Jejak Inspiratif Nurochman: dari Anak Petani, Tukang Sapu Hotel hingga Wali Kota Batu
Kisah hidup Wali Kota Batu Nurochman atau Cak Nur menjadi potret perjuangan panjang yang dinamis dan inspiratif.
BATU – Kisah hidup Nurochman atau yang akrab disapa Cak Nur menjadi potret nyata perjuangan dari bawah yang jarang dimiliki banyak kepala daerah.
Lahir dari keluarga sederhana sebagai anak seorang petani di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur, ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi yang membentuk karakter tangguh, pekerja keras, dan dekat dengan kehidupan rakyat kecil.
Sejak kecil, Nurochman sudah akrab dengan kehidupan pedesaan dan aktivitas pertanian. Ia kerap membantu orang tuanya di ladang, memahami betul bagaimana sulitnya memenuhi kebutuhan hidup dari hasil bumi yang tidak menentu.
Pengalaman itu membekas kuat dan menjadi fondasi empatinya terhadap nasib petani dan masyarakat kecil di kemudian hari.
Memasuki usia dewasa, keterbatasan ekonomi membuatnya tidak langsung memiliki karier mapan. Ia memulai dari pekerjaan sederhana sebagai tukang sapu hotel di salah satu penginapan di Kota Batu pada era 1990-an.
Dari pekerjaan itu, ia belajar tentang kedisiplinan, ketekunan, serta pentingnya melayani orang lain dengan sepenuh hati. Tidak berhenti di situ, Nurochman juga pernah menjalani berbagai pekerjaan serabutan, termasuk menjadi tenaga honorer di Pemkot Batu serta ajudan Wali Kota Batu pada masa itu yaitu Alm Imam Kabul.
Masa-masa ini menjadi fase penting yang membentuk mentalnya agar tidak mudah menyerah. Ia dikenal sebagai sosok yang gigih, tidak malu bekerja apa pun demi bertahan hidup dan membantu keluarga.
Perlahan, jalan hidupnya mulai berubah ketika ia aktif di organisasi kemasyarakatan. Interaksi dengan warga membuatnya semakin dikenal sebagai pribadi yang komunikatif dan peduli.
Dari sinilah, ia mulai membangun jaringan sosial yang kelak menjadi modal penting dalam perjalanan politiknya. Langkah politiknya dimulai saat bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Di partai tersebut, Nurochman meniti karier dari bawah. Ia tidak instan, melainkan melalui proses panjang mulai dari kader biasa hingga dipercaya menjadi Ketua DPC PKB Kota Batu.
Kepemimpinannya di partai dikenal solid dan mampu menggerakkan basis akar rumput. Terbukti, kala itu PKB tidak memiliki kursi di legislatif, hingga akhirnya mampu menyulap DPC PKB yang kala itu bak perahu reot kembali berlayar dan sukses mendapat simpati dari masyarakat.
Kariernya pun semakin berkembang saat ia terpilih menjadi anggota DPRD Kota Batu. Kepercayaan publik terus meningkat hingga ia menduduki posisi Wakil Ketua DPRD selama dua periode (2014-2019 dan 2019-2024).
Dalam posisi ini, ia banyak terlibat dalam perumusan kebijakan daerah, terutama yang menyentuh kepentingan masyarakat kecil.
Selain di legislatif, Nurochman juga memiliki pengalaman di pemerintahan desa. Ia pernah menjabat sebagai Penjabat Kepala Desa Sumberejo.
Pengalaman ini memperkaya pemahamannya terhadap persoalan riil masyarakat di tingkat bawah, mulai dari infrastruktur desa, pertanian, hingga kebutuhan dasar warga.
Di tengah kesibukan bekerja dan berpolitik, Nurochman tidak melupakan pendidikan. Ia melanjutkan studi hingga meraih gelar sarjana hukum dan magister hukum di Universitas Islam Malang. Langkah tersebut menunjukkan tekadnya untuk terus berkembang, meski harus menempuh pendidikan di usia yang tidak lagi muda.
Puncak perjalanan politiknya terjadi pada Pilkada Kota Batu 2024. Berpasangan dengan Heli Suyanto dari Partai Gerindra, ia berhasil memenangkan kontestasi dan memperoleh kepercayaan mayoritas masyarakat.
Kemenangan tersebut mengantarkannya resmi dilantik sebagai Wali Kota Batu pada 2025.
Kini, sebagai Wali Kota Batu periode 2025-2030, Nurochman membawa visi misi Mbatu Sae yanf fokus pada pembangunan yang berpihak pada rakyat kecil, khususnya petani, pelaku UMKM, dan masyarakat desa.
Latar belakangnya sebagai anak petani menjadi alasan kuat mengapa sektor pertanian dan kesejahteraan warga menjadi prioritas dalam kebijakannya.
Kisah hidup Nurochman bukan sekadar perjalanan karier politik, melainkan narasi tentang harapan. Dari ladang pertanian, sapu hotel, hingga ruang pemerintahan, ia membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk bermimpi dapat mengubah nasib seseorang.
"Tidak ada pekerjaan yang rendah, yang penting adalah kejujuran dan kemauan untuk terus berusaha," menjadi prinsip hidup yang sering ia sampaikan dalam berbagai kesempatan.
Perjalanan Cak Nur kini menjadi inspirasi, terutama bagi generasi muda dan masyarakat kecil, bahwa latar belakang bukanlah batas. Dari anak petani, ia menjelma menjadi pemimpin kota.
"Dari situ saya berharap mungkin perjalan hidup saya bisa menjadi bukti bahwa siapa pun bisa naik kelas dengan usaha dan keteguhan hati. Pesan saya jangan minder dan berbuat jujur apa adanya," tuturnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


