Advertisement
Sosok

Gus Baha, Sosok Ulama Sederhana dengan Kedalaman Ilmu yang Menyejukkan

Mengenal sosok Gus Baha, ulama kharismatik dengan dakwah sederhana dan penuh hikmah. Ceramahnya menyejukkan, mendalam, dan sarat nilai kasih sayang Islam.

TIMES Indonesia,
Gus Baha, Sosok Ulama Sederhana dengan Kedalaman Ilmu yang Menyejukkan
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih akrab disapa Gus Baha.
A-AA+

JAKARTA Di tengah hiruk-pikuk dakwah modern yang kerap penuh retorika dan sensasi, nama Gus Baha hadir sebagai penyejuk. Tanpa panggung megah dan tanpa gaya bicara yang dibuat-buat, ceramahnya justru digemari jutaan orang. Dengan bahasa sederhana, logika yang jernih, dan rujukan kitab klasik yang kuat, Gus Baha menjadi salah satu ulama paling berpengaruh di Indonesia saat ini.

Sosok di Balik Nama Gus Baha

Gus Baha memiliki nama lengkap KH. Ahmad Bahauddin Nursalim. Ia lahir di Rembang, Jawa Tengah, dan merupakan putra dari KH. Nursalim Al-Hafidz, seorang ulama besar yang dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an. Sejak kecil, Gus Baha tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat dengan tradisi keilmuan Islam klasik.

Advertisement

Pendidikan agama Gus Baha ditempa di berbagai pesantren, termasuk Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, yang diasuh oleh KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen). Dari gurunya inilah Gus Baha banyak menyerap kedalaman ilmu fikih, tafsir, dan adab keilmuan.

Ulama yang Merakyat dan Rendah Hati

Salah satu ciri khas Gus Baha adalah kesederhanaannya. Ia sering tampil apa adanya, berbicara dengan logat Jawa yang kental, dan tidak jarang menyelipkan humor ringan dalam pengajiannya. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan keluasan ilmu yang diakui para ulama.

Gus Baha dikenal sebagai ulama yang enggan menghakimi. Dalam banyak ceramahnya, ia menekankan bahwa Islam hadir untuk memberi harapan, bukan menakut-nakuti. Menurutnya, terlalu sibuk mengkafirkan atau menyalahkan orang lain justru menjauhkan umat dari hakikat agama.

Pendekatan Tafsir yang Menenangkan

Dalam menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an, Gus Baha memiliki pendekatan khas. Ia tidak hanya menukil ayat dan hadis, tetapi juga mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. Penjelasannya sering membuka sudut pandang baru, terutama tentang kasih sayang Allah yang luas.

Gus Baha kerap menegaskan bahwa:

Advertisement
  • Allah lebih cinta kepada hamba-Nya daripada hamba itu mencintai Allah.

  • Islam tidak dibangun di atas ketakutan semata, melainkan rahmat dan kebijaksanaan.

  • Kesalehan tidak selalu diukur dari simbol luar, tetapi dari kejujuran dan adab.

Pendekatan inilah yang membuat ceramahnya terasa menenangkan, bahkan bagi mereka yang sedang gelisah secara spiritual.

Dakwah Tanpa Marah, Ilmu Tanpa Pamer

Berbeda dengan sebagian pendakwah yang keras dan konfrontatif, Gus Baha justru menolak dakwah dengan amarah. Ia sering mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, sementara adab tanpa ilmu bisa menyesatkan.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Baha juga mengkritik fenomena “ustaz instan” yang gemar mengutip dalil tanpa pemahaman mendalam. Baginya, tradisi pesantren yang menghargai sanad keilmuan dan ketekunan belajar adalah benteng utama umat Islam.

Popularitas di Era Digital

Meski tidak aktif membangun citra di media sosial, ceramah Gus Baha banyak beredar luas melalui YouTube, WhatsApp, dan platform digital lainnya. Potongan pengajiannya sering viral karena dianggap relevan, jujur, dan menyejukkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital sekalipun, masyarakat tetap merindukan ulama yang berbicara dengan ketulusan dan kedalaman ilmu, bukan sekadar popularitas.

Gus Baha adalah contoh ulama yang berhasil menjaga keseimbangan antara ilmu tinggi dan kerendahan hati. Ia mengajarkan bahwa Islam tidak perlu dibungkus dengan kemarahan agar terlihat tegas, dan tidak perlu dipermudah secara berlebihan hingga kehilangan makna.

Lewat tutur kata yang tenang dan pemikiran yang jernih, Gus Baha mengajak umat Islam untuk lebih mencintai ilmu, menjaga adab, dan husnuzan kepada Allah. Sebuah dakwah yang tidak berisik, tetapi membekas lama di hati.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia