Sisi Lain Marsma TNI dr. Mukti Arja Berlian: Sang Jenderal Dokter, Ahli Ekonomi, dan Melodi Saxophone di Balik Disertasinya
Marsekal Pertama (Marsma) TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP., M.M., FINASIM., meraih gelar Doktor di Universitas Merdeka Malang. Ini bukan sekadar tambahan gelar, melainkan kristalisasi dari aktivitas panjangnya sebagai dokter dan pemikir.
MALANG – Bayangkan sebuah jadwal yang dimulai dengan koordinasi strategis fasilitas kesehatan negara di Jakarta, diikuti dengan visitasi pasien sebagai dokter spesialis, dan diakhiri dengan riset mendalam mengenai perilaku organisasi. Itulah ritme hidup Marsekal Pertama (Marsma) TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP., M.M., FINASIM.
Keberhasilannya meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Merdeka (Unmer) Malang pada Sabtu (9/5/2026) bukan sekadar tambahan gelar di depan nama, melainkan kristalisasi dari aktivitas panjangnya sebagai pemimpin, dokter, dan pemikir.
Navigasi Strategis di Kemhan
Sebagai Direktur Kesehatan (Dirkes) Ditjen Kuathan Kemhan sejak April 2024, aktivitas utama dr. Mukti berpusat pada penguatan "benteng" kesehatan pertahanan Indonesia. Ia bukan sekadar pejabat administratif; ia adalah arsitek di balik kesiapan fasilitas kesehatan TNI.
Kesehariannya diisi dengan memastikan setiap Rumah Sakit TNI, termasuk RSAU Tipe A yang menjadi objek penelitiannya, memiliki standar layanan prima. "Tantangannya adalah bagaimana mengelola sumber daya manusia yang besar di lingkungan militer agar tetap humanis dalam melayani," ujarnya. Dedikasi inilah yang mendorongnya meneliti respectful engagement—sebuah konsep agar personel medis bekerja dengan hati, bukan sekadar mengikuti instruksi komando.
Spesialis yang Tetap "Membumi"
Meski telah menyandang bintang di pundak, dr. Mukti tidak pernah benar-benar meninggalkan stetoskopnya. Sebagai ahli Penyakit Dalam (Sp.PD) dan Kesehatan Penerbangan (Sp.KP), aktivitas klinisnya tetap terjaga.
Keahliannya di bidang kesehatan penerbangan menjadikannya sosok krusial dalam menjaga kebugaran para penjaga langit nusantara. Ia memahami betul bahwa seorang pilot tempur atau awak pesawat membutuhkan penanganan medis yang berbeda. Di sela tugas birokrasinya, dr. Mukti sering kali terlibat dalam diskusi medis tingkat tinggi dan penanganan kasus-kasus penyakit dalam yang kompleks di RSPAU dr. S. Hardjolukito, tempat yang pernah ia pimpin sebelumnya.
Riset di Tengah Kesibukan
Bagaimana seorang jenderal aktif menyelesaikan disertasi doktor? Jawabannya ada pada manajemen waktu yang presisi. Di tengah perjalanan dinas atau di penghujung malam setelah tugas negara usai, dr. Mukti menyelami data-data organisasi.
Ia mengumpulkan fakta dari lapangan, mewawancarai staf rumah sakit, dan membedah teori ekonomi manajerial. Aktivitas akademiknya ini dilakukan untuk menjawab kegelisahan profesionalnya: bagaimana kepuasan kerja bisa benar-benar berdampak pada kesembuhan pasien?
Harmoni Saxophone: Ruang Rehat Sang Jenderal
Jika Anda bertanya apa aktivitas yang membuatnya tetap jernih di tengah tekanan tinggi, jawabannya adalah saxophone. Instrumen tiup ini adalah pendamping setianya. Bagi dr. Mukti, bermain saxophone bukan sekadar hobi, melainkan aktivitas intelektual yang melibatkan rasa.
Seringkali, nada-nada jazz atau pop klasik yang ia mainkan menjadi jembatan komunikasi yang cair dengan bawahannya maupun kolega sipil. Musik membuatnya tetap peka, sebuah kualitas yang ia bawa ke dalam ruang sidang doktoralnya—bahwa ekonomi dan manajemen pun membutuhkan sentuhan "rasa" dan harmoni.
Pulang ke Malang untuk Pengabdian
Aktivitasnya di Unmer Malang minggu ini adalah bentuk "napak tilas" sekaligus peningkatan kapasitas. Dengan gelar Doktor Ilmu Ekonomi yang kini disandangnya, Marsma dr. Mukti siap kembali ke Jakarta dengan amunisi baru. Ia bukan lagi sekadar dokter yang mengobati fisik, atau jenderal yang memimpin pasukan, tapi kini ia adalah seorang ilmuwan yang siap membedah dan memperbaiki sistem kesehatan pertahanan Indonesia melalui kacamata ekonomi organisasi yang modern. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

