Menyimak Suara Hanifa Tuhu Styaningsih dalam Menggagas Modest Fashion Berkarakter
Mahasiswi UINSU asal Medan yang biasa disapa Hani di lingkungan kampus atau Tya ini, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus berkarya.
MEDAN – Langkah semangat Hanifa Tuhu Styaningsih, seorang mahasiswi berusia 20 tahun asal Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, terus mencuri perhatian publik.
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) yang biasa disapa Hani di lingkungan kampus atau Tya ini, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus berkarya.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, ia berhasil membagi waktunya dengan cermat antara dunia akademik, hobi fashion styling, public speaking, hingga membaca.
Sebelum menyabet gelar sebagai Putri Favorite Hijabfluencer Sumatera Utara 2026 sekaligus menembus jajaran Top 5 Putri Hijabfluencer Sumatera Utara 2026, ia telah mengukir sederet prestasi bergengsi.
Ia tercatat pernah meraih 2nd Runner Up Miss Modeling Indonesia 2024 serta 3rd Miss Modeling Star 2025.
Tidak hanya anggun di atas panggung catwalk, dia juga aktif sebagai model kolaborasi fashion, content creator, dan dipercaya menjadi brand ambassador LA De Parfume.
Perjalanan karirnya dibentuk dari konsistensi untuk terus memoles potensi diri. Ia getol mengikuti berbagai ajang pelatihan pengembangan diri, mulai dari public speaking, personal branding, hingga kepemimpinan.
Seluruh pengalaman tersebut ia salurkan secara nyata dalam berbagai kegiatan sosial serta edukasi, baik di lingkungan civitas akademika UINSU maupun masyarakat luas.
Dalam hal ini aktivitas kesehariannya sebagai kreator konten dan model dapat disimak secara langsung melalui akun media sosial Instagram resminya di @hanifatyaa_.
Usung Advokasi Hijab Berdaya di Tengah Arus Modernisasi
Melalui platform yang dimilikinya tersebut, Hanifa menginisiasi sebuah gerakan sosial bertajuk Hijab Berdaya: Fashion Berkarakter untuk Generasi Masa Kini.
Diketahui advokasi ini lahir dari keprihatinannya terhadap fenomena anak muda yang kerap menjadikan media sosial sebagai acuan tunggal dalam berpakaian tanpa memikirkan identitas.
"Saya tergerak untuk mendidik generasi muda agar memandang busana muslim bukan sebatas gaya hidup, melainkan sarana membangun karakter dan kepercayaan diri," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (22/7/2026).
Gerakan ini mencakup pembuatan konten edukasi modest fashion yang santun di media sosial, sajian inspirasi padu padan busana terjangkau, hingga pengangkatan karya desainer dan UMKM fashion lokal Sumatera Utara.
Dia juga aktif menjalin kolaborasi dengan sekolah, kampus, dan komunitas untuk memberikan pelatihan seputar etika berpenampilan, personal branding, serta pentingnya mencintai produk dalam negeri.
"Saya berharap fashion dapat menjadi media untuk membangun karakter, meningkatkan rasa percaya diri, serta membuka peluang bagi generasi muda untuk berkarya dan berprestasi tanpa meninggalkan identitas sebagai muslimah yang berakhlak," tuturnya.
Menurut Hanifa saat menjelaskan arah gerakannya, bahwa pakaian yang baik adalah tentunya yang mampu mencerminkan nilai kesopanan, budaya, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Jawab Tantangan Industri Modest Fashion Melalui Sinergi
Potensi industri modest fashion Indonesia yang kian dilirik dunia menjadi peluang emas yang ingin dimanfaatkan oleh Hanifa. Namun, ia menyadari bahwa tantangan di lapangan tidak kalah besar.
Maraknya tren paparan media sosial kerap mengikis pemahaman pemuda akan nilai hakiki dari berbusana. Selain itu, persaingan industri yang ketat menuntut tingkat kreativitas, konsistensi, dan inovasi yang tak boleh berhenti.
Meski demikian dukungan penuh dari kedua orang tua, rekan-rekan kuliah, hingga pihak akademisi menjadi bahan bakar utamanya untuk terus melangkah. Hanifa mengajak generasi muda untuk terus menginspirasi lewat kebaikan dan karya nyata.
Ia meyakini bahwa setiap hambatan dapat diubah menjadi peluang berharga apabila dihadapi dengan sikap rendah hati dan semangat belajar.
Sinergi dengan pelaku industri kreatif dan pemerintah daerah diharapkan dapat terus memperluas jangkauan edukasi yang ia usung.
"Mari bersama-sama menjadi generasi yang cerdas dalam memilih tren. Tidak semua yang viral harus kita ikuti. Pilihlah gaya berpakaian yang sesuai dengan kepribadian, tetap menjaga nilai kesopanan, dan mampu mencerminkan jati diri kita," imbuhnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


