Zahra Anisa Nurfalah dan Seni Merawat Amanah di Meja Perbankan
Kisah Zanis, teller muda bank syariah di Cianjur yang menjaga kepercayaan nasabah, meniti karier sambil kuliah, melestarikan pupuh Sunda, dan membangun bisnis fesyen.
CIANJUR – Wajah ramah itu selalu siaga menyapa setiap nasabah yang datang menghampiri meja layanan sebuah bank syariah di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Bagi Zahra Anisa Nurfalah, atau yang akrab disapa Zanis, menjadi seorang teller bukan sekadar urusan menghitung lembaran rupiah, melainkan tentang menjaga sebuah nilai yang jauh lebih mahal, yakni kepercayaan.
Gadis cantik asal Kota Tauco yang baru menginjak usia 19 tahun ini merupakan sosok muda yang memiliki semangat berlapis dalam meniti karier dan pendidikan secara bersamaan.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Zahra memikul tanggung jawab moral untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya melalui dedikasi yang ia tunjukkan setiap hari.
Penjaga Rahasia dan Ujung Tombak Perbankan
Dalam hal ini lebih lanjut bahwa dengan bekerja di industri perbankan memberikan perspektif baru bagi Zahra mengenai kedisiplinan dan integritas.
Ia mengisahkan bahwa menjadi bagian dari frontliner adalah posisi strategis yang disebutnya sebagai ujung tombak perusahaan karena berhadapan langsung dengan masyarakat.
"Ada sebuah istilah yang selalu saya pegang teguh selama bertugas, yakni kaki kanan dirantai dan kaki kiri berjalan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima TIMES Indonesia, pada Rabu (1/4/2026).
Kalimat tersebut menggambarkan betapa ketatnya kerahasiaan data pribadi nasabah yang harus ia jaga, di mana setiap langkah profesinya dibatasi oleh aturan hukum dan etika yang sangat ketat demi melindungi hak pelanggan.
Zanis menjelaskan bahwa menjadi pegawai bank bukan soal hitung-hitungan uang semata, tetapi tentang kepercayaan di mana setiap angka yang diproses adalah sebuah amanah tinggi yang harus dijaga dengan integritas.
"Melayani dengan setulus hati menurut pandangan saya adalah kunci utama agar nasabah merasa nyaman dan dihargai," ungkap Zanis sembari tersenyum manis.
Ketertarikannya pada dunia perbankan syariah bermula saat ia menempuh bangku kuliah, yang kemudian memicu ambisinya untuk mempraktikkan langsung ilmu ekonomi Islam dalam ekosistem kerja nyata.
Melalui akun media sosialnya di Instagram @zahraanisanf dan Tiktok @zahranurfalah_, Zanis kerap membagikan sisi positif dari kesehariannya yang penuh semangat.
Melantunkan Pupuh dan Meniti Jejak Wirausaha
Di balik ketegasannya di meja bank, Zahra menyimpan bakat seni yang kental dengan budaya lokal. Ia merupakan sosok yang mahir menyanyikan kawih atau pupuh Sunda, bahkan prestasinya tidak main-main karena pernah mewakili Jawa Barat dalam perlombaan antarprovinsi.
Keistimewaan Zahara terletak pada kemampuannya menggubah lirik sendiri dalam setiap penampilannya, sebuah dedikasi untuk melestarikan tradisi di tengah gempuran zaman modern.
"Selain di bidang seni juga alhamdulillah saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, dengan terus berupaya menangkap peluang ekonomi melalui pengelolaan bisnis fesyen wanita di platform e-commerce," tuturnya.
Lebih jauh pekerjaannya di bank secara tidak langsung membantunya memperluas jaringan pelanggan dan membangun kepercayaan yang berguna bagi usaha kecilnya tersebut.
Pendidikan bagi Zahra tetap menjadi prioritas utama meski jadwalnya sangat padat. Alumni SMA Al Ittihad Cianjur ini kini tercatat sebagai mahasiswi semester enam di Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Suryakancana Cianjur.
"Tantangan terbesar saya salah satunya adalah manajemen waktu, mengingat harus bekerja dari hari Senin hingga Jumat, lalu melanjutkan kuliah pada akhir pekan," imbuhnya.
Jarak tempuh antara tempat kerja dan kampus yang mencapai dua hingga tiga jam perjalanan tidak menyurutkan langkahnya untuk terus mengejar gelar sarjana.
Mimpi Setinggi Langit bagi Generasi Muda
Secara khusus Zahra memiliki harapan besar agar ke depannya sebagai lulusan perbankan syariah, ia dapat terus memberikan kontribusi positif dengan menerapkan nilai-nilai agama dalam setiap transaksi keuangan.
Dia percaya bahwa kesuksesan bukan datang secara tiba-tiba, melainkan buah dari usaha yang konsisten. Baginya, usia hanyalah deretan angka, namun arah masa depan ditentukan oleh keberanian diri sendiri untuk memulai langkah pertama.
Kepada generasi muda, ia berpesan agar tidak pernah takut untuk bermimpi setinggi mungkin. Dia mengutip pesan legendaris dari Bung Karno yang memintanya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, karena jika terjatuh, seseorang akan jatuh di antara bintang-bintang.
"Jika bukan diri sendiri yang menentukan arah hidup, maka tidak akan ada orang lain yang melakukannya. Saya yakin dan percaya bahwa setiap pencapaian besar selalu diawali oleh mimpi yang jauh lebih besar," tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


