Advertisement
Sosok

Dian Komalasari, Dari Nol hingga Mengantar Ribuan ABK Indonesia ke Kancah Global

Kisah Dian Komalasari bangun perusahaan ABK dari nol, bertahan di pandemi, hingga bantu ribuan pekerja Indonesia menembus sektor perikanan global.

TIMES Indonesia,
Dian Komalasari, Dari Nol hingga Mengantar Ribuan ABK Indonesia ke Kancah Global
Dian Komalasari, perempuan tangguh Kartini Indonesia. (Foto: Cahyo Nugroho/TIMES Indonesia)
A-AA+

TEGAL Di balik berdirinya sebuah perusahaan penempatan kerja luar negeri, tersimpan kisah perjuangan yang tidak banyak diketahui publik. PT Samudra Ina Pertiwi, yang kini dikenal sebagai salah satu perusahaan penyalur Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia ke sektor perikanan internasional yang didirikan oleh Dian Komalasari, berawal dari kondisi serba terbatas dan penuh tantangan.

Perusahaan ini didirikan oleh seorang perempuan yang memulai usaha tanpa dukungan modal besar maupun jaminan finansial yang kuat. Namun, keterbatasan tersebut tidak  menghentikan langkahnya untuk membangun sebuah usaha yang ia yakini dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

Advertisement

“Pada awalnya memang tidak mudah. Modal sangat terbatas, bahkan bisa dibilang hampir tidak ada. Tapi saya percaya, selama ada kemauan dan niat yang baik, selalu ada jalan,” ujar Dian saat ditemui TIMES Indonesia di Tegal, Selasa (21/4/2026).

Perjalanan usaha tersebut semakin berat ketika pandemi COVID-19 melanda. Seperti banyak sektor lainnya aktivitas perusahaan mengalami tekanan hebat akibat adanya pembatasan mobilitas dan ketidakpastian global. 

Namun, bagi Dian, tantangan yang dihadapi tidak hanya soal operasional, melainkan juga tanggung jawab kemanusiaan.

Saat masa lockdown, puluhan pekerja dari luar Pulau Jawa yang sedang berada di kantor perusahaan tidak dapat kembali ke daerah asal mereka. 

Tercatat lebih dari 40 orang harus tetap tinggal dan bergantung pada perusahaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Advertisement

“Kondisinya sangat sulit. Mereka tidak bisa pulang, sementara kami di sini juga harus memastikan kebutuhan mereka agar tetap terpenuhi. Di situ saya benar-benar merasa bertanggung jawab,” kata Dian.

Di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian usaha, perusahaan justru harus bertarung memprioritaskan kebutuhan dasar para pekerja, termasuk makan dan tempat tinggal. Situasi ini menjadi ujian berat bagi manajemen perusahaan yang saat itu masih dalam tahap pengembangan.

Dian mengaku, tekanan mental menjadi salah satu tantangan terbesar dalam periode tersebut. Ia harus memastikan tidak ada satu pun pekerja yang terlantar, meskipun kondisi perusahaan sendiri belum stabil.

“Yang paling saya pikirkan waktu itu sederhana: jangan sampai ada orang yang kelaparan karena mereka sudah berada di bawah tanggung jawab saya,” ujarnya.

Meski berada dalam situasi sulit tersebut perusahaan tetap berupaya bertahan dengan segala keterbatasan yang ada. Tidak ada pilihan selain terus berjalan sambil mencari solusi di tengah krisis.

Prinsip yang dipegang Dian sejak awal adalah keteguhan dalam menghadapi keadaan. Ia meyakini keberlangsungan usaha tidak hanya ditentukan oleh modal, tetapi oleh komitmen terhadap tanggung jawab sosial kepada para pekerja.

Seiring berjalannya waktu, kondisi perlahan mulai membaik. Pandemi pun berangsur terkendali, dan aktivitas perusahaan kembali berjalan normal. Dari perjalanan panjang tersebut, dampak sosial yang ditinggalkan mulai terlihat.

Menurut keterangan pihak perusahaan, ribuan tenaga kerja Indonesia yang pernah difasilitasi melalui PT Samudra Ina Pertiwi telah mendapatkan manfaat ekonomi dari penempatan kerja di luar negeri. 

Sebagian di antaranya kembali ke kampung halaman dengan kondisi kehidupan yang lebih baik, bahkan mampu membangun rumah, membeli lahan, hingga membuka usaha kecil.

“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya soal perusahaan bertahan, tetapi juga sejauh mana kami bisa memberikan dampak bagi orang lain,” kata Dian.

Kini, setelah enam tahun berjalan, PT Samudra Ina Pertiwi tidak hanya dipandang sebagai perusahaan penempatan kerja, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan panjang peningkatan kesejahteraan tenaga kerja Indonesia di sektor perikanan internasional.

Di balik semua pencapaian tersebut, tersimpan kisah tentang keteguhan seorang perempuan dalam menghadapi keterbatasan, tekanan, dan krisis global. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa ketahanan dan tanggung jawab sosial dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan sebuah usaha. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Cahyo Nugroho
PenulisCahyo NugrohoSarjana Ilmu Jurnalistik - Ilmu Sosial dan Politik (Kampus Tercinta) Lenteng Agung Jakarta (1989) Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020 Meliput berbagai topik, Sosial dan budaya dan isu daerah
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia