Kisah Lay Tekim 40 Tahun Urus Jenazah: Saya Mengantar Mereka Pulang dengan Hormat
Empat dekade Lay Tekim merias jenazah, menjadikan pemulasaraan lintas agama sebagai panggilan hidup, bentuk penghormatan terakhir, dan cara mengantar manusia pulang dengan layak.
BANYUMAS – Tak banyak orang yang sanggup menjalani profesi yang selalu bersinggungan dengan kematian. Namun bagi Lay Tekim alias Asmani Tiawabangi , merias jenazah justru menjadi panggilan hidup yang telah ia jalani selama kurang lebih 40 tahun.
Perempuan yang akrab dipanggil Asmani itu mengaku sudah tertarik dengan dunia pemulasaraan jenazah sejak masih kecil. Ketertarikan itu tumbuh ketika ia sering melihat proses pemakaman dan tidak pernah merasa takut melihat orang meninggal.
"Sejak kecil saya memang suka. Saya tidak pernah takut melihat mayat dalam kondisi apa pun, baik korban kecelakaan, pembunuhan, maupun sakit," tuturnya saat ditemui di Banyumas, Senin (6/7/2026).
Menurut dia, kemampuan tersebut bukan sesuatu yang dipelajari secara khusus, melainkan muncul dari rasa ketertarikan dan panggilan hati. Hingga kini ia masih aktif menerima panggilan untuk merias jenazah dari berbagai rumah sakit maupun keluarga yang membutuhkan.
Selama empat dekade bekerja, Asmani telah menangani ribuan jenazah dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Ia mengatakan setiap jenazah diperlakukan sesuai kepercayaan dan permintaan keluarga.
"Kalau keluarga ingin dipakaikan jarik ya pakai jarik, kalau ingin memakai gaun juga bisa. Semua mengikuti adat dan keinginan keluarga," jelasnya.
Tak hanya melayani umat beragama tertentu, Lay Tekim juga terbiasa menangani prosesi pemulasaraan bagi umat Kristen, Katolik, Konghucu hingga masyarakat dengan tradisi Tionghoa.
Dia menjelaskan, pada tradisi Tionghoa zaman dahulu terdapat berbagai simbol sesaji, seperti ayam, bandeng, dan daging babi yang masing-masing memiliki makna tentang anak, ibu, dan ayah. Namun kini, menurutnya, banyak tata cara yang telah disederhanakan dan lebih menekankan pada doa serta penghormatan kepada almarhum.
Di balik pekerjaannya, Asmani menyimpan banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satunya terjadi sekitar 20 tahun lalu saat merias seorang nenek yang air matanya terus mengalir meski telah meninggal dunia.
Belakangan diketahui, kaki jenazah tersebut masih berada di rumah sakit karena baru saja diamputasi. Setelah anggota keluarga mengambil bagian tubuh tersebut dan disatukan kembali dengan jenazah sebelum dimakamkan, air mata yang terus keluar pun berhenti.
Pengalaman lain terjadi ketika darah tiba-tiba keluar dari wajah jenazah setelah cucu yang sangat dirindukan datang memberikan penghormatan terakhir.
Meski sering menghadapi kejadian yang sulit dijelaskan secara medis maupun spiritual, Asmani mengaku tidak pernah merasa diganggu.
"Saya tidak pernah dihantui. Saya merasa justru menjadi mitra mereka. Tugas saya hanya membantu mengantar mereka pulang dengan baik," katanya.
Dalam pekerjaannya, tantangan terbesar justru berasal dari kondisi fisik jenazah. Korban kecelakaan dengan wajah rusak atau pasien yang mengalami perubahan warna kulit akibat penyakit menjadi tantangan tersendiri saat proses rias.
Karena itu, ia harus menentukan teknik dan jenis kosmetik yang sesuai agar wajah almarhum tetap terlihat tenang saat disemayamkan.
Kini, profesi perias jenazah mulai banyak diminati orang lain. Menurut Asmani, sebagian belajar karena kebutuhan ekonomi. Namun ia menegaskan bahwa pekerjaan ini tidak cukup hanya bermodal keberanian.
"Harus punya hati. Kita membantu orang yang sedang berduka. Ini bukan sekadar merias wajah, tetapi bentuk penghormatan terakhir kepada seseorang," ujarnya.
Bagi Asmani, setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan selama puluhan tahun menjalani profesi yang jarang diminati banyak orang.
"Saya percaya tubuh ini hanya titipan. Roh suatu saat akan kembali kepada Allah. Saya hanya membantu mereka menjalani perjalanan terakhir dengan layak dan penuh penghormatan," pungkasnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


