Dulu Driver Online, Kini Burhanuddin Raup Ratusan Juta Rupiah per Bulan dari TikTok Affiliate
Kini omzet Burhanuddin stabil di kisaran Rp170 juta hingga Rp200 juta setiap bulan.
MALANG – Jalan hidup Burhanuddin tidak selalu mulus. Sebelum dikenal sebagai afiliator TikTok dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan, pemuda asal Malang itu pernah menghabiskan hari-harinya di jalan sebagai pengemudi ojek online demi mempertahankan kuliah sekaligus membantu perekonomian keluarga.
Di balik kesuksesannya hari ini, tersimpan kisah tentang perjuangan, kegagalan, dan keberanian mengambil peluang di era ekonomi digital.
Burhanuddin bercerita, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan sebenarnya terkendala kondisi ekonomi keluarga. Meski orang tuanya tetap memaksakan agar dirinya bisa kuliah, ia justru merasa tidak ingin menjadi beban bagi keluarga.
"Orang tua ingin saya kuliah, tetapi kondisi ekonomi memang berat. Saya berpikir bagaimana caranya tetap kuliah tanpa membebani mereka. Akhirnya saya memutuskan bekerja sendiri untuk membantu biaya kuliah sekaligus kebutuhan keluarga," ujarnya, Minggu (5/7/2026) kepada TIMES Indonesia.
Keputusan itu membawanya menjadi pengemudi Shopee Food dan Gojek. Selama hampir dua tahun, Burhanudin membagi waktu antara kuliah dan bekerja di jalanan.
Setiap hari ia mengantar pesanan pelanggan demi mendapatkan penghasilan yang digunakan untuk membayar biaya kuliah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga membantu ekonomi orang tua.
Memasuki semester empat, Burhanuddin melihat peluang lain di dunia digital. Ia mencoba membangun toko online di platform Lazada dan menekuni bisnis tersebut selama kurang lebih dua tahun.
Namun, perjalanan usahanya tidak berjalan sesuai harapan. Modal yang telah dikumpulkannya habis. Usaha yang dibangun perlahan mengalami kemunduran hingga akhirnya bangkrut.
"Modal saya habis. Saat itu saya sadar kalau membangun toko online membutuhkan modal yang tidak sedikit, sedangkan kondisi saya sudah tidak memungkinkan lagi," katanya.
Di tengah keterpurukan itu, Burhanuddin teringat pernah mempelajari program TikTok Affiliate. Ia kemudian memutuskan meninggalkan model bisnis lama dan mulai mendalami dunia afiliasi secara serius.
Berbeda dengan bisnis konvensional, TikTok Affiliate menurutnya jauh lebih ramah bagi pemula karena tidak membutuhkan stok barang maupun modal besar.
Ia mulai belajar membaca algoritma TikTok, menganalisis produk yang memiliki potensi tinggi, memahami pola konten yang disukai audiens, hingga mengasah kemampuan berbicara di depan kamera.
"Setelah benar-benar memahami cara kerja TikTok Affiliate, saya mulai menemukan polanya. Saya belajar menganalisis produk, konten video, sampai karakter akun sendiri," ujarnya.
Hasilnya mulai terlihat dalam waktu relatif singkat. Pada bulan pertama menjadi afiliator TikTok, Burhanudin berhasil membukukan omzet sekitar Rp120 juta. Sebulan kemudian angkanya melonjak menjadi Rp170 juta.
Meski sempat turun menjadi sekitar Rp135 juta pada bulan berikutnya, kini omzet usahanya relatif stabil di kisaran Rp170 juta hingga Rp200 juta setiap bulan.
Menurutnya, model bisnis digital memberikan banyak keuntungan dibanding usaha yang pernah dijalaninya sebelumnya.
Selain tidak membutuhkan modal besar, biaya operasional juga jauh lebih rendah sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih optimal.
"Saya merasa TikTok Affiliate lebih cocok. Modalnya kecil bahkan bisa tanpa modal. Operasionalnya juga tidak banyak sehingga lebih efisien," katanya.
Perubahan ekonomi yang dirasakan keluarganya pun cukup signifikan. Burhanudin mengaku kini mampu membantu orang tuanya membayar cicilan bank yang sebelumnya digunakan sebagai modal usaha konvensional.
Baginya, pencapaian tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri karena perjuangannya selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
Tak hanya dari sisi ekonomi, ia juga menikmati fleksibilitas waktu yang ditawarkan profesi sebagai kreator afiliasi. Kini ia memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga tanpa harus terikat jam kerja yang kaku.
"Saya lebih menikmati pekerjaan ini karena waktunya fleksibel. Bisa bekerja dari mana saja dan punya lebih banyak waktu bersama keluarga," tuturnya.
Saat ini Burhanuddin fokus memasarkan berbagai produk melalui TikTok Shop. Awalnya ia berkonsentrasi pada produk helm, namun kini mulai memperluas pasar ke kategori fesyen dan perlengkapan rumah tangga.
Bagi anak muda yang ingin mengikuti jejaknya, Burhanuddin menilai keberhasilan di TikTok Affiliate tidak datang secara instan. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci utama.
Selain rutin mengunggah konten dan melakukan siaran langsung, seorang afiliator juga harus mampu mengevaluasi performa akunnya, memahami perilaku audiens, memilih produk yang tepat, serta terus mengasah kemampuan komunikasi.
"Harus punya kemauan yang kuat. Konsisten upload konten, rutin live streaming, belajar membaca performa akun sendiri, memilih produk yang tepat, dan terus meningkatkan kemampuan public speaking," jelasnya.
Burhanuddin optimistis masa depan bisnis digital akan terus berkembang. Karena itu, ia tidak ingin berhenti pada pencapaian pribadi.
Ke depan, ia bercita-cita membangun sebuah studio kreator di Kota Malang sebagai tempat belajar sekaligus ruang pemberdayaan bagi anak-anak muda yang ingin sukses melalui TikTok Affiliate tanpa harus memiliki modal besar.
"Saya ingin memiliki studio yang bisa menjadi tempat belajar bersama. Harapannya bisa membantu lebih banyak anak muda dan siapa saja yang ingin sukses melalui TikTok Affiliate tanpa terkendala modal," pungkasnya.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


