkat dalam ICET 2024 sebagai bentuk kesadaran dunia pendidikan terhadap etika dalam penggunaan AI.
"AI memang sedang naik daun, tapi kita sebagai pendidik harus juga aware tentang persoalan etik di dalam menggunakan teknologi tersebut. Karena kalau tidak kita perhatikan etik, nanti baik pendidik ataupun peserta didik akan terjebak pada pelanggaran etis yang tidak dibenarkan," ucapnya.
Dia memberikan contoh, beberapa hal yang termasuk pelanggaran etika dalam penggunaan AI adalah ketika seseorang mencari kunci jawaban menggunakan AI. "Jika hal itu dilakukan, pada saat yang sama ini akan mereduksi kejujuran akademik atau akademik integrity," tegasnya.
Pria yang memperoleh gelar doktoral di National Tsing Hua University (NTHU) Taiwan itu melanjutkan, AI berkembang pesat hampir di seluruh bidang, termasuk di pendidikan. Namun, penggunaan AI di dunia pendidikan ini harus bisa di kontrol untuk menjaga integritas dari pendidikan itu sendiri.
"Sehingga untuk bisa kita gunakan dengan baik, itu harus kita guide dengan kebijakan-kebijakan dari kampus atau dari sekolah. Harus ada batasan-batasan tentang penggunaan AI," tandasnya.
Jika penggunaan AI tidak dikontrol, dan digunakan dalam hal apapun yang dibutuhkan oleh seseorang, hal ini berpotensi menjadikan seseorang ketergantungan pada teknologi tersebut.
"Kalau tidak ada koneksi atau tidak bisa menggunakan AI, kita jadi tidak tahu apa apa. Padahal ini sesuatu yang mendasar. Pendidikan tidak tidak ingin kita menjadi orang yang bergantung pada teknologi AI," tuturnya. Di pendidikan, hal ini tentu berlaku bagi semuanya, baik pendidik maupun peserta didik.
Untuk bisa mengontrol penggunaan AI di dunia pendidikan, kampus atau sekolah bisa mengadopsi aturan telah yang diterapkan oleh publiser jurnal internasional. Dimana sebelum mengirim jurnal, peneliti diwajibkan untuk membuat sebuah deklarasi yang menerangkan bagian mana saja dari penelitanya yang menggunakan AI.
"Kebijakan ini memang harus diadopsi oleh para dosen di kampus, bahwa mahasiswa itu boleh menggunakan AI tapi pada batasan tertentu. misalnya mencari sumber informasi, ngecek grammar, dan lainya yang masih wajar. Tapi Tapi kalau mengerjakan tugasnya itu harus dikerjakan sendiri tanpa bantuan AI," jelas Ence.
Sebagai tambahan informasi, ada ratusan peserta yang hadir dalam ICET 2024 ini. Sebanyak 248 orang hadir secara online yang kebanyakan merupakan mahasiswa S2 dan S3 FIP UM. Kemduian ada 96 orang yang hadir secara langsung, dimana 35 orang diantaranya berasal dari Malaysia.
"kami tahun ini menerima sebanyak 137 naskah dari 16 negara dan 531 penulis, dengan jumlah afiliasi atau kampus sebanyak 177. Kita review melibatkan sekitar 60 reviewer dari berbagai negara. hanya hanya 47 yang kita terima," terangnya.
Dia mengklaim, banyaknya naskah yang masuk adalah karena ICET ini adalah salah satu konferensi di bidang pendidikan yang cukup diperhitungkan dan kompetitif di Indonesia. Bahkan konferensi ini juga telah diakui oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). (*)
"Output kegiatan ini, naskah sudah diterima hari ini akan kita akan proses proseding di jurnal terindeks scopus. Dari tahun 2018 sejak pertama kalokita terindeks scopus, kita sudah menerbitkan 225 artikel," pungkasnya. (*)
Advertisement
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Ferry Agusta Satrio |
Publisher | : Rizal Dani |