Advertisement
Sosok

Rindu Amalia Putri dan Narasi Perempuan Muslimah yang Mendobrak Batas

Rindu kini tengah menjalani keseimbangan hidup antara pengabdian di pesantren, hiruk-pikuk organisasi kampus, hingga gemerlap dunia kreatif digital.

TIMES Indonesia,
Rindu Amalia Putri dan Narasi Perempuan Muslimah yang Mendobrak Batas
Rindu Amalia Putri (FOTO: Rindu for TIMES Indonesia)
A-AA+

BANDUNG Sosok perempuan hebat bernama lengkap Rindu Amalia Putri menunjukkan bahwa menjadi seorang santri bukan berarti menutup diri dari dinamika dunia luar. 

Figur berusia 21 tahun yang akrab disapa Rindu ini kini tengah menjalani keseimbangan hidup antara pengabdian di pesantren, hiruk-pikuk organisasi kampus, hingga gemerlap dunia kreatif digital. 

Advertisement

Lahir di Yogyakarta dan menghabiskan masa kecil di Lampung, Rindu memilih Bandung sebagai pelabuhan untuk menimba ilmu sejak tahun 2023.

Menempuh pendidikan di semester enam jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rindu juga menetap sebagai santri di Pondok Pesantren Salafy Arraaid. 

Dalam hal ini pilihan hidupnya tergolong unik, di mana ia memutuskan menempuh jalur Paket C demi bisa memfokuskan diri pada hafalan kitab suci. 

Akhirnya keputusan itu berbuah manis dengan keberhasilannya menjadi seorang hafizah yang menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Quran secara utuh.

Jejak dari Pesantren hingga Panggung Finalis

Perjalanan Rindu di dunia organisasi sebenarnya sudah terpupuk sejak belia melalui kegiatan pramuka hingga menjadi gitapati dalam grup drumband. 

Advertisement

Kini, lebih lanjut dia memperluas pengaruhnya dengan bergabung dalam jajaran Kementerian Dalam Negeri DEMA Fakultas Ushuluddin dan PMII Komisariat Ushuluddin UIN Bandung.

Rindu Amalia Putri 2
Salah satu kegiatan organisasi Rindu Amalia Putri. (FOTO: Rindu for TIMES Indonesia)

Di tengah kesibukan akademiknya, Rindu juga mencatatkan prestasi gemilang sebagai Finalis Putri Hijabfluencer Jawa Barat 2026, sebuah ajang yang memadukan kecantikan dan pengaruh positif bagi generasi muslimah.

Hingga karier digitalnya pun berkembang pesat yang bermula dari keterlibatannya dalam komunitas beauty ParaSiger Lampung. 

Melalui akun Instagram miliknya @rinddzap, Rindu aktif membangun personal branding sebagai konten kreator yang fokus pada topik kecantikan, kuliner, dan gaya hidup. 

Keuletannya ini menarik perhatian berbagai merek besar untuk menjalin kerja sama, mulai dari sektor perbankan seperti BRI, industri kuliner Bagikopi, hingga jasa transportasi Baraya Travel dan platform global Snapchat.

Membangun Percaya Diri Tanpa Menanggalkan Nilai Agama

Melalui berbagai platform digitalnya, Rindu membawa misi advokasi untuk mendorong generasi muda muslimah agar berani berkarya tanpa harus meninggalkan identitas agama. 

"Saya ingin membuktikan bahwa perempuan berhijab bisa tetap aktif di dunia organisasi dan digital secara seimbang,' ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima TIMES Indonesia, pada Minggu (10/5/2026).

Lalu Rindu bercerita bahwa ia pernah berada di titik yang menantang saat harus membagi waktu secara presisi antara setoran hafalan di pesantren, tugas kuliah yang menumpuk, hingga tuntutan produksi konten kreatif.

"Saya belajar bahwa perempuan tidak harus memilih hanya satu jalan," tutur Rindu sembari tersenyum manis saat menceritakan pengalamannya bagaimana mengelola waktu dalam berbagai kesibukan. 

Kemudian lebih lanjut dirinya menambahkan bahwa setiap orang bisa tetap berprestasi dan berkembang tanpa harus kehilangan prinsip hidup yang diyakini. 

Baginya, setiap pencapaian bukan sekadar tentang eksistensi pribadi, melainkan bukti bahwa latar belakang pesantren atau berasal dari daerah bukan merupakan penghalang untuk dikenal secara luas di ruang publik.

Pesan untuk Generasi Muda di Tengah Distraksi Digital

Menghadapi fenomena media sosial yang sering kali memicu rasa rendah diri, Rindu memberikan pandangan yang menyejukkan.

Ia melihat bahwa generasi saat ini hidup di zaman yang penuh kesempatan namun juga sarat akan gangguan. 

Dia berpesan agar anak muda tidak terjebak dalam perlombaan semu di dunia maya yang sering kali membuat seseorang merasa tertinggal atau kehilangan arah hanya karena membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang terus berjalan," tegas Rindu dengan penuh keyakinan.

Ia memotivasi rekan sejawatnya untuk fokus pada proses masing-masing karena versi terbaik dari diri seseorang dibangun secara perlahan dan tidak instan. 

Dengan dukungan penuh dari keluarga serta lingkungan pesantren, Rindu berharap kehadirannya di dunia digital bisa menjadi ruang hangat dan memberi semangat bagi orang lain untuk terus bertumbuh sesuai potensi unik mereka.

"Ambil resiko dan tantangan. Lebih baik gagal karena pernah mencoba daripada menyesal karena gak pernah mencoba sama sekali," tandas Rindu. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wandi Ruswannur
PenulisWandi RuswannurSarjana Hukum STAI Al-Azhary Cianjur Bergabung bersama TIMES Indonesia sejak 2024. Meliput berbagai topik, termasuk pemerintahan, politik, hukum, olahraga, life style, seni-budaya, pendidikan dan lingkungan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia