Jejak Politik Gus Yahya di Rembang: Pernah Aktif di Parpol sebelum Memilih Menimba Ilmu di Makkah
Sebelum memimpin PBNU, Gus Yahya pernah aktif sebagai Sekretaris DPC PPP Rembang. Ia kemudian meninggalkan politik lokal untuk memperdalam ilmu agama di Makkah selama 16 bulan.
JAKATA – Perjalanan hidup Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya tidak lepas dari pengalaman politik lokal sebelum akhirnya dikenal sebagai ulama.
Dalam buku Biografi KH Yahya Cholil Staquf: Derap Langkah dan Gagasan karya Septa Dinata (LKiS, 2022), diceritakan bagaimana ulama kelahiran 16 Februari 1966 itu pernah aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rembang sebelum memilih menetap di Makkah untuk memperdalam ilmu agama.
Sebelum dikenal sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya pernah meniti kiprah di dunia politik lokal di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Namun, perjalanan tersebut tidak berlangsung lama karena ia memilih meninggalkan politik praktis untuk memperdalam ilmu agama di Makkah.
Situasi itu merupakan dampak kebijakan fusi partai pada masa Orde Baru yang menggabungkan sejumlah partai Islam ke dalam PPP.
Lingkungan keluarga Gus Yahya juga tidak terlepas dari aktivitas politik tersebut. Ayahnya, KH Cholil Bisri, tercatat sebagai pengurus PPP mulai tingkat kabupaten hingga pusat, serta pernah menjadi anggota DPRD dan DPR RI dari partai berlambang Ka'bah itu.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Gus Yahya kembali ke Rembang dan dipercaya menjabat sebagai Sekretaris DPC PPP Rembang.
Posisi tersebut memberinya ruang untuk menerapkan berbagai gagasan yang diperoleh selama menempuh pendidikan. Dalam buku itu disebutkan, pengaruh Gus Yahya di internal partai bahkan dinilai kerap melebihi ketua DPC karena latar belakangnya sebagai putra ulama yang disegani.
Dengan bekal ilmu sosial dari UGM, Gus Yahya mendorong penguatan organisasi hingga tingkat ranting. Kepengurusan PPP di berbagai tingkatan menjadi lebih aktif melalui beragam program dan kegiatan untuk memperkuat konsolidasi partai di tengah masyarakat.
Meski demikian, Gus Yahya tidak berniat membangun karier jangka panjang di politik lokal. Ia akhirnya memilih mengakhiri kiprahnya di PPP Rembang.
Pada 1996, KH Cholil Bisri mengajak putranya menunaikan ibadah haji. Saat itu, Gus Yahya sebenarnya telah diminta KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) datang ke Jakarta. Namun, sang ayah memilih membawanya ke Tanah Suci.
Usai menunaikan ibadah haji, KH Cholil Bisri meminta Gus Yahya tetap tinggal di Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Dalam buku tersebut, Gus Yahya mengenang pesan ayahnya, "Kamu tetap tinggal di sini, supaya minum air zamzam sebanyak-banyaknya."
Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan intelektual Gus Yahya. Ia menetap di Makkah selama sekitar 16 bulan untuk belajar kepada sejumlah ulama terkemuka. Fase tersebut kemudian menjadi fondasi penting yang membentuk pemikiran, kepemimpinan, dan kiprahnya hingga dipercaya memimpin PBNU. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


