Kopi TIMES

Kebahagiaan yang Tersisih dalam Pandangan Ekonomi

Secara teori kita selalu diajarkan untuk mengukur kesejahteraan penduduk. Maka yang menjadi indikator utama adalah nilai tambah “value added.” Kemudian dibagi dengan ...

TIMES Indonesia,
Kebahagiaan yang Tersisih dalam Pandangan Ekonomi
Supriadi M HI Habib (Mahasiswa Pascasarjana ilmu ekonomi Universitas Negeri Malang)
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Secara teori kita selalu diajarkan untuk mengukur kesejahteraan penduduk. Maka yang menjadi indikator utama adalah nilai tambah “value added.” Kemudian dibagi dengan jumlah penduduk maka akan menghasilkan pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita inilah yang menjadi indikator dalam mengukur kesejahteraan masyarakat.

Ironisnya, pendapatan per kapita tidak selalu mencerminkan kesejahteraan di hadapan masyarakat. Sebagai contoh banyak orang-orang yang memiliki pendapatan per kapita yang tinggi tetapi tidak bahagia. 

Advertisement

Sederhananya adalah korea selatan yang konon katanya adalah salah satu negara maju dengan tingkat pendapatan tertinggi. Namun semua itu, tidak mencerminkan kesejahteraan apapun. Buktinya korea selatan telah mejadi salah satu negara dengan angka bunuh diri kelompok usia mudah tertinggi di dunia.

Oleh karena itu Richard Layard salah satu ekonom yang berasal dari inggris telah menawarkan bahwa yang harus menjadi salah satu indikator utama dalam mengukur kesejahteraan adalah harus ada  kebahagiaan “Happiness.” Unsur kebahagiaan harus terlebih dahulu dipenuhi. 

Kesejahteraan bisa dipenuhi dengan berbagi aspek seperti hubungan keluarga, situasi keuangan, pekerjaan, kesehatan, kebebasan individu, dan nilai-nilai individual lainnya. Hal ini menunjukan bahwa capaian kesejahteraan tidak hanya dapat diukur dari segi keuangan semata. 

Unsur-unsur kebahagiaan dan rasan senang dapat ditunjukan dengan adanya keharmonisan hubungan dalam rumah tangga, ketenangan jiwa dan raga. Kita bisa melihat bahwa banyak orang-orang yang secara faktual memiliki pendapatan yang rendah tetapi selalu bahagia, hidup aman dan tentram.

Ukuran ekonomi ini kemudian coba dilengkapi dengan ukuran kebahagiaan, Artinya bahwa untuk melihat kesejahteraan juga perlu untuk melihat hubungan kausalitas “sebab-akibat” yang terjadi. Terkadang dalam melihat kesejahteraan kita hanya menggunakan satu pendekatan saja yang selalu dimunculkan yakni pendekatan ukuran pendapatan per kapita “moneter” dan sosial saja. 

Advertisement

Sudah seharusnya konsep tentang pembangunan itu tidak hanya mengajarkan tentang ukuran kesejahteraan dengan konteks kehidupan di dunia saja. Ukuran kesejahteraan juga dapat diperoleh dari bagaimana cara seseorang berinteraksi dengan sang penciptanya, sehingga ini akan melahirkan kebahagiaan yang tidak hanya dalam konteks lahirnya saja. Tetapi kebahagiaan dalam arti batin-pun dapat diperoleh.

Hal utama yang harus dilakukan dalam upaya untuk  mencapai kebahagiaan adalah dengan cara membatasi kepuasan “satisfaction”. Memang manusia menuntut kepuasan yang tinggi adalah salah satu hal yang telah dibenarkan dalam konsep ekonomi, namun dalam kondisi dan situasi tertentu.

Kita harus mampu membatasi kepuasan, karena rasa syukur dengan apa yang kita miliki saat ini adalah cerminan dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sebenarnya aspek pemenuhan kebahagiaan batin sudah terlebih dahulu diajarkan oleh para filosof agama pada abad ke-XV, yang mengajarkan bahwa pemenuhan kesehatan dan interaksi dengan sang pencipta itu adalah salah satu yang harus diutamakan dibandingkan dengan pemenuhan kehidupan ekonomi. 

Karena kaum gerejawan menganggap bahwa pemenuhan aspek ekonomi untuk diri sendiri dinilai sebagai sesuatu yang dilarang “dosa” karena hal itu dapat melalaikan interaksi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan tuhannya.

Sementara itu, hal ini justru berbanding terbalik dengan perekonomian pasar yang justru malah menghendaki sebaliknya bahwa kesejahteraan seseorang dapat dilihat dari kemampuan keuangannya dan bukan pada aspek sosialnya dengan sang pencipta. Bahwa seseorang dapat dikatakan bahagia apabila dia mampu memiliki kekayaan materil dibandingkan dengan kekayaan moralnya. 

Disinilah kemudian konsep kesejahteraan mulai diukur dengan menggunakan pendapatan per kapita. Biasanya orang-orang yang memiliki pendapatan per kapita yang tinggi tetapi tidak sejahtera dan jauh dari dimensi kebahagiaan adalah orang-orang yang tidak membatasi kepuasan mereka.

Ketika mereka sudah memiliki sesuatu yang mereka inginkan maka mereka akan cenderung menginginkan hal yang lain. Inggin menguasai segalanya, inilah yang cenderung membuat mereka memiliki kesejahteraan moneter yang baik tapi tidak diikuti dengan kesejahteraan batin mereka.

Keadaan seperti ini biasanya didorong oleh pengakuan sosial dan sebagainya. Mereka menganggap bahwa jika memiliki uang yang banyak dan jabatan yang tinggi akan lebih dihargai oleh orang banyak dari pada tidak memiliki apapun, sehingga ketika apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan kenyataanya mereka merasa belum sejahtera dan jauh dari kata kebahagiaan.

Oleh karena itu, kebahagiaan yang bisa dicapai adalah dengan cara membatasi keinginan, dan jangan bersifat rakus serta mensyukuri apa yang kita miliki saat ini. Bukti kebahagiaan yang hakiki dan kesejahteraan yang nyata serta tetap melakukan yang terbaik untuk diri mereka.

***

*) Oleh: Supriadi M HI Habib (Mahasiswa Pascasarjana ilmu ekonomi Universitas Negeri Malang)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia