Ketulusan Sri Handayani, 17 Tahun Mendidik Tunas-Tunas Bangsa di Borobudur
Sri Handayani berdiri, menyapa murid-muridnya dengan senyum sederhana, mengajarkan nilai-nilai agama sekaligus menanamkan harapan tentang masa depan.
Magelang – Suasana pagi di MI Ma'arif Giritengah, Borobudur, Kabupaten Magelang mulai riuh. Terdengar langkah-langkah kecil menuju ruang kelas. Di situlah, Sri Handayani berdiri, menyapa murid-muridnya dengan senyum sederhana, mengajarkan nilai-nilai agama sekaligus menanamkan harapan tentang masa depan.
Momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 menjadi pengingat bahwa pendidikan Indonesia bertumpu pada sosok-sosok guru yang mengajar dengan hati. Sri Handayani adalah salah satunya, seorang guru non-ASN yang telah mengabdikan hampir 17 tahun hidupnya di MI Ma'arif Giritengah, untuk mendidik para murid tercintanya.
Perempuan yang lahir di Magelang 40 tahun lalu ini memang sejak kecil telah bercita-cita menjadi guru. Baginya, profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang ia pilih dengan kesadaran penuh.
“Sejak kecil saya memang ingin menjadi guru, karena saya ingin berbagi ilmu dan membahagiakan orang tua,” tuturnya pada TIMES Indonesia, Sabtu (2/4/2026).
Dengan latar belakang pendidikan dari Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta jurusan Pendidikan Agama Islam, Sri Handayani kini mengampu mata pelajaran Fikih dan Akidah Akhlak.

Ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga berusaha menanamkan nilai kehidupan kepada para siswanya.
“Motivasi saya sederhana, ingin menjalani cita-cita dengan ikhlas dan bisa bermanfaat bagi anak-anak,” harapnya.
Selama belasan tahun mengajar, Ia telah melalui berbagai dinamika. Dari pengalaman pertama yang penuh rasa gugup hingga kini menjadi sosok guru yang lebih matang dan sabar. Namun, tantangan tetap ada, terutama sebagai guru non-ASN.
“Tantangan tentu ada, terutama dalam hal kesejahteraan. Tapi saya berusaha tetap semangat dan ikhlas menjalani tugas sebagai guru,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan, Sri tidak pernah kehilangan semangat. Baginya, kebahagiaan terbesar adalah saat melihat perubahan pada diri siswa.
“Sebagai seorang pendidik, yang paling menyenangkan adalah saat melihat siswa berkembang dan memahami apa yang kita ajarkan,” ungkapnya.
Di dalam kelas, Sri menghadapi beragam karakter siswa. Salah satu tantangan terbesarnya adalah membangkitkan semangat belajar anak-anak yang mulai kehilangan motivasi. Ia pun memilih pendekatan yang lembut dan penuh perhatian.
Ia percaya, setiap anak memiliki potensi yang bisa tumbuh jika diberi ruang dan dorongan yang tepat. Karena itu, ia terus berusaha menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.
Baginya, menjadi guru adalah tentang kesabaran dan keikhlasan. Ia memaknai profesinya sebagai bentuk pengabdian yang dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Di Hari Pendidikan Nasional ini, ia menyampaikan harapan sederhana namun penting, agar guru non-ASN mendapatkan perhatian yang lebih baik.
Ia berharap ada peningkatan kesejahteraan serta kesempatan yang adil bagi para guru yang telah lama mengabdi. Menurutnya, meskipun status berbeda, tanggung jawab guru tetap sama dalam mencerdaskan generasi bangsa.
Di tengah segala keterbatasan, Sri Handayani tetap menjaga semangatnya dengan mengingat tujuan awalnya menjadi guru, mengabdi dengan tulus dan membantu anak-anak meraih masa depan.
Ke depan, ia ingin terus belajar menjadi pendidik yang lebih baik dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi para siswanya. Ia juga berharap profesi guru, termasuk non-ASN, semakin dihargai oleh masyarakat.
Sebelum mengakhiri perbincangan, Sri menyampaikan pesan sederhana untuk para siswa.
“Untuk siswa, tetap semangat belajar karena ilmu akan sangat berguna untuk masa depan kalian,” pungkasnya berpesan.
Kisah Sri Handayani menjadi potret nyata bahwa pendidikan tidak hanya dibangun oleh sistem, tetapi juga oleh ketulusan. Dari ruang kelas sederhana di MI Ma’arif Giritengah, ia terus menyalakan harapan, bahwa setiap anak berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


