Ekonomi

Kisah Sukses Kelompok Peternak 'Rejokoyo' dari Desa Getas Gunungkidul

Kamis, 27 Februari 2025 - 22:21 | 12.88k
Wagiman, sang perintis Rejokoyo berpose bersama istrinya, Sriyati, di kandang milik kelompok ternak, Kamis, 27/2/2025. (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)
Wagiman, sang perintis Rejokoyo berpose bersama istrinya, Sriyati, di kandang milik kelompok ternak, Kamis, 27/2/2025. (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, GUNUNGKIDUL – Profesi masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan atau pelosok Kabupaten Gunungkidul biasanya adalah sebagai pekerja ladang sekaligus peternak. Bagi mereka, ternak adalah simpanan berharga serupa emas.

Kepemilikan ternak bagi masyarakat Gunungkidul adalah Rojokoyo. Jika dimaknai terpisah Rojo artinya raja dan Koyo artinya kaya. Namun bila digabung, dua kata itu memiliki arti simpanan hewan ternak; sapi, kambing, atau kerbau.

Advertisement

Terinspirasi dari Rojokoyo itulah, beberapa warga dari tiga dusun di Desa Getas, Kecamatan Playen, Gunungkidul, membuat kelompok ternak bernama Rejokoyo. Harapannya tentu menjadi simpanan berharga yang bermanfaat.

Bermula dari Kambing Etawa

Pada Kamis (27/2/2025) siang, TIMES Indonesia berkunjung ke kandang ternak kelompok Rejokoyo di RT 24 RW 4, Dusun Tanjung, Desa Getas, Kecamatan Playen, Gunungkidul.

Suasana kandang sepi. Ratusan kambing yang berada dalam dua baris di dalam kandang berjejer dalam keadaan berbaring sambil mulutnya terus menguyah.

kandang-2.jpgSriyati saat memberikan pakan di kandang kelompok ternak Rejokoyo. (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)

Di deret bagian kiri kandang merupakan kambing indukan. Sedangkan di sebelah kanan adalah kambing pedaging. Di atas tempat kambing-kambing itu berjejer terdapat tulisan 'Kandang Penggemukan' dan 'Kandang Pembiakan'.

Kandang kambing itu berbentuk panggung terbuat dari kayu yang sangat kokoh. Atapnya tinggi sehingga aliran udara sangat luas, membuat kondisi di dalam kandang tidak panas.

Bentuk kandang itu memanjang sekira 20-an meter dengan lebar sekira 10 meter. Di dalam kandang dibuat kotak persegi berukuran sekira 1 kali dua meter persegi. Setiap ruang berisi sekitar 3 hingga 4 ekor kambing.

Kambing-kambing itu saling berhadapan. Sehingga saat diberi makan rumput akan riuh oleh suara kunyahan geraham kambing yang saling bertatap muka. Saat ini mereka hanya saling berhadapan sambil berbaring mengunyah sisa makanan di mulut. Leyeh leyeh.

Dari sudut depan kandang, seorang perempuan muncul sembari membawa ember kecil usai memberi minum para kambing. Perempuan itu bernama Sriyati. Dia istri dari pemilik kandang bernama Wagiman. Rumahnya bersebelahan dengan kandang kambing.

Sriyati, 48 tahun, yang menyambut TIMES Indonesia, menuturkan bahwa jadwal memberi makan kambing-kambing itu sehari dua kali. Pagi jam 8 dan sore pukul 16 WIB.

Lebih lanjut Sriyati bercerita bahwa kelompok ternak kambing Rejokoyo merupakan gabungan 30 warga dari 3 Dusun yakni Dusun Gubug Rubuh, Dusun Tanjung, dan Dusun Ngrunggo. Lokasi kandang ada di Dusun Tanjung.

"Dulu, sebelum jadi kelompok ternak Rejokoyo yag sekarang ini, suami saya hanya memelihara kambing PE (Peranakan Etawa)," ujar Sriyati.

Namun kelompok ternak kambing PE hanya berlangsung beberapa waktu saja. Alasannya, lanjut Sriyati, karena beberapa warga merasa kerepotan kalau harus membawa pakan ternak dari rumah ke kandang yang ada di Dusun Tanjung.

"Sehingga sebagian warga yang tadinya menaruh kambingnya di sini perlahan membawa kembali kambingnya ke rumah. Ditaruh di kandang di rumahnya sendiri. Di sini sekarang hanya tersisa 5 orang yang masih menaruh kambingnya. Kambing PE milik Sriyati sendiri saat ini masih ada sekitar 6 ekor kambing," imbuh Sriyati.

Wagiman, Sang Perintis Rejokoyo

Seorang lelaki berperawakan agak tinggi datang dengan baju lusuh usai memanggul rumput. Seikat rumput berukuran besar itu diletakkan di depan kandang. Dialah Wagiman, suami Sriyati.

Masa muda Wagiman berprofesi sebagai sopir truk. Pernah pula menjadi sopir bus. Lalu beralih profesi bisnis jual beli truk.

kandang-3.jpgPose bersama di kandang, Widodo, kiri, Sriyati dan Wagiman berserta seorang anggota kelompok Rejokoyo. (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)

Sederet kisah inspiratif telah mewarnai perjalanan hidup Wagiman muda sebelum pada akhirnya ia berubah haluan menjadi peternak kambing dan mendirikan kelompok ternak Rejokoyo di Dusun Tanjung, Desa Getas, Playen, Gunungkidul.

Tak lama berselang datang pula Widodo, 47 tahun, yang bertugas sebagai bendahara kelompok ternak Rejokoyo. Sehingga di depan kandang kambing itu kini ada 3 orang yang ikut bergabung, saling berbagi cerita tentang Rejokoyo.

Saat ini Wagiman berusia 57 tahun. Lelaki kelahiran Turi, Sleman ini merupakan pionir peternak kambing PE (Peranakan Etawa) di desanya, Desa Getas Gunungkidul.

Perubahan hidup Wagiman dari jalanan ke peternak kambing bermula saat ia menikah dengan Sriyati pada akhir 2004.

Wagiman merasa kehidupannya di jalanan sebagai sopir truk dan pelaku bisnis jual beli truk perlahan lahan harus diakhiri. Karena ia merasa sudah lelah. Usianya sudah tidak lagi muda. Selain itu ia kini tinggal di Gunungkidul. Jauh dari kehidupan jalan raya yang riuh di Sleman.

Kepada TIMES Indonesia Wagiman bercerita, ia menetap di Dusun Tanjung pada tahun 2007. Usai menikah pada akhir tahun 2004, Wagiman masih wira wiri Sleman-Gunungkidul. Namun secara perlahan, ia berusaha meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai pebisnis jual beli truk.

Melihat caranya bercerita, Wagiman terlihat seperti orang yang punya daya juang tinggi. Bicaranya berapi-api. Penuh semangat. Gagasan menjadi peternak bermula saat ia melihat adiknya memelihara kambing PE di Kaligesing, Purworejo.

Wagiman kemudian menjadi perintis pertama peternak kambing PE di desanya. Bakal kambing PE didapat dari adiknya, termasuk belajar bagaimana mengelola kambing PE.

Modal awal sebagai peternak kambing PE berjumlah 3 ekor. Per ekor harganya 2,5 juta. Pada masa proses belajar mengelola ternak kambing PE itu, Wagiman tak sungkan sambil nyambi berjualan gaplek singkong dan penganan Gathot untuk dijual ke pasar. Terkadang berjualan salak jika di Turi Sleman sedang musim.

“Saya pernah bawa dagangan gaplek, Tiwul mentahan dan gathot mentah ke Kulonprogo, Srumbung, Magelang, hingga Kaligesing, Purworejo. Pulangnya kulakan kambing PE di Kaligesing untuk dijadikan ternak,” tutur Wagiman, mengisahkan perjalanan hidupnya.

Seiring berjalannya waktu, profesi barunya sebagai peternak kambing PE berkembang signifikan. Para pembeli dari Kemadang, Wonogiri dan daerah lain, berdatangan ke Dusun Tanjung untuk membeli kambing-kambing PE milik Wagiman.

Melihat perkembangan peternakan kambing PE yang dikelola Wagiman, warga sekitar desanya mulai tertarik untuk ikut beternak kambing PE seperti yang dilakukan Wagiman. Satu persatu warga Dusun Tanjung ikut bergabung.

Lalu atas kesepakatan bersama, pada 2014, atas inisiatif Wagiman, Kadus Tanjung Suhadi dan pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah Kiai Ali Ikhsan, dibentuklah kelompok peternak dengan nama 'Rejokoyo' yang terinspirasi dari istilah jawa Rojokoyo. Kiai Ali Ikhsan ditunjuk menjadi penasehat kelompok.

Jumlah anggota kelompok ternak Rejokoyo pada saat kelompok dibentuk berjumlah 43 orang. “Jadi awalnya Rejokoyo itu kelompok ternak kambing PE,” tutur Wagiman. Bahkan, kelompok ternak Rejokoyo dibuatkan badan hukumnya.

Di masa Bupati Badingah memimpin Gunungkidul pada 2014, ujar Widodo selaku bendahara Rejokoyo menimpali cerita Wagiman, Dinas Peternakan Kabupaten Gunungkidul memberikan sumbangan berupa mesin chopper untuk menghaluskan rumput pakan serta mesin pengolah susu.

Lalu pada 2018 kandang ternak di sisi sebelah kiri kandang dibangun atas pembiayaan Dinas Peternakan Gunungkidul. Melihat kondisi kelompok ternak Rejokoyo yang terus berkembang, pada 2019 sisi sebelah kanan kandang kemudian dibangun untuk mengisi ternak yang terus bertambah.   

Peran Pesantren dan Dukungan Baznas

Desa Getas terdiri dari 6 dusun yakni Dusun Gubugrubuh, Dusun Ngasem, Dusun Gembuk, Dusun Getas, Dusun Ngrunggo, dan Dusun Tanjung.

Namun dari 6 dusun yang ada di Kalurahan/Desa Getas, hanya 3 dusun yang warganya bergabung dalam kelompok ternak Rejokoyo yakni Dusun Gubugrubuh, Dusun Tanjung, dan Dusun Ngrunggo. Di Dusun Gubugrubuh terdapat Pondok Pesantren Al Hikmah yang diasuh oleh Kiai Ali Ikhsan.

Kiai Ali Ikhsan merupakan salah satu anggota kelompok ternak kambing PE Rejokoyo yang berasal dari Dusun Gubugrubuh. Beliau pula yang menjadi salah satu penggagas adanya kelompok ternak Rejokoyo.

Pada 2023, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) berniat memberikan dukungan kepada pondok Al Hikmah berupa ternak dan kandang. Namun, oleh Kiai Ikhsan, bantuan dari Baznas tersebut dialihkan ke kelompok ternak Rejokoyo.

Hal ini karena, menurut cerita Widodo, pihak pondok merasa belum mampu mengelola peternakan. Sehingga pada awal 2024, Baznas kemudian memberikan dukungan ternak dan renovasi menyeluruh kandang ternak Rejokoyo.

Akhir 2023, Baznas melakukan survei lokasi kandang Rejokoyo di Dusun Tanjung. Lalu pada Januari 2024 kandang kambing direnovasi seperti kondisi saat ini. Baznas juga memberikan sumbangan kambing sejumlah 100 ekor indukan dan 100 ekor kambing pedaging, serta dua ekor dropper kambing pejantan.

“Dua ekor dropper dari Australia,” kata Widodo, harganya per ekor 40 juta. Itu yang akan dijadikan pejantan buat indukan.” ujar Widodo.

Fita Nikasari, perwakilan Baznas yang bertugas mendampingi kelompok ternak Rejokoyo, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya masuk ke Rejokoyo melalui pintu Pondok Pesantren Al Hikmah asuhan Kiai Ali Ikhsan.

“Saat itu memang Baznas memberikan bantuan untuk santri PP Al Hikmah namun pihak Pondok belum menyanggupi untuk melakukan rutinitas kegiatan pengelolaan balai ternak, sehingga bantuan itu kemudian dialihkan ke mustahik yang masih berada dalam satu lingkup dengan PP Al-Hikmah. Tujuannya agar nanti para santri bisa belajar beternak terlebih dahulu di Rejokoyo," ujar Fita.

Lebih lanjut Fita Nikasari menambahkan, Baznas mulai survei pada 2023, namun karena beberapa kendala dari pihak Pondok Pesantren Al-Hikmah yang menjadi tujuan utama disalurkannya bantuan dari Baznas, sehingga bantuan dialihkan ke kelompok ternak Rejokoyo.

Bantuan awal dari Baznas tersalurkan pada akhir 2023, dimulai dengan proses pengerjaan renovasi kandang sampai berdiri pada awal 2024. Lalu bantuan domba  sebanyak 100 ekor indukan dan 100 ekor bakalan jantan serta 2 pejantan dropper sebagai pemacek.

"Program Balai Ternak Domba ini diprogramkan untuk sektor pembiakan ternak juga penggemukan, yang Alhamdulillah untuk program qurban setiap tahunnya, Balai Ternak di bawah binaan Baznas ini juga berkesempatan untuk ikut menyalurkan ternak," kata Fita Nikasari.

"Dengan demikian tentu saja ini sangat membantu bagi peternak mustahik dalam meningkatkan pendapatan. Walaupun baru berjalan 1 tahun, namun peternak mustahik sudah merasakan suka duka dan juga mendapatkan pengalaman terkait beternak dan bagaimana mengembangkannya," sambung Fita.

Wagiman dan Widodo beserta kelompok ternak Rejokoyo tentu sangat senang dengan bantuan ini. Maka dibentuklah kepengurusan kelompok ternak sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Baznas.

Wagiman yang sebelumnya menjadi ketua kelompok ternak kambing PE Rejokoyo ditunjuk sebagai wakil ketua kelompok ternak Rejokoyo. Sedangkan ketuanya adalah Suhadi, Kepala Dusun Tanjung. Bendaharanya masih dipercayakan kepada Widodo.

Dampak Positif Kemitraan

Keberadaan kelompok ternak Rejokoyo di Desa Getas makin mempererat hubungan antarwarga. Koordinasi dilakukan pada saat jadwal majelis taklim yang diadakan tanggal 7 setiap bulannya. Rejokoyo masih tetap eksis hingga saat ini karena disiplin anggotanya terhadap ternak yang menjadi tanggungjawab bersama.

Setiap anggota secara bergiliran mendapat jatah piket. Jenis piketnya setiap hari terdiri dari 3 sampai 4 orang. Tugasnya setiap pagi bersih bersih kandang dan mencarikan pakan; memberikan konsentrat, juga minum pada kambing pada jam yang telah disepakati bersama yakni jam 8 pagi dan sore pukul 16 WIB.

Awalnya jumlah anggota kelompok ternak Rejokoyo berjumlah 35 orang. Namun yang 5 orang tidak memenuhi syarat sebagai mustahik. Sehingga jumlah anggota Rejokoyo saat ini menjadi 30 orang mustahik.

Sedangkan 5 orang yang tidak memenuhi syarat sebagai mustahik karena dianggap telah tercukupi kehidupan ekonominya masih tetap menjadi anggota kelompok Rejokoyo. Karena masih memiliki hak atas kambing PE, namun mereka diberi tugas sebagai pengurus Rejokoyo.

Hasil awal kelompok ternak Rejokoyo diraih pada 10 Juni 2024. Acara itu bersamaan dengan launching kelompok ternak Rejokoyo oleh Baznas. Pihak Baznas membeli 90 ekor kambing domba pedaging hasil kerja kelompok ternak Rejokoyo dengan bobot minimal per ekor pada kisaran 23-27 kilogram.

Menurut Widodo, per kilogram harganya Rp85 ribu untuk kambing dengan bobot 27-29 kilogram. Sedangkan kambing yang mempunyai bobot di atas 30 kilogram ke atas harganya per kilo Rp90 ribu. "Karena kambing dengan bobot per ekor di atas 30 kilogram masuk kategori kambing premium," tuturnya.

Dari keuntungan itu, 75 persen untuk peternak. Sedangkan 12,5 persen untuk Pondok Pesantren dan sisanya lagi yang 12,5 persen untuk kas kelompok ternak Rejokoyo.

Widodo dan Wagiman secara bersamaan bersepakat mengatakan, bantuan permodalan dan perbaikan kandang yang diberikan oleh Baznas sangat menguntungkan bagi peternak. Mereka kini merasakan keuntungan secara bersama walaupun belum begitu besar, karena baru memulai tahun pertama mengelola ternak bantuan dari Baznas.

Menurut pantauan Fita Nikasari selama mendampingi Rejokoyo, kelompok ternak ini mengalami kemajuan yang signifikan dari program yang diberikan Baznas. Selain wawasan tentang beternak yang semakin bertambah, juga terkait pemasaran, pengembangan produk dan juga pengolahan hasil samping dari beternak juga bisa berkembang.

Selain itu, dengan program ini, Kelompok Ternak Rejokoyo di Kabupaten Gunungkidul ini mendapatkan perhatian dari berbagai pihak sehingga menjadi nilai lebih bagi mereka sendiri. "Komunikasi dengan stakeholder yang lebih mudah dan adanya pendampingan yang diberikan, menjadi jalan yang baik untuk nanti ke depan," pungkas Fita Nikasari. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES