Advertisement
Sosok

Ibnu Rizky, Tunanetra yang Menjadi Penjaga Lantunan Al-Qur'an di Masjid Al Ma'rifah Tasikmalaya

Suara merdu Ibnu, remaja tunanetra Kampung Ciwaas, rutin mengumandangkan murottal dan adzan di Masjid Al Ma’rifah, menjadi teladan ketekunan dan bukti keterbatasan bukan penghalang.

TIMES Indonesia,
Ibnu Rizky, Tunanetra yang Menjadi Penjaga Lantunan Al-Qur'an di Masjid Al Ma'rifah Tasikmalaya
Ibnu Rizky saat murotall di Masjid Al Marifah, Kp. Ciwaas, Sukahurip, Tamansari Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Jumat (19/6/2026). (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
A-AA+

TASIKMALAYA Pagi itu, langit Kampung Ciwaas, Kelurahan Sukahurip, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, tampak cerah.

Matahari mulai meninggi ketika jarum jam menunjukkan pukul 10.55 WIB. Dari dalam Masjid Al Ma’rifah, lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun merdu, mengisi ruang-ruang kampung yang mulai ramai oleh jamaah yang bersiap menunaikan salat Jumat.

Advertisement

Suara itu tenang, berirama, mengalir tanpa jeda. Seolah lahir dari seseorang yang telah lama bersahabat dengan setiap huruf hijaiyah.

Begitu memasuki masjid, suasana khusyuk langsung terasa. Sejumlah jamaah duduk bersila di atas sajadah, menyimak ayat demi ayat yang menggema melalui pengeras suara.

Di bagian depan masjid, seorang pemuda duduk dengan tenang. Ia mengenakan jas hitam, sarung, dan peci. Di tangannya tergenggam mikrofon. Sesekali ia menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’an dengan tajwid yang fasih dan nada yang menyentuh hati.

Pemuda itu bernama Ibnu Rizky. Ia tidak dapat melihat wajah para jamaah yang menyimaknya. Ia tidak pernah menyaksikan birunya langit, hijaunya pepohonan, ataupun cahaya matahari yang menerangi kampungnya.

Ibnu adalah penyandang tunanetra sejak lahir. Namun, keterbatasan penglihatan tidak pernah menghalanginya untuk melihat dunia melalui cahaya ilmu agama.

Advertisement

Bagi warga Kampung Ciwaas, nama Ibnu bukanlah sosok asing. Remaja yang kini duduk di bangku kelas IX salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Tasikmalaya itu telah menjadi bagian penting dari aktivitas keagamaan Masjid Al Ma’rifah.

Setiap Jumat menjelang khutbah, suara Ibnu menjadi penanda bahwa waktu salat Jumat semakin dekat.

Masjid Al Marifah Tasikmalaya 2
Ketua DKM Al Marifah KP. Ciwaas, Sukahurip, Tamansari H. Iwan saat memberikan keterangan kepada TIMES Indonesia, Jumat (19/6/2026). (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Ia mengisi murottal Al-Qur’an dengan penuh tanggung jawab. Ia juga dipercaya mengumandangkan adzan dan kerap melantunkan shalawat pada malam Jumat.

Bagi sebagian orang, berdiri di depan mikrofon dan berbicara di hadapan banyak orang mungkin hal biasa. Namun bagi Ibnu, perjalanan menuju titik itu melalui proses panjang: latihan, keberanian, dan perjuangan yang tak banyak diketahui orang.

Ketua DKM Al Ma’rifah, H. Iwan, mengenang awal mula Ibnu aktif di lingkungan masjid.

Menurutnya, sekitar dua tahun lalu pengurus masjid mulai memberikan kesempatan kepada Ibnu untuk tampil di depan jamaah.

“Awalnya kami memberikan kesempatan dan keberanian kepada Ibnu untuk memegang mikrofon. Saat itu usianya masih lebih muda. Sekarang sudah di jenjang SMP dan terlihat semakin dewasa serta percaya diri,” ujar H. Iwan.

Kepercayaan itu tidak keliru. Sedikit demi sedikit, Ibnu menunjukkan kemampuan luar biasa dalam membaca Al-Qur’an. Hafalannya bertambah, suaranya semakin matang, dan keberaniannya tumbuh dari waktu ke waktu. Kini, ia menjadi salah satu pengisi tetap kegiatan keagamaan di Masjid Al Ma’rifah.

Di balik kemampuan Ibnu hari ini, ada sosok dengan peran besar dalam hidupnya: ibunya.

Sebelum meninggal dunia, sang ibu menjadi pendamping utama yang mengajarkan berbagai ilmu agama kepada Ibnu. Dengan penuh kesabaran, ia membimbing anaknya mengenal huruf-huruf Al-Qur’an, menghafal ayat demi ayat, hingga tumbuh percaya diri untuk tampil di hadapan masyarakat.

Bagi keluarga Ibnu, pendidikan agama bukan sekadar pelajaran tambahan, tetapi fondasi kehidupan.

H. Iwan menyebut, orang tua Ibnu merupakan tokoh agama yang dihormati di lingkungan setempat.

“Beliau walaupun berkebutuhan khusus tetapi sangat cerdas sekali. Ibnu juga anak yang saleh karena orang tuanya adalah ulama dan kiai di tempat kami,” katanya.

Warisan terbesar yang ditinggalkan orang tuanya bukanlah harta benda, melainkan keyakinan bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.

Warisan itu kini hidup dalam diri Ibnu.

Bagi banyak orang, membaca Al-Qur’an identik dengan melihat mushaf: mata mengikuti huruf, lalu lidah melafalkannya.

Namun bagi seorang tunanetra seperti Ibnu, proses itu berbeda. Ia belajar mengenali ayat-ayat Al-Qur’an melalui sentuhan, pendengaran, hafalan, dan pengulangan terus-menerus.

Kemampuan tersebut tidak lahir dalam semalam. Dibutuhkan disiplin tinggi dan kesabaran yang luar biasa.

Karena itulah, setiap kali suara Ibnu menggema dari pengeras suara masjid, jamaah tidak hanya mendengar bacaan Al-Qur’an. Mereka juga mendengar kisah ketekunan dan perjuangan seseorang yang tak pernah menjadikan kekurangan sebagai alasan berhenti berkembang.

Perkembangan Ibnu menjadi kebanggaan bagi lingkungan pendidikan dan pembinaan yang selama ini mendampinginya.

Sesepuh Majelis Taklim Tunanetra Al Hikmah, Mamat Rahmat, mengaku bersyukur melihat kemajuan ilmu agama yang dimiliki santrinya tersebut.

Menurutnya, Ibnu telah menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Saya sangat bersyukur atas segala kemajuan dan perkembangan ilmu agama yang dimiliki Ibnu. Semoga ini menjadi contoh bagi rekan-rekan dan saudara penyandang disabilitas lainnya,” ujar Mamat saat dihubungi melalui telepon seluler.

Ia menegaskan, keterbatasan fisik bukanlah beban yang harus disesali. Sebaliknya, kondisi tersebut bisa menjadi jalan menuju keberkahan jika disikapi dengan keimanan dan kesungguhan.

“Keterbatasan jangan dijadikan beban. Jadikan ini sebagai keberkahan dari Allah SWT. Allah Maha Adil dan Maha Penyayang. Ada hikmah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya,” katanya.

Pesan itu terasa relevan di tengah masyarakat yang masih sering memandang disabilitas dari sisi kekurangan semata. Padahal, banyak penyandang disabilitas yang mampu menunjukkan prestasi luar biasa ketika diberi kesempatan dan ruang untuk berkembang.

Masjid Al Marifah Tasikmalaya 3

Kisah Ibnu juga menunjukkan bagaimana lingkungan yang inklusif mampu menumbuhkan kepercayaan diri penyandang disabilitas.

Masjid Al Ma’rifah tidak hanya menjadi tempat ibadah. Masjid itu menjadi ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang pembuktian bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama untuk berkontribusi.

Di sana, Ibnu tidak dipandang dari apa yang tidak ia miliki, tetapi dihargai karena kemampuan dan dedikasinya untuk terus belajar.

Di tengah masyarakat yang kerap mengukur seseorang dari kesempurnaan fisik, Masjid Al Ma’rifah justru menunjukkan makna kesetaraan yang sesungguhnya: bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh kondisi tubuhnya, melainkan oleh ketulusan hati dan manfaat yang diberikannya kepada sesama.

Menjelang pukul 11.00 WIB, lantunan Al-Qur’an dari mikrofon masjid perlahan berakhir. Jamaah mulai berdatangan, memenuhi saf demi saf.

Ibnu meletakkan mikrofon yang sejak tadi digenggamnya. Wajahnya tampak tenang. Mungkin ia tidak dapat melihat jamaah yang tersentuh oleh suaranya, atau tatapan kagum warga yang mendengarkan bacaannya.

Namun sesungguhnya, ada cahaya yang jauh lebih terang daripada penglihatan mata: cahaya yang lahir dari keteguhan hati.

Dari keyakinan bahwa setiap manusia memiliki jalan masing-masing untuk memberi manfaat.

Di Kampung Ciwaas, suara itu terus bergema setiap Jumat. Suara seorang remaja tunanetra yang mengajarkan kepada banyak orang bahwa keterbatasan bukanlah akhir perjalanan.

Justru dari keterbatasan itulah, terkadang lahir cahaya yang mampu menerangi banyak hati. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Harniwan Obech
PenulisHarniwan ObechSarjana Administrasi Negara, STIA YPPT Priatim, (Angkatan tahun 1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 18-04-2021, Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia