Tekno

Google Ditinggal Godfather AI-nya

Selasa, 02 Mei 2023 - 15:00 | 61.00k
Geoffrey Hinton mengingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat menyebabkan kerusakan serius di dunia.(FOTO: The New York Times) 
Geoffrey Hinton mengingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat menyebabkan kerusakan serius di dunia.(FOTO: The New York Times) 

TIMESINDONESIA, JAKARTAGoogle ditinggal godfather AI-nya, Geoffrey Hinton, 75, yang berhenti dari pekerjaannya itu dengan memperingatkan bahwa kecerdasan buatan bisa menyebabkan kerusakan serius di dunia.

Geoffrey Hinton, seperti dilansir The New York Times, meninggalkan Google agar dia bisa dengan bebas menyampaikan kekhawatirannya itu.

Selama setengah abad atau 50 tahun, Geoffrey Hinton memupuk teknologi di jantung chatbot seperti ChatGPT. Sekarang dia khawatir itu akan menyebabkan kerusakan serius.

Geoffrey Hinton adalah pelopor kecerdasan buatan.

Pada tahun 2012, Geoffrey Hinton dan dua mahasiswa pascasarjananya di University of Toronto menciptakan teknologi yang menjadi landasan intelektual untuk sistem AI yang diyakini oleh perusahaan terbesar di industri teknologi sebagai kunci masa depan mereka.

Namun, Senin, kemarin Geoffrey Hinton secara resmi keluar karena banyak pengritik,  bahwa perusahaan-perusahaan itu   berlomba menuju bahaya dengan kampanye agresif mereka untuk menciptakan produk berdasarkan kecerdasan buatan generatif, teknologi yang menggerakkan chatbot populer seperti ChatGPT.

Geoffrey Hinton mengatakan, dia telah berhenti dari pekerjaannya di Google itu dengan harapan bisa bebas berbicara tentang risiko AI bagian dari dirinya. Kini dia menyatakan menyesali pekerjaan itu seumur hidupnya.

"Saya menghibur diri dengan alasan normal: Jika saya tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya," kata Geoffrey Hinton selama wawancara panjang minggu lalu di ruang makan rumahnya di Toronto, tidak jauh dari tempat dia dan murid-muridnya membuat terobosan.

Perjalanan Geoffrey Hinton dari pelopor AI menjadi doomsayer menandai momen luar biasa bagi industri teknologi yang mungkin merupakan titik belok paling penting dalam beberapa dekade.

Para pemimpin industri percaya bahwa sistem AI baru bisa sama pentingnya dengan pengenalan browser web pada awal 1990-an dan bisa menyebabkan terobosan di berbagai bidang mulai dari penelitian obat hingga pendidikan.

Tapi menggerogoti banyak orang dalam industri adalah ketakutan bahwa mereka melepaskan sesuatu yang berbahaya ke alam liar.

AI generatif sudah bisa menjadi alat untuk informasi yang salah. Segera, itu bisa menjadi risiko pekerjaan. Di suatu tempat di masa depan, kata orang yang paling mengkhawatirkan teknologi, ini bisa menjadi risiko bagi umat manusia. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES